Thursday, 6 October 2016

Cara menguji Keasaman dan Ketinggian Tanah yang Cocok Untuk Budidaya Lobster

Cara Menguji Keasaman dan Ketinggian Tanah yang Cocok
Kadar keasaaman dapat diartikan kandungan zat asam yang berada di dalam tanah.
Zat ini dapat menyuburkan ikan atau dapat pula membunuhnya. Oleh sebab itu sebelum kita membuat tambak, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian keasaman tanah.
Kadar keasaman di setiap daerah tidak selalu sama. Keadaan yang demikian ini disebabkan oleh kedaan topografi tanah dan ketinggian tanah yang berbeda-beda. Tanah di daerah pegunungan, biasanya kadar keasamannyaa berada antara 5 sampai 8 [pH = 5-8].
Sedangkan tanah yang berada di dataran rendah cenderung di bawah angka 5 atau di atas angka 7. Untuk itu tanah harus diuji dahulu kadar keasamannya, sebab kadar keasaman tambak yang tidak stabil dapat membuat lobster sulit bernapas.
Tanah yang bersifat asam dapat mempengaruhi kadar keasaman air. Kalau dibiarkan maka kimiawi air yang asam akan bercampur dengan sisa makanan dan kotoran lobster.
Akibatnya air akan berubah sifat menjadi racun bagi lobster.
Biasanya kadar keasaman pada tanah tambak yang baru berbeda dengan tambak lama.
Tambak yang sudah lama dibangun memiliki kadar keasaman yang stabil karena sering dipupuk. Pemupukan ini sangat mempengaruhi derajat keasaman air. Sedangkan tambak yang baru dibuat belum pernah diisi air dan belum pernah memperoleh pupuk sama sekali.
Untuk mengendalikan kadar keasaman tersebut, para petambak yang berada di pinggir sungai [sumber air tawar] perlu memupuk tambaknya dengan bahan organik atau anorganik jika ingin meningkatkan pH. Tetapi jika ingin menurunkan Ph, tanah harus ditaburi dengan kapur dolomit.

Memilih Lokasi untuk Membudidayakan Lobster


Membudidayakan udang karang atau lobster tak lain adalah usaha memelihara lobster di kolam buatan dengan tujuan untuk membesarkannya. Usaha pembesaran lobster ini terjadi dalam beberapa tahap yang dimulai dari sejak pengumpulan benih dari nelayan yang berupa udang berukuran kecil hingga dapat dipasarkan dalam bentuk udang yang sudah mencapai ukuran konsumsi.
Untuk kebutuhan budidaya pembesaran lobster ini dibutuhkan lokasi yang tepat. Teknis lokasi yang dapat digunakan, yaitu di darat yang relatif berdekatan dengan pantai, di daerah paasang surut atau pesisir, dan di pantai yang memiliki kedalaman sesuai dengan keadaan tempat hidup aslinya di alam.
Pada dasarnya lahan yang dipilih untuk lokasi budidaya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.     Lokasi yang mudah dijangkau alat transportasi
Sebelum pembukaan lahan tambak dilakukan, para petambak harus benar-benar mengenal hal-hal yang berhubungan dengan lokasi, misalnya mengamati apakah daerah tersebut cocok untuk pengembangan usaha ini atau sebaliknya. Dengan mengamati dan mempertimbangkannya dengan matang, akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Kelancaran sarana transportasi terutama dengan adanya jalan besar sangat mendukung usaha ini. Karena dengan mudah benih Lobster yang masih dalam keadaan sangat peka secara cepat dapat diangkut, sehingga dapat menekan angka kematian yang sekecil mungkin.
Seperti telah diketahui bahwa lobster masih sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Baik perubahan cuaca maupun temperatur yang terjadi secara mendadak di perjalanan. Apabila lokasi tambak sulit dijangkau oleh kendaraan, maka akan memakan waktu. Karena untuk dapat sampai di tempat tersebut harus menghabiskan waktu berjam-jam. Akibatnya banyak benih lobster yang diangkut mengalami kematian.
Tentu hal ini sangat merugikan. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan seperti itu, sedapat mungkin diusahakan agar lokasi tambak tadi tidak jauh dari sarana angkutan, misalnya jalan raya atau sungai besar yang dapat dilalui baik oleh perahu maupun oleh angkutan darat.
Banyak petani tambak yang mengeluh karena benih yang didatangkan dari tempat pembenihan mati begitu sampai tempat tujuan. Kematian benih ini berarti mengurangi jumlah calon lobster yang berakibat terhadap penurunan hasil panen. Agar angka kematian dapat ditekan sekecil mungkin, sampai saat ini masih belum dapat terpecahkan.
Alasan utamanya, yaitu tambak terlalu jauh dari jalan raya, sehingga benih udang yang masih dalam keadaan kritis tidak dapat bertahan lama berada di dalam wadah pengangkutan. Hal ini lah mengapa pemilihan lokasi tambak dekat dengan jalan raya atau sungai merupakan pilihan yang sangat tepat dan ideal.
Tambak-tambak yang berada dipinggir kali memiliki keuntungan ganda, yaitu mudah dalam proses pengangkutan benih dan mudah memasukkan air ketika pengisian atau penggantian air. Oleh sebab itu lah mengapa lobster-lobster yang dihasilkan di lokasi seperti ini dalam waktu yang singkat sudah dapat diambil hasilnya [panen].

2.     Lokasi yang Dekat dengan Sumber Air
Tersedianya air yang cukup merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam usaha dunia perikanan. Oleh sebab itu hendaknya mendapatkan perhatian yang cukup serius. Apabila keadaan air di suatu tambak sudah tidak sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk hidupnya lobster, sebaiknya harus segera diganti agar tidak berakibat fatal.
Dengan demikian air untuk tambak harus selalu tersedia dengan cukup agar memudahkan petambak melakukan penggantian air. Apabila persediaan air di sumbernya berkurang sedangkan air di dalam tambak sudah seharusnya diganti, maka pergantian air tidak dapat dilakukan dengan segera. akibatnya proses pertumbuhan lobster dapat terganggu. Dengan demikian pemilihan lokasi tambak harus mempertimbangkan tinggi rendahnya permukaan air.
Beberapa keuntungan tambak yang dekat dengan sungai, yaitu
-      Benih lobster maupun hasil panen dapat diangkut melalui perahu dengan mudah dan cepat.
-      Air di dalam tambak dengan mudah dapat diganti.
-      Makanan lobster yang berupa plankton dan jasad renik, mudah didapat, karena masuk dari sungai bersamaan air yang diisikan ke tambak.
Tetapi kalau terpaksa, lahan tambak yang jauh dari sumber air atau sungai dapat juga memberikan hasil yang cukup memadai. Asalkan saja perlu diusahakan pembuatan saluran air yang menghubungkan antara sumber air dengan tambak. Sekiranya dapat ditempuh dengan parit sebaiknya menggali tanah di sekitar pematang utama sebagai saluran irigasi. Karena hal ini dapat mengurangi biaya.
Apabila membangun tambak dekat dengan sumber air atau sungai, hendaknya posisi tanah yang dipilih lebih tinggi dari ketinggian air ketika banjir. Untuk hal ini dapat diambil acuan dari bekas banjir [ketinggian air] pada pohon. Biasanya bekas banjir akan selalu sejajar dengan pohon yang lainnya. Selanjutnya dapat dibuat rancangan profil yang lebih tinggi dari bekas genangan air tadi. Dengan cara ini tambak akan selamat dari ancaman ketika terjadi banjir.
Kenyataannya lokasi tambak yang dekat dengan sungai sangat menguntungkan petambak, karena dapat melakukan pergantian air tepat pada waktunya. Dengan demikian memudahkan petambak untuk membuang air ketika kwalaitasnya sudah tidak sesuai untuk kehidupan lobster.
Berbeda halnya dengan lokasi yang dekat dengan pantai atau laut, harus menyesuaikan perbedaan pasang surut dalam pembangunannya. Hal ini disebabkan sumber pengairan sangat tergantung dari ketinggian waktu pasang dan kerendahan saat surut.
Setelah ketinggian pasang surut air laut diketahui, barulah pelataran atau dasar tambak dibuat lebih rendah dari sumber air ketika surut. Dengan demikian pemasukan air dapat dilakukan kapan saja.
Untuk memasukkan air dari sumbernya yaitu sungai atau pesisir ke  dalam tambak dapat dilakukan dengan menggunakan pompa air. Sedangkan pada saat membuangnya cukup membuka pintu air yang dekat dengan pesisir atau sungai. Bagian depan pintu dipasang kerai yaitu anyaman bambu dengan tujuan untuk menahan lobster agar lobster tidak turut keluar bersamaan air yang dibuang.
Proses pergantian air tidak selalu harus dilakukan setiap hari, Tetapi tergantung pada kondisi air tambak dan tingkah laku lobster di dalam tambak. Jika lobster seringkali muncul ke permukaan air, dan warna air berubah menjadi cokelat, maka perlu dilakukan penggantian air.
Apabila tambak berada jauh dari sumber air atau sungai, pergantian air tidak dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Umumnya tambak dibiarkan begitu saja sehingga sisa makanan dan kotoran bercampur, sehingga mengakibatkan kadar oksigen terlarut berkurang dan lobster akan kekurangan oksigen dan plankton. Akibatnya mengalami pertumbuhan yang lambat.

Pembuatan Tepung Ikan

Banyak cara yang dilakukan untuk membuat tepung ikan, baik untuk ikan yang mempunyai kadar lemak rendah maupun untuk ikan yang mempunyai kadar lemak tinggi. Untuk ikan yang berkadar lemak rendah biasanya sebelum diolah mengalami proses pengeringan terlebih dahulu, baik secara langsung maupun pengeringan melalui proses re-sirkulasi. Adapun untuk ikan yang mempunyai kadar lemak  tinggi biasanya melalui beberapa tahap sebelum diolah, di antaranya perebusan, pemampatan, pengeringan, dan penggilingan.

1.     Pengolahan Tepung Ikan dengan Cara Reduksi
Pengolahan tepung dengan cara reduksi ini merupakan cara yang dilakukan sejak dulu dengan tujuan komersial. Secara umum proses pembuatan tepung ikan dengan cara reduksi adalah sebagai berikut.

1.     Pemotongan
Pemotongan ikan ini biasanya dilakukan untuk ikan-ikan yang berukuran besar, sedangkan pemotongannya dilakukan dengan cara mencincang ikan.

2.     Perebusan
Perebusan merupakan tahap awal dari pembuatan tepung ikan yang sangat menentukan menentukan mutu tepung ikan. Perebusan sendiri bertujuan untuk menggumpalkan protein dan mempermudah dalam memisahkan air dan minyak. Karena itu, perebusan harus dilakukan secermat dan setepat mungkin. Jika dalam proses perebusan ini bahan mentah tidak dapat menggumpal, akan dihasilkan tepung ikan yang berkadar lemak dan berkadar air yang tinggi. Demikian juga dengan pemisahan air dan minyak menjadi sulit dilakukan.
    Perebusan tersebut dilakukan dengan menggunakan silinder panjang horizontal yang dipanaskan dengan uap air di dalam steam jacket. steam jacket adalah ruang di antara kedua dinding periuk yang dibuat rangkap.

3.     Pemerasan
Tujuan pemerasan adalah untuk memisahkan sebagian air dengan minyak. Karena itu, untuk ikan yang sedikit mengandung minyak tidak harus melalui proses ini. Ikan yang telah mengalami proses perebusan, kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang berlubang-lubang. Setelah itu ditekan dengan screw press. Cairan pun akan keluar melalui lubang-lubang di tepi tabung dan padatannya keluar melalui ujung alat press.
    Dalam proses pemerasan ini kandungan air dikurangi hingga tinggal 50% dan minyak tinggal 4%. 
 
4.     Pengeringan
Ikan yang telah mengalami proses perebusan dan pemerasan kemudian, dikeringkan hingga derajat kekeringan tertentu. Pengeringan yang kurang sempurna dapat mengakibatkan tumbuhnya jamur dan bakteri. Begitu juga dengan pengeringan yang berlebihan akan menyebabkan penuruan nilai gizi tepung ikan. Secara umum, terdapat dua alat pengering yang biasa digunakan, yaitu sebagai berikut.

a.     Pengeringan Langsung
Dalam pengeringan langsung ini, bahan mentah tepung ikan yang telah mengalami proses pemotongan, perebusan, dan pemerasan diguling-gulingkan dengan cepat dengan menggunakan silinder. Cara ini sangat cepat, tetapi prosesnya harus benar-benar dikendalikan untuk mencegah kerusahan akibat suhu yang terlalu tinggi dalam proses pengeringan. Pada umumnya pengeringan tepung ikan dengan cara ini bersuhu 1000C.

b.     Pengeringan secara tidak langsung
Pengeringan dengan sistem ini adalah dengan menggunakan silinder berisi piringan-piringan yang dipanaskan dengan uap. Cara pengeringan dengan sistem ini mempunyai kelemahan, yaitu dapat menyebabkan bau yang tidak sedap.

5.     Penggilingan
Penggilingan merupakan proses terakhir dari pembuatan tepung ikan. Dalam proses ini bahan-bahan mentah tepung ikan dihancurkan, baik gumpalan-gumpalan daging, tulang, dan sebagainya.


2.     Metode Whole Meal
Dalam proses pemerasan bahan tepung ikan, terdapat cairan yang dibuang. Cairan tersebut adalah liquor. Pada umumnya orang-orang langsung membuang cairan liquor tersebut. Sebenarnya di dalam cairan liquor tersebut terdapat 20% bagian padat yang dapat dimanfaatkan menjadi tepung ikan. Dengan demikian, jika cairan liquor tersebut dibuang begitu saja, ada seperlima bagian yang hilang. Akibatnya, tepung ikan yang dihasilkan pun akan berkurang.
Padahal cairan sisa pengepresan itu sangat kaya akan vitamin B yang larut dalam air. Sebenarnya, cairan liquor itu dapat diolah kembali menjadi tepung ikan dengan cara dipekatkan. Cairan hasil pemekatan tersebut kemudian ditambahkan dengan tepung ikan yang sudah jadi sehingga menjadi tepung ikan. Namun, perlu diketahui juga bahwa cara tersebut sebenarnya mengandung kerugian, yaitu menyebabkan sebagian besar protein tepung larut di dalam air sehingga mutu tepung ikan menjadi rendah.Dari hasil pengolahan cairan tersebut dapat diperoleh fish solube.
Fish solube dimanfaatkan  untuk menghasilkan whole meal. Ada pun caranya adalah dengan mencampukkan fish solube itu dengan padatan tepung ikan. Dengan demikian, pemanfaatan bahan baku dapat mencapai 100% setelah dicampur.
Adapun cara mengeringkannya dilakukan dengan pengeringan. Agar tercapai efisiensi tinggi saat pengeringan dengan cara pemanasan, kondensasi uap harus dicegah agar tidak melalui produk yang sedang dipanasi.
Caranya adalah dengan pemanasan tidak langsung, yaitu uap  dikeluarkan dari ruang antara dinding luar dan ruang tempat produk yang dipanasi. Dengan demikian,  uap tidak akan membasahi produk yang sedang dipanaskan.    
Begitu pula saat pemisahan minyak dan cairan sisa pengepresan. Pemanasan dilakukan melalui pipa-pipa uap yang dipasang melewati cairan hasil pengpresan yang dikentalkan, tanpa adanya kontak antara uap dengan produk.

3.     Metode Resirkulasi
Pada metode Resirkulasi adalah pemanfaatan cairan sisa pengepresan dilakukan dengan mencampurkan langsung cairan itu dengan tepung ikan yang masih memiliki kadar air antara 25 hingga 30%. Ini dilakukan karena jika penambahan dilakukan ketika tepung ikan telah benar-benar kering, tepung tersebut akan sukar untuk menyerap air.
Untuk itu, pegeringan dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama pengeringan tepung ikan hingga 25-30%. Kedua pengeringan tepung ikan dengan kadar air 25-30% itu dan dan dicampur cairan.
Dengan metode ini memang biaya pengeringan akan tinggi. Namun, kita akan memperoleh tepung ikan secara maksimal dari bahan baku yang sama.

4.     Metode Reduksi Kering
Metode reduksi kering adalah metode terbaik dari pembuatan tepung ikan dimana selain kualitasnya maksimal, perolehan tepung ikannyapun akan lebih banyak dengan bahan baku yang sama.
Dengan metode ini, bahan baku berupa ikan rucah dan sisa olahan dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringannya dilakukan pada ruang hampa udara, sehingga diperlukan  temperatur yang tinggi.
Pengeringan dihentikan saat kandungan air bahan baku mencapai sekitar 10%. Hal ini bertujuan untuk memisahkan kandungan minyak dari bahan baku. Jika pemisahan minyak dari bahan baku telah dikeringkan hingga kadar airnya antara 10% hingga 0%, pemisahan minyak akan sulit dilakukan.
Adapun cara untuk menurunkan kadar minyak/lemak pada tepung ikan, terdiri dari dua cara, yaitu ekstraksi kering dan ekstraksi basah.

a.     Ekstraksi kering
Ekstraksi kering adalah penggunaan bahan pelarut untuk memisahkan tepung ikan yang sudah dikeringkan (kadar air tepung ikan sebesar 10%). Adapun bahan pelarut yang digunakan adalah bahan yang mudah menguap serta mudah melarutkan minyak, yaitu: Trichloroetylene atau Carbo Tetrachoride.
Caranya adalah tepung ikan dicampurkan dengan bahan pelarut yang mampu mengikat lemak. Setelah terjadi pengikatan lemak terjadilah penguapan.  Akhirnya akan diperoleh tepung ikan dengan kandungan lemak rendah sekitar 1-2%. Hasilnya akan diperoleh tepung ikan yang berwarna putih dan tidak akan mengalami ketengikan jika disimpan dalam waktu yang lama.

b.     Ekstraksi basah
Ekstraksi basah adalah cara pengurangan lemak pada tepung ikan dengan menambahkan bahan pelarut Trichloroethylene pada saat tepung ikan masih basah (mengandung kadar air tinggi). Caranya adalah sebagai berikut.
1)     Tepung ikan yang masih basah diberi larutan Trichloroethylene. Kemudian diaduk hingga rata.

2)     Kemudian, campuran itu ditempatkan di atas loyang dan disimpan di tungku pengasapan dingin. Pengeringan dilakukan hingga kandungan air pada tepung ikan berkurang hingga 10%. Air dan lemak akan menguap karena larutan  Trichloroetylene tersebut.
Dari keempat metode di atas, secara umum cara pembuatan tepung ikan adalah sebagai berikut.

a.     Alat yang dibutuhkan:
1)     tungku perebusan
2)     drum perebusan
3)     alat pengepresan
4)     alat pengeringan
5)    alat pengaduk dari kayu
6)     alat pengilingan tepung
7)     alat pencacah atau golok yang digunakan untuk menghancurkan ikan
8)     ember plastik
9)     kantong plastik untuk mengemas tepung ikan.

b.     Cara membuat tepung ikan:
1.     Ikan rucah atau sisa olahan sebagai bahan baku pembuatan tepung ikan dibersihakan dan dicuci. Kemudian, setelah bersih, dilakukan pencincangan hingga lembut.
2.     Setelah dicincang, bahan baku direbus. Perebusan dilakukan untuk pengikatan daging ikan, sehingga kandungan airnya mudah dilepaskan.
3.     Setelah direbus, bahan baku diangkat dan ditiriskan. Penirisan dilakukan untuk menurunkan kandungan air yang berasal dari air rebusan.
4.     Lalu, setelah ditiriskan, dilakukanlah pengepresan. Pengepresan tidak dilakukan secara maksimal. Maksudnya, kandungan air dalam daging masih tersisa sebanyak 45%. Ini bertujuan agar  air dari ikan yang mengandung vitamin tidak banyak terbuang.
5.     Penurunan kadar air dari ikan selanjutnya dilakukan dengan pengeringan. Jenis pengeringannyapun dilakukan dengan penjemuran menggunakan panas sinar matahari. Dengan demikian, kandungan air akan menguap dan kandungan vitaminnya tidak terbuang.

6.     Namun, jika tidak ada panas matahari atau cuaca mendung, pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengasapan dingin. Dengan metode ini digunakan tungku pengasapan.
7.     Jika kandungan air pada hancuran ikan tersebut tinggal 10%, hancuran ikan tersebut dapat digiling.

8.     Setelah digiling, dihasilkan tepung ikan. Tepung ikan yang berkualitas tinggi adalah tepung yang butirannya sangat kecil. Oleh karena itu, jika pengilingan tidak maksimal, dapat dilakukan penyaringan dengan mata jaring yang sangat kecil.

Sisanya, berupa hasil gilingan dengan ukuran besar dapat digiling kembali sehingga semua bahan berubah menjadi tepung ikan yang benar-benar halus.

9.     Kini jadilah tepung ikan. Langkah selanjutnya adalah pengemasan. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan pembungkus dari bahan plastik. Bahan plastik dipilih agar tepung ikan tidak terkena carian dan udara yang lembap. Oleh karena itu, pengemasan diharapkan benar-benar rapi tanpa ada bagian yang bocor. Jika ada bagian yang bocor, udara lembap dapat memasuki tepung ikan. Akibatnya, kualitas tepung ikan akan menurun. Terjadilah ketengikan dan penggumpalan tepung. Untuk itu dalam mengemas tepung ikan menggunakan plastik. Perapatan mulut kantong plastik itu sebaiknya digunakan alat perekat plastik.

10.     Kini tepung ikan dapat dipasarkan atau aman disimpan dalam waktu yang cukup lama.







Cara Pembuatan Kerupuk Ikan

Pembuatan Kerupuk
Ikan yang kaya akan sumber protein sangat lezat untuk dibuat kerupuk, seperti kerupuk ikan kakap yang telah memasyarakat. Siapapun pasti menyukai kerupuk dan kita dapat membuat kerupuk sendiri dengan bahan dasarnya ikan atau udang yang ditambah tepung sagu. Bila tertarik ingin mencoba membuat kerupuk ikan, silahkan mengikuti langkah-langkah di bawah ini.
a)    Siapkan daging ikan tanpa tulang dan kulit, cuci bersih dan tiriskan.
b)     Daging ikan yang sudah bersih diblender atau digiling. Untuk mendapatkan bubuh ikan yang benar-benar halus sebaiknya daging ikan yang sudah diblender di tumbuk.
c)    Tambahkan bumbu garam, gula putih, dan soda kue aduk sampai tercampur rata.
d)    Masukkan telur yang sudah dikocok, aduk atau diremas-remas hingga tercampur rata.
e)    Tambahkan tepung sagu sedikit-sedikit hingga menyatu dengan daging ikan atau udang.
f)    Jika adonan sudah lumat, bentuk gulungan panjang lalu bungkus dengan plastik kemudian dikukus hingga matang. Setelah matang, adonan diangkat dan tiriskan.
g)    Adonan yang sudah dingin diiris-iris tipis dan jemur hingga kering. Agar hasil penjemuran merata sebaiknya dibolak-balik. 

Cara Pembuatan Abon Ikan

Pembuatan Abon Ikan
 Panganan olahan ikan lainnya yang  dapat disimpan dalam waktu cukup lama, adalah abon ikan. Abon ikan memang belum begitu memasyarakat jika dibandingkan dengan produk olahan ikan lainnya. Padahal abon ikan yang berwarna putih pucat ini memiliki citarasa yang cukup tinggi dan tentu saja mengandung nilai gizi ikan cukup tinggi. Pembuatan abon pun tidaklah sulit dan tidak banyak memerlukan bahan baku. Semua jenis ikan dapat dipakai, namun untuk mendapatkan hasil yang maksimal ikan tongkol yang memiliki serat daging tebal dan agak keras lebih cocok untuk dijadikan bahan baku pembuatan abon. Adapun cara pengolahan abon adalah sebagai berikut.
a)    Siapkan daging ikan tanpa kulit dan tulang yang sudah dicuci bersih.
b)     Masukkan bumbu garam, gula putih, dan bawang putih yang sudah dihaluskan. Aduk hingga rata.
c)    Tambahkan santan secukupnya dan masak hingga matang dan kering. Sebaiknya daging ikan biarkan sampai menjadi bubur dan selama proses harus diaduk terus menerus agar tidak gosong.
d)    Masak berulang-ulang hingga benar-benar kering.

