Kualitas Air
Kualitas air sangat penting untuk diperhatikan dalam usaha pembesaran lobster. Kualitas air yang kurang baik dapat mengakibatkan lobster mengalami kesukaran untuk moulting atau ganti kulit. Oleh sebab itulah air di dalam bak atau tambak harus diusahakan mirip dengan keadaan air tempat hidupnya di alam. Di dalam bak, Lobster membutuhkan air yang keadaannya jernih dan sejuk, kaya akan oksigen, serta bebas dari racun seperti amoniak.
Air yang dipergunakan untuk pembesaran lobster harus diperoleh dari laut. Oleh karena itu lokasi pembesaran lobster harus diusahakan dekat dengan laut. Untuk menjaga air agar selalu dalam keadaan tetap sejuk, perlu dibuat sumur yang berguna sebagai tempat penampungan dan pengendapan. air yang berasal dari laut atau bak pemeliharaan, setelah disaring, dialirkan ke dalam sumur. Di dalam sumur air diendapkan selama beberapa hari lamanya sampai menjadi sejuk. selanjutnya, air dipompa ke dalam skimmer. di dalam skimmer ini air akan diuraikan sehingga benar-benar bebas dari zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan lobster. Dari sini air kemudian dialirkan kembali ke bak pemeliharaan setelah terlebih dahulu ditambahkan gas oksigen. Hal lain yang perlu diperhatikan mengenai kualitas air ini adalah salinitas. Seperti telah kita ketahui lobster hidup di perairan dengan kadar garam yang cukup tinggi, dan stabil. Pada kenyataannya di dalam bak pun lobster membutuhkan salinitas yang tinggi dan keadaannya konstan, agar proses pergantian kulitnya berlangsung dengan baik. Berdasarkan suatu penelitian diketahui kadar garam yang optimal bagi lobster, yaitu 30 promil.
Bahan Kimia Terlarut
Air laut tempat makhluk air hidup, banyak yang mengandung bahan-bahan kimia baik berbentuk organik maupun anorganik. Bahan-bahan kimia tersebut ada yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup [esential], tetapi ada juga yang tidak berguna sama sekali [nonesensial], bahkan dapat berupa racun bagi makhluk air tersebut. Bahan kimia yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan fisiologis udang antara lain, yaitu kadar kalsium yang cukup dan juga kandungan logam mineral esensial yang lainnya seperti tembaga, seng, besi, mangan dan lain-lain. Sedangkan bahan kimia yang nonesensial dan dapat menyebabkan keracunan adalah kadar amoniak yang tinggi, pestisida atau beberapa macam logam berat yang berbahaya seperti merkuri, timah hitam, dan cadmium. Untuk lebih jelasnya bagaimana pengaruh bahan kimia terlarut terhadap kelangsungan hidup udang penaeus, berikut masing-masing akan diulas.
a. Kadar Kalsium [Ca]
Kandungan Ca di dalam air sangat penting untuk kehidupan udang, terutama proses moulting [ganti kulit] dan pertumbuhannya. Biasanya setelah udang melepaskan kulitnya, kalsium sangat dibutuhkan untuk mengganti kalsium yang hilang dan mempercepat klasifikasi pada carapaceae [pengerasan pada kulit kepala]. Defisiensi Ca di dalam air dapat mengganggu proses pergantian kulit pada udang, sehingga proses moulting terhambat dan menyebabkan angka kematian yang tinggi. Seorang peneliti melaporkan bahwa kandungan Ca yang tinggi, ditemukan di dalam haemolymph [darah udang] pada udang yang sedang moulting dan post moulting. angka kematian yang tinggi, salah bentuk rostrum dan pereiopod pada P. monodon ditemukan pada kolam yang memiliki alkalinitas kurang dari 50 ppm CaCO3. Sedangkan pada alkalinitas yang lebih dari 80 ppm udang terlihat sehat dan berkembang normal. Untuk menaikkan alkalinitas dapat dilakukan dengan memberi batu kapur; apabila pH air sebelum diberi kapur adalah 7, sesudah diberi kapur menjadi 8. Penelitian mengenai Ca di dalam kolam ini perlu dilakukan lebih lanjut.
b. Amoniak, Nitrit dan Hydrogen Sulfida
Amoniak merupakan sisa buangan hasil katabolisme protein dari udang. Udang atau jenis Crustacea yang lainnya mengeluarkan amonia 40% - 90% dari nitrit yang diekskresi. Dalam air, amoniak juga dikeluarkan oleh hasil metabolisme mikroba dari senyawa nitrogen yang dalam keadaan kadar oksigen rendah. Amoniak di dalam air dapat berbentuk ion NH4+, maupun bulkan ion NH3. Bentuk NH3 inilah yang bersifat racun bagi kelangsungan hidup P. monodon, terutama pada periode larva. Chi dan Chen [1987], melaporkan bahwa kadar 0,01 ml NH3 cukup baik untuk kehidupan larva P. monodon.
Nitrit dan Nitrat merupakan hasil dari oksidasi senyawa amoniak dari proses yang disebut nitrifikasi amoniak yang terjadi di dalam air. Nitrit ini sangat bersifat racun [toksik] terhadap ikan, tetapi kurang begitu beracun terhadap udang, karena nitrit yang mengoksidasi haemoglobin menjadi bentuk met haemoglobin ini tidak dapat mengangkut oksigen. Sedangkan pada udang pigmen darahnya berbentuk haemocyanin, yang masih dapat mengangkut oksigen, sehingga udang dapat mengikat oksigen walaupun kadarnya 170 mg/l nitrit di dalam air dapat membunuh sekitar 50% udang dalam waktu 24 jam.
Hidrogen sulfida di dalam air dihasilkan oleh sejenis bakteri dari bahan-bahan organik pada kondisi tanpa oksigen [anaerobik]. Hydrogen sulfida bersifat sangat beracun bagi udang pada waktu udang mencari makanan di dasar air. Di dalam air Hydrogen sulfida berbentuk ion [HS-] atau dapat pula berbentuk molekul H2S. Bentuk molekul tersebut yang bersifat racun. Konsentrasi H2S ini sangat bergantung pada keadaan pH, suhu dan kadar garam. Kandungan H2S ini sangat bergantung pada keadaan pH, suhu dan kadar garam. Kandungan H2S 6,4 mg/l air dapat mematikan P. monodon 100% di dalam waktu 30 jam.
c. Pestisida
Pestisida pemakaiannya secara meluas dimulai setelah perang dunia kedua, yaitu dengan menggunakan organochlorine, terutama pemakaian DDT di Amerika, cyclodines [aldrin dan dieldrin] dan hexachlohexan [HCH] di Inggris dan Jepang. Sejak saat itu pestisida mulai tersebar pemakaiannya, tidak hanya di negara-negara maju saja tetapi terus menyebar ke negara-negara berkembang. Dengan mulai digunakannya pestisida tersebut, pengaruhnya terhadap pencemaran lingkungan mulai terjadi, dan sebagai akibatnya organisme air, termasuk udang, juga mulai terkena pengaruhnya.
Kadar pestisida di dalam air yang paling aman bagi kehidupan udang P. monodon, yaitu 0,0004 ug/l parathion, 0,001 ug/l Paraquat dan 1 ug/l Butachlor.
d. Logam Berat
Logam berat di dalam air laut biasanya digolongkan di dalam dua golongan, makroelement dan mikroelement. Golongan makro biasanya esensial untuk pertumbuhan udang, sedangkan golongan mikro dibagi menjadi dua kelompok, yaitu esensial dan nonesensial. Kelompok nonesensial inilah yang dapat berpengaruh negatif pada udang, walaupun kelompok esensial dalam dosis yang tinggi juga menyebabkan racun. Kelompok nonesensial ini adalah merkuri [Hg], Timah hitam [Pb], dan Cadmium [Cd].
Menurut Bryan [1984], beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan racun logam berat terhadap udang dan organisme laut lainnya, yaitu :
* Bentuk ikatan kimia dari logam yang terlarut di dalam air
* Pengaruh interaksi antara logam dan jenis racun lainnya.
* Pengaruh lingkungan seperti temperatur, kadar garam, pengaruh pH ataupun kadar oksigen di dalam air.
* Keadaan dari hewan, fase siklus hidup [telur larva, dewasa], besarnya organisme, jenis kelamin dan kecukupan kebutuhan nutrisi
* Kemampuan hewan untuk menghindar dari kondisi buruk [polusi], misalnya lari untuk berpindah tempat.
* Kemampuan hewan untuk beradaptasi terhadap racun, misalnya proses detoksikasi.
Logam yang termasuk kelompok nonesensial dalam konsentrasi sedikit saja dapat menyebabkan keracunan berat. Cadmium [Cd] dalam konsentrasi 0,5 - 0,7 mg/l di dalam air dapat menyebabkan nekrosa insang, dan fokal nekrosa serta hypertropi pada hepatopankreas [hati yang bersatu dengan pankreas] dan mukosa usus udang putih [P. merguiensis]. Selain itu logam tersebut juga dapat menimbulkan pengaruh yang tidak dikehendaki terhadap orang-orang yang makan udang/ikan yang tercemar oleh logam yang bersangkutan. Peristiwa yang terbesar terjadi pada tahun 1953 di teluk Minamata, Jepang dengan timbulnya penyakit minamata [minamata diseases], ketika terjadi pencemaran ikan laut oleh merkuri [Hg]. Peristiwa lainnya yaitu terjadi di sepanjang sungai Jinzu di Jepang juga, dengan terjadinya penyakit “itai-itai” yang disebabkan oleh logam cadmium [Cd].
Thursday, 6 October 2016
Pembuatan Bak Pemeliharaan Lobster
Pembuatan Bak Pemeliharaan
Bak atau wadah tempat membudidayakan udang karang atau lobster pada dasarnya terdiri dari tiga type, yaitu bak beton, keramba, dan pence sistem [pembuatan terumbