Tuesday, 18 October 2016

SYARAT LOKASI DAN TEMPAT PEMELIHARAAN CACING TANAH


Agar pembudidayaan berjalan dengan lancar, terlebih dahulu kita harus mempersiapkan lokasi untuk membudidayakan cacing. Adapun lokasi tersebut dapat di sembarang tempat asalkan tidak langsung terkena curahan air hujan, tidak terkena sinar matahari langsung, dan mudah terjangkau.

1.     Wadah Pemeliharaan
Berdasarkan pengalaman, peletakan wadah tempat budidaya bervariasi antara satu peternak dengan peternak lainnya. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut.

a.     Bak semen
Ada beberapa petani yang meletakkan tempat pemeliharaan di bak semen. Mereka membuat bak tersebut dengan menggali tanah berbentuk segi empat. Kemudian, sisi-sisi bak tersebut disemen agar cacing tidak kabur ke mana-mana.  Ke dalam lubang itu dimasukkan media untuk memelihara cacing. Model pemeliharaan ini memerlukan lahan relatip luas dan tidak bisa dilakukan di sembarang tempat.












Gambar Bak semen di dalam tanah

b.     Kotak pemeliharaan yang disusun di rak












Gambar Kotak-kotak yang diletakkan di rak

Pemeliharaan cacing tanah dalam kotak yang disusun pada rak bertingkat adalah cara yang sangat praktis dan hemat tempat. Selain menghemat tempat, pemeliharaan dalam kotak yang diletakkan di rak-rak mudah dipantau. Kemudian, pemanenannyapun mudah dilakukan.
Untuk memelihara cacing berbagai wadah dapat digunakan. Tempat pemeliharaan beragam: kotak kayu, besek,  dan wadah plastik.

1)     Kotak kayu
Kotak kayu dapat dibuat sendiri atau dapat pula memanfaatkan peti kemasan buah. Peti kayu bekas kemasan buah atau sayuran yang sering dijumpai di pasarpun bisa dipakai. Peti dibuka bagian atasnya, kemudian diberi alas karung goni. Alas ini tidak hanya menutupi dasar, tetapi juga keempat sisinya. Tidak ada standar untuk ukuran kotak. Yang penting kotak itu tidak mengandung bahan beracun, murah, mudah diperoleh,  dan kapasitas tampungnya memadai. Sebagai acuan, kotak 90 cm x 90 cm x 30 cm x 15 cm menampung 250 gram bibit.












Gambar Kotak kayu bekas buah
2)     Besek
Besek adalah sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Biasanya, besek digunakan untuk mengemas makanan. Besek dapat digunakan mengingat wadah tersebut memenuhi syarat untuk digunakan.








Gambar Besek

3)     wadah plastik
Wadah plastik juga baik digunakan sebagai wadah untuk membudidayakan cacing tanah. Selain memenuhi syarat, wadah plastik bisa kita dapatkan dengan  berbagai ukuran. Bahkan, wadah plastik tahan lama. Banyak peternak cacing yang menggunakan wadah ini.









Gambar Wadah plastik

2.     Syarat Media tempat hidup cacing
Di alam, cacing hidup di tanah. Selain tempat hidup tanah tersebut juga merupakan pakan cacing. Namun, dalam membudidayakan cacing, media yang diberikan semakin baik semakin pesat pertumbuhan dan perkembangbiakannya.
Dalam membudidayakan cacing tanah, jenis media sebagai tempat hidup sekaligus pakan cacing tergantung bahan yang tersedia. Contoh media cacing itu adalah sebagai berikut.
Serbuk gergaji, sampah organik, daun-daunan, dan rumput, serutan kayu, sekam, dedak padi, eceng gondok, ampas singkong, buah-buahan busuk, sisa-sisa sayuran, daun pisang kering adalah beberapa contoh bahan media untuk beternak cacing.
Media yang dipakai dapat pula berasal dari kompos hasil pertanian. Terbuka pula kemungkinan mencampur kompos dengan pupuk kandang dengan perbandingan 70% : 30% untuk produksi kokon: perbandingan 50% : 50% untuk pembesaran. Jarang sekali peternak yang memelihara cacing dengan media 100% kompos atau 100% pupuk kandang. Umumnya, mereka mencampur kedua jenis itu, mengomposkannya bersama-sama, dan langsung memakainnya setelah memenuhi syarat.
 Pada prinsipnya, media itu harus mengandung bahan organik tinggi. Selain itu, bahan tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.

a.     Mampu menahan air
Media hidup cacing harus mampu menahan air. Ini sangat berguna saat pemeliharaan. Dengan demikian, saat memeliharanya kita tidak perlu sering menyiramnya. Kita tahu bahwa cacing sangat suka tinggal di tempat yang lembap. Jika tinggal di tempat yang kering, cacing tersebut akan mengeluarkan lendir dari kulitnya. Dengan demikian, tubuhnya akan selalu lembap.
Selain untuk mempertahankan kelembapan tubuhnya, kelembapan media sangat dibutuhkan agar cacing tanah dapat melakukan proses pernapasannya dengan baik.

b.     Tidak beracun
Media yang digunakan untuk setiap pengembangbiakan makhluk hidup tentunya diharapkan tidak beracun. Gejala media yang beracun pada pembudidayaan cacing tanah terlihat apabila cacing tersebut resah, yaitu, mereka bergelinjang-gelinjang berlomba-lomba untuk keluar dari media itu.
Salah satu contoh penyebab terjadinya tercemarnya racun pada media adalah dari penyiraman air. Mungkin saja air tersebut mengandung sabun. Air sabun merupakan racun bagi cacing tanah.

c.     Mudah terurai
Cacing memang pemakan bahan organik, tetapi mereka tidak akan menyantap makanan yang masih keras atau yang terlalu besar ukurannya. Mereka hanya mengkonsumsi pakan yang sudah lunak melalui proses pembusukan alami.  Dengan persyaratan itu, media atau pakan untuk cacing perlu diberi perlakuan sebelum dipakai.
Untuk media dari kotoran ternak, simpan kotoran tersebut selama 2 hingga 3 minggu di tong tertutup. Segala macam kotoran ternak bisa dipakai, kecuali kotoran anjing, kucing, dan kuda. Para peternak di sini banyak memakai kotoran kuda lantaran memiliki efek bagus bagi cacing. Namun, di luar negeri, kotoran kuda dihindari sebab ia mungkin saja mengandung cacing lain atau antibiotik yang berbahaya bagi cacing. Kotoran ketiga hewan itu bisa saja mengandung bakteri staphylococcus dan steptococcus.
Perlakuan lebih rumit  diperlukan bila bahan baku media sayuran atau sisa-sisa hasil pertanian. Ukuran bahan harus kecil. Karena itu, sayuran bersosok besar perlu dicacah. Sisa-sisa hasil pertanian mungkin saja tercemar residu pestisida. Supaya aman, sebaiknya bahan-bahan tersebut dicuci di air mengalir dahulu sebelum dicacah dan dicampur dengan yang lain. Pencucian sekaligus menaikkan kelembapan mikro. Kelembapan ini dibutuhkan dalam proses dekomposisi menjadi bahan yang mudah disantap cacing.
Setelah seluruh bahan terkumpul, dicacah, dan dicuci, campur dan tumpukkan di suatu tempat. Tinggi tumpukan 1 meter. Tutup bagian atas dengan karung basah, tetapi biarkan keempat sisi terbuka. Seandainya tidak mencapai 1 meter, sebaikya masukkan saja bahan ke karung. Pilih bahan yang masing memungkinkan udara keluar masuk, misalnya karung goni atau karung plastik. Dekomposisi berlangusng selama 2 minggu. Selama itu,yang perlu dilakukan  ialah membalik- balik tumpukan sehingga, proses pematangan lebih cepat.

d.     Mengandung Oksigen
Cacing termasuk hewan yang membutuhkan oksigen cukup untuk kehidupannya. Kulit tubuh menjadi tempat masuknya oksigen dan keluarnya karbonmonoksida.

e.     Suhu media
Mereka aktif sekali pada suhu ruangan, sekitar 220C hingga 28 0C. Suhu yang terlalu tinggi dapat menimbulkan kekeringan, sehingga dapat mengganggu aktivitas dan pertumbuhan cacing. Bahkan, kemungkinan cacing akan mati.

f.     Keasaman
Keasaman adalah banyaknya ion hidrogen dalam media. Kadar ion hidrogen yang terlalu tinggi dapat menyebabkan media menjadi asam.Sebaliknya, jika konsentrasi hidrogen terlalu rendah, media akan menjadi basa.
Setelah terurai, bahan siap dipakai untuk memelihara cacing. Keasaman bahan ideal untuk media cacing, antara lain: pH 6,5 hingga 7,5. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing dapat bekerja dengan baik dalam melakukan proses pembusukan.

g.     Kelembapan
Kelembapan/Kadar air yang disarankan untuk media hidup cacing berkisar antara 40% - 60%. Jika kadar air, terlalu tinggi, hal ini akan menimbulkan bau yang tidak sedap.

PEMILIHAN INDUK BUDIDAYA CACING TANAH


Bagi Anda yang baru memulai dalam membudidayakan cacing tanah, Induk sebaiknya diperoleh dari peternak lainnya.

1.     Membeli dari Peternak
Cacing tanah (Lubricus rubellus) bukanlah cacing lokal. Cacing ini merupakan cacing impor. Jadi, akan sulit bagi kita untuk menemukannya di alam.
Oleh karena itu, untuk memperoleh bibit/calon induk, sebaiknya kita dapat kan dari peternak lain yang telah terlebih dahulu membudidayakannya. Dengan demikian, selain mendapatkan kepastian akan jenis yang dimaksud, kita dapat memilih benih yang baik.
Dalam membeli cacing dari perternak, ada hal lain yang harus diperhatikan. Hal tersebut adalah wadah pengangkutan. Ini mengigat kemungkinan petenak tersebut letaknya jauh dari rumah kita. Wadah harus benar-benar dipersiapkan guna menghindari kerugian. Jangan sampai, cacing yang kita bawa mati diperjalanan
Pada prinsifnya, wadah yang digunakan untuk membawa bibit, sama dengan wadah yang digunakan untuk membudidayakannya. Namun, wadah yang digunakan untuk membawa cacing hendaklah mudah untuk dibawa. Untuk itu,  ada wadah yang mudah digunakan, yaitu karung. Karung digunakan jika kita hendak membawa bibit dalam jumlah yang banyak.
Sebelum digunakan, karung sebaiknya dibasahi terlebih dahulu. Karung yang lembap ini untuk menjaga agar suhu dalam karung tetap terjaga.
Adapun cara mempersiapkan wadah untuk membawa bibit itu adalah sebagai berikut.
a.     Siapkan wadah untuk membawa cacing.
b.     Berilah sedikit media ke dalam wadah tersebut. Media yang dimaksud adalah tempat hidup cacing.
c.     Sebelum cacing dimasukkan, timbanglah wadah yang telah diisi media tersebut. Catatlah. Penimbangan wadah dilakukan untuk menentukan berat bersih cacing yang akan dibeli.
d.     Masukkan cacing ke dalam media tersebut dengan berat yang telah ditentukan.
Para peternak biasanya menjual bibit perkilogram. Untuk itu, dalam menentukan jumlah  bibit yang akan dibeli sebaiknya ditentukan berdasarkan kebutuhan dalam pemeliharaan.

2.     Pemilihan Induk
Untuk membudidayakan cacing tanah, pemilihan induk perlu dilakukan guna kelancaran dalam proses budidaya. Adapun syarat-syarat induk yang baik adalah sebagai berikut.
a.     Induk cacing harus berumur minimal 3 bulan, tertua 10 bulan. Saat itu, cacing dalam tahap roduktif. Tolak cacing berumur lebih dari 10 bulan lantaran ia sudah tidak terpakai lagi. Di bawah 3 bulan asih bisa dipakai, asal dibesarkan dahulu.
b.     Ciri cacing produktif ialah adanya klitelium. Bagian ini ini mudah terlihat lantaran pada Eisenia foetida, warnannya putih kekuningan, sangat mencolok di tengah-tengah warna merah maron. Apalagi bentuk klitelium ini menonjol, agak benjol dibandingkan bagian tubuh lain.

PENGEMBANGBIAKAN CACING TANAH



A.     PENEBARAN INDUK
Tebarkan induk cacing yang berperan sebagai bibit  ke media siap pakai. Kesesuaian media dengan cacing bisa dicek melalui cara sederhana. Tebarkan beberapa ekor cacing. Perhatikan, apakah mereka masuk ke dalam media dan tidak keluar lagi. Jika ya, berarti media sudah aman bagi sang cacing. Kalu tidak, proses lagi media tersebut sampai cacing betah hidup di dalamnya. Jumlah cacing yang ditebarkan tergantung volume media. Satu kilo cacing membutuhkan 20 hingga 40 liter media.

B.     PEMELIHARAAN
Selama pemeliharaan sedikit sekali yang harus dilakukan peternak. perawatan rutin ialah mengaduk-aduk media. Cacing membutuhkan banyak oksigen untuk hidup. Oksegen masuk melalui kulit dan keluar dari jalan yang sama dalam bentuk karbon dioksida. Seandainya kandungan oksigen di media kurang, cacing berusaha mencari ke permukaan. Suatu hal yang dihindari oleh mereka karena cacing tidak suka tempat terang. Itulah sebabnya penggarukan media secara rutin perlu dilakukan. Frekuensi penggaruan tergantung situasi. Tidak perlu setiap hari, tetapi minimal 2 hari sekali.

C.     PEMBERIAN PAKAN
Memberi pakan suatu kewajiban. Jumlahnya tergantung populasi cacing. Sebagai patokan, seekor cacing mengkonsumsi pakan setengah dari bobot tubuhnya. Ini jumlah maksimal. Jumlah konsumsinya turun jika suhu ruangan tidak ideal bagi cacing. Terlalu banyak memberikan pakan menimbulkan bau tidak sedap terhadap lingkungan sekitar. Biarkan cacing menghabiskan pakan itu dahulu, kemudian tambah lagi jika populasinya bertambah.
Jenis pakan bervariasi,tergantung pengalaman peternak.  produksi kokon, pupuk kandang 30%, dan kompos 70%.
Ada dua cara pemberian. Pertama dengan sistem tugal. Lubangi salah satu bagian media, kemudian masukkan pakan ke dalamnya. Tutup lagi pakan dengan media. Cacing akan menyerbu tempat itu, sehingga cukup tidaknya jumlah pakan dapat dilihat dari satu tempat. Cara kedua dengan menebarkannya tipis-tipis di permukaan media. Tebaran pakan kemudian ditutup bahan tidak tembus cahaya supaya cacing mau merayap ke permukaan media yang sudah gelap gulita.

C.     perkembangbiakan
Cacing bersifat hermaprodit, yaitu pada tubuhnya terdapat dua alat kelamin.Alat kelamin jantan dan betina. Walaupun begitu, seekor cacing tidak dapat membuahi dirinya sendiri. Tetapi hal ini tetap harus dilakukan dua individu.  Dua individu yang sedang melakukan perkawinan akan terlihat saling melekatkan diri. Dengan bantuan seta, sepasang cacing tanah akan semakin kuat melekat. Lalu, kedua cacing itu akan mengeluarkan kelenjar. Kelenjar itu digunakan melindungi sel-sel sperma yang dikeluarkan oleh alat kelamin jantan masing-masing cacing. Setelah itu, sel sperma akan bergerak ke arah belakang dan masuk ke kantung penerima sperma (ovarium). Kantung ini banyak mengandung telur. Akhirnya, telur terbuahi. Setelah kedua cacing itu menerima sperma dan telur-telurnya terbuahi, cacing akan berpisah kembali.












Gambar Perkawinan cacing tanah.

Kemudian, Klitelium pada cacing akan membentuk selubung kokon dan bergerak ke arah mulut. Saat itulah selubung kokon akan bertemu sel telur yang telah dibuahi sel sperma pada lubang saluran sel telur. Akhirnya sel telur akan terselubungi oleh kokon. Lalu, kokon akan bergerak he arah mulut dan keluar dari tubuh cacing tanah. Dari perkawinan tersebut dihasilkan sebuah kokon. Dalam kokon itu terdapat kurang lebih 4 calon cacing.
Reproduksi hewan melata ini demikian pesat. Dalam seminggu seekor cacing memproduksi 2-4 kokon (telur cacing). Dalam waktu 2-3 minggu kokon menetas menjadi calon cacing.

CARA MEMBUAT TEPUNG CACING TANAH UNTUK PAKAN TERNAK

CARA MEMBUAT TEPUNG CACING TANAH

Tepung cacing dapat digunakan sebagai pencampur pakan ternak menggantikan tepung ikan. Hal ini karena tepung cacing pun memiliki kadar protein yang tinggi. Bahkan, kandungan protein tepung cacing lebih besar. Tepung cacing memiliki kandungan protein sebesar 64-76%,sedangkan tepung ikan hanya sebesar 58% saja.
Kelebihan lainnya tepung cacing dari tepung ikan adalah tepung cacing memilii kandungan asam amino yang lengkap, mudah dicerna, tidak mengandung racun, dan berkadar lemak rendah.
Adapun proses pembuatan tepung cacing adalah sebagai berikut.

1.     Alat yang dibutuhkan
1)     tungku perebusan
2)     drum perebusan
3)     alat pengepresan
4)     alat pengeringan
5)    alat pengaduk dari kayu
6)     alat pengilingan tepung
7)     alat pencacah atau golok yang digunakan untuk menghancurkan ikan
8)     ember plastik
9)     kantong plastik untuk mengemas tepung ikan.

2.     Cara membuat tepung cacing
1.     Cacing sebagai bahan baku pembuatan tepung cacing dibersihkan dan dicuci. Kemudian, setelah bersih, dilakukan pencincangan hingga lembut.
2.     Setelah dicincang, bahan baku direbus. Perebusan dilakukan untuk pengikatan daging cacing, sehingga kandungan airnya mudah dilepaskan.
3.     Setelah direbus, bahan baku diangkat dan ditiriskan. Penirisan dilakukan untuk menurunkan kandungan air yang berasal dari air rebusan.
4.     Lalu, setelah ditiriskan, dilakukanlah pengepresan. Pengepresan tidak dilakukan secara maksimal. Maksudnya, kandungan air dalam daging masih tersisa sebanyak 45%. Ini bertujuan agar  air dari ikan yang mengandung vitamin tidak banyak terbuang.
















Gambar Tungku pengasapan dingin dan panas

5.     Penurunan kadar air dari cacing selanjutnya dilakukan dengan pengeringan. Jenis pengeringannyapun dilakukan dengan penjemuran menggunakan panas sinar matahari. Dengan demikian, kandungan air akan menguap dan kandungan vitaminnya tidak terbuang.
6.     Namun, jika tidak ada panas matahari atau cuaca mendung, pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengasapan dingin. Dengan metode ini digunakan tungku pengasapan.
7.     Jika kandungan air pada hancuran cacing tersebut tinggal 10%, hancuran cacing tersebut dapat digiling.
8.     Setelah digiling, dihasilkan tepung cacing. Tepung cacing yang berkualitas tinggi adalah tepung yang butirannya sangat kecil. Oleh karena itu, jika pengilingan tidak maksimal, dapat dilakukan penyaringan dengan mata jaring yang sangat kecil.













Gambar tepung cacing disaring

    Sisanya, berupa hasil gilingan dengan ukuran besar dapat digiling kembali sehingga semua bahan berubah menjadi tepung cacing yang benar-benar halus.
9.     Kini jadilah tepung cacing. Langkah selanjutnya adalah pengemasan. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan pembungkus dari bahan plastik. Bahan plastik dipilih agar tepung cacing tidak terkena cairan dan udara yang lembap. Oleh karena itu, pengemasan diharapkan benar-benar rapi tanpa ada bagian yang bocor. Jika ada bagian yang bocor, udara lembap dapat memasuki tepung cacing. Akibatnya, kualitas tepung cacing akan menurun. Terjadilah ketengikan dan penggumpalan tepung. Untuk itu dalam mengemas tepung cacing menggunakan plastik. perapatan mulut kantong plastik itu sebaiknya digunakan alat perekat plastik.
















Gambar Tepung cacing dimasukkan dalam plastik dan direkat menggunakan alat perekat plastik.


10.     Kini tepung cacing dapat dipasarkan atau aman disimpan dalam waktu yang cukup lama.
           

JENIS-JENIS CACING TANAH

Jenis Cacing
Ada sekitar 3000 spesies cacing tanah, tetapi yang cocok untuk dipeliharanya hanya setengahnya saja. setiap jenis memilliki fungsi berbeda. Sebagai contoh, kita ingin mengomposkan sampah, pakailah cacing tiger (Eisenia foetida). Cacing ini terkenal rakus sekali, sehingga kemampuan mengomposkan sampah lebih besar dari pada yang lain. Ia jarang ditemukan di tanah yang miskin unsur hara. Sebab, makanan cacing tiger justru bahan-bahan organik yang banyak tersedia di sampah.

1.     Berdasarkan Tempat Hidupnya
Ada tiga golongan besar cacing berdasarkan tempat hidupnya.

a.     Cacing yang hidup di permukaan tanah.
Spesies ini hidup di atas tanah tidak menggali lubang masuk ke kedalaman. Itu sebuah sifat berdasarkan naluri mencari makan. Cacing kelompok ini menyantap bahan-bahan dengan kandungan organik tinggi. Contohnya ialah Lubricus rubbelus dan Eisenia foetida.

b.     Cacing yang hidup di lapisan top soil, 20 cm hingga 30 cm dari permukaan tanah.
Mereka membuat lubang ditanah. Dalam proses pelubangan itu, mereka sekaligus memperbaiki struktur tanah. Peredaran udara di dalam tanah juga meningkat lantaran terbentuknya saluran cacing di dalamnya. Setelah tanah dilewati cacing, beberapa unsur hara yang sebelumnya sulit diserap akan berubah menjadi bentuk lain yang lebih terserap. Karena itu, kehadiran cacing umumnya membuat kondisi tanah menjadi lebih baik.

c.     Cacing yang hidup jauh di dalam tanah.
Spesies ini tinggal di lubang-lubang permanen di kedalaman 3 meter atau lebih. Kadang-kadang mereka merayap ke permukaan tanah untuk mencari makanan, seperti daun. Makanan itu dibawanya ke dalam tanah untuk dikonsumsi. Mereka bermanfaat saat kondisi kebun dipenuhi oleh daun-daun yang gugur. Lubrus terrestris, Aporrectodea longa, dan Octolasion cyaneum contoh cacing yang termasuk golongan ini.
Cacing untuk diternakkan termasuk golongan pertama.  Para peternak menyebutnya Lubricus rubbelus. Sebenarnya ini penamaan yang salah kaprah. Sebab, para peternak itu memelihara cacing berwarna merah maron dengan warna kuning di ekornya. Literatur menyebutkan, cacing berwarna merah maron dan berekor kuning ialah Eisenia Foetida. Kesalahan terjadi lantaran sosok kedua mirip sekali Tubuh Eisenia foetida merah maron, tetapi ekornya tidak kuning.
Untuk mempertahankan hidupnya, kedua spesies ini membutuhkan media berkadar organik tinggi. Sampah, serbuk gergaji, dan jerami ialah beberapa media yang cocok untuk memeliharanya. Mereka tidak akan hidup jika dilepas ke tanah, kecuali tanah tersebut benar-benar kaya akan bahan organik. Jadi, kalau Anda membiarkan cacing-cacing itu bertebaran di tanah, berarti Anda sedang memupuk tanaman dengan tubuh cacing mati.

SIFAT CACING TANAH

Sifat Cacing Tanah
Cacing tanah adalah cacing darat yang tubuhnya bersegmen, tidak berkepala, tidak bermata, dan juga tidak bertelinga. Cacing yang hidupnya di lubang-lubang dalam tanah ini peka terhadap panas, cahaya, dan sentuhan. Makanannya berupa bahan organik yang ada dalam tanah. Habitatnya lingkungan yang lembap dan tersebar di seluruh permukaan bumi, kecuali di daerah yang sangat dingin dan kering.
Tubuh cacing tanah berwarna merah kecoklatan dan tampak seperti terdiri atas dua tabung. Tabung pertama berupa dinding tubuh yang tersusun dari sekitar 50-500 ruas yang hampir sama besar. Tabung ke dua yang dibalut tabung pertama merupakan saluran pencernaan yang dipisahkan dari dinding tubuh oleh sebuah rongga yang disebut coelom. Coelom ini terbagi menjadi kamar-kamar, bernama septa, yang terletak pada setiap segmen.























Struktur tubuh cacing

Pergerakan cacing tanah terjadi karena adanya dua otot-otot khusus, yakni otot sirkuler dan otot longitudinal. Otot sirkuler berfungsi untuk menyusun dan melebarkan badan, sedangkan otot longitudinal untuk memanjang dan memendekkan tubuh. Pergerakan ini diperlancar dengan adanya seta, sejenis rambut dari kitin yang ada di setiap segmen, kecuali segmen pertama dan terakhir.
Cacing tanah bernafas melalui kulit. Hewan ini mengambil oksigen yang ada di antara partikel tanah dan mengeluarkan karbon dioksida melalui kapiler darah pada kulitnya. Pada waktu hujan biasanya cacing tanah berkeliaran di permukaan tanah, karena tempat tinggalnya dipenuhi oleh air. Cacing ini juga memiliki sepasang tabung dengan fungsi sebagai organ ekskresi yang disebut reprida.
Cacing tanah bersifat hermaprodit. Artinya memiliki organ reproduksi jantan (testis) dan betina (ovarium). Meskipun demikian, telur hanya dapat dibuahi oleh sperma dari cacing lain.
Sejak zaman dulu, cacing tanah dikenal sebagai pembajak tanah. Tanah-tanah ini menjadi gembur dan sangat subur. Keadaan dini dimungkinkan karena ketika mencari makan, cacing tanah membuat lubang dalam tanah dan berusaha menembus tanah. Selanjutnya, kotorancacing tanah dikeluarkan ke permukaan tanah. Berkat lubang-lubang dan kegiatan cacing tanah tersebut, tanah menjadi gembur, terjadi pembalikan tanah dan terjadi pertukaran udara di dalam tanah. Diperkirakan dalam waktu 50 tahun, batu-batuan yang menutupi suatu ladang akan tertimbun sampai tidak kelihatan sama sekali oleh kotoran yang dikeluarkan  oleh hewan ini.







Gambar Cacing mengeluarkan kotoran

PELUANG USAHA BUDIDAYA CACING

Pada awal tahun 1999, usaha cacing tanah mulai gencar dilakukan di daerah Jawa Barat, Bali, dan Jakarta. Kemudian, Usaha itu juga diikuti di berbagai daerah lainnya seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Indonesia, cacing tergolong komoditas usaha baru. Wajar saja bila segmentasi pasarnya masih terbatas. Sasaran akhir seperti pordusen kosmetika, farmasi, pabrik pakan, atau pusat pengolahan sampah organik belum terpenuhi.
Dengan demikian, cacing mempunyai prospek yang cerah. Dasarnya, cacing memiliki banyak manfaat. Kadar proteinnya tinggi, yaitu sekitar 72%, sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pakan. Misalnya, pakan ikan, ayam, itik, burung, atau kucing serta anjing. Kemudian, kascing yang merupakan media untuk mengembangbiakkan cacing bisa digunakan untuk mengatasi ketergantungan para petani terhadap pupuk pabrik.
Pemanfaatan cacing belum maksimal.Hal ini karena harganya masih terlalu tinggi. Dengan harga yang tinggi tentu saja tidak dapat menyentuh pengusaha pakan ternak. Kemudian, untuk bahan baku obat-obatan masih jauh dari standar harga yang diinginkan. Begitu pula dengan produsen kosmetik atau farmasi yang diperkirakan bisa menyerap produksi cacing dalam jumlah besar, tak sanggup membeli dengan harga tinggi.
Selain itu, beberapa produsen seperti kosmetik dan farmasi tidak mau terang-terangan membuka pasar. Pasalnya, masyarakat kita belum daat menerima cacing sepenuh hati. Cacing masih dianggap hewan yang menggelikan dan menjijikkan.