Cara Pengasapan Ikan/Pembuatan Ikan asap

Pembuatan Ikan Asap
Mengawetkan ikan hasil tangkapan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai adalah pembuatan ikan asap atau pengasapan. Pengasapan  atau proses penarikan air dengan penyerapan oleh berbagai senyawa kimia pengawetan yang berasal dari asap. Penarikan air ini dilakukan dengan cara penggaraman memakai proses pengasapan. Proses pengasapan ini berdasarkan suhu dan lamanya pengasapan, terdiri dari dua macam pengasapan. Pertama, pengasapan panas adalah pengasapan dengan panas suhu antara 60 sampai 80 C dengan lama pengasapan 3 hingga 4 jam. Sedangkan pengasapan dingin, adalah proses pengasapan dengan suhu sekitar 30-40 C, dengan lama pengasapan 1 hingga 2 minggu.
Sebagai bahan bakar atau sumber asap untuk proses pengasapan sebaiknya memakai kayu atau tempurung kelapa. Sedangkan ikan yang dapat diasap semua jenis ikan dan ukuran besar atau kecil. Adapun cara pengolahan atau pembuatan ikan asap, adalah sebagai berikut.
a.    Bersihkan ikan dengan mengeluarkan isi perutnya dan dicuci bersih.
b.    Ikan yang sudah bersih, rendam dalam larutan garam berkadar 5 persen selama 20 menit. Angkat dan tiriskan.
c.     Ikan yang sudah ditiriskan dan agak kering disusun atau diatur dalam anyaman kawat.
d.    Anyaman kawat yang sudah diisi ikan gantungkan di langit-langit tepat di atas perapian dengan jarak sedang, jangan terlalu jauh atau terlalu dekat.
e.    Perapian diisi kayu atau tempurung kelapa dan mulai dinyalakan. Usahakan agar nyala api tidak terjadi besar atau sama sekali tidak ada nyala api.
f.    Selama proses pengasapan berlangsung, sesering mungkin ikan-ikan dibalik-balikkan dan dipindah-pindahkan tempatnya agar pengasapan merata.
g.    Proses pengasapan berlangsung antara 3 hingga 4 jam sampai ikan berwarna coklat keemasa, kemudian angkat. Pengasapan dingin berlangsung 1 hingga 2 minggu.

Cara Pemindangan Ikan

Pembuatan ikan pindang
Pemindangan atau pembuatan ikan pindang adalah proses pengawetan ikan segar. Jenis ikan yang biasa digunakan adalah ikan tongkol, tuna dan sejenisnya, bandeng, kembung, deles, mas dan mujair. Proses pemuatan tidak sulit. Ikan dari berbagai ukuran sebagai bahan utama dan gram ditambah kunit dan asem jawa agar ikan pindang lebih awet, harum, dan sebagai citarasa. Adapun carapengolahannya, adalah sebagai berikut.
a)    Isi perut ikan dibuang dan dicuci bersih.
b)    Ikan yang sudah bersih direndam dalam larutan gram sekitar 5 persen dari berat ikan yang dipindang. Masukkan potongan es dan diamkan sekitar 15 menit. Kemudian ikan diangkat dan cuci lalu tiriskan agar airnya menetes.
c)    Ikan yang sudah ditiriskan disusun dalam besek atau wadah terbuat dari anyaman bambu yang diisi jerami. Lapisan ikan paling atas dibubuhi gram sekitar 25 persen berat ikan dalam besek.
d)    Besek berisi ikan direbus dalam air gram yang diberi bumbu kunyit dan asem jawa. Diamkan sekitar 20-30 menit. Besek berisi ikan harus terendam penuh, jika perlu di atas besek beri pemberat. Angkat dan tiriskan lalu sompan ditempat yang kering. Ikan pindang dapat bertahan lama jika disimpan di lemari es dengan dibungkus rapat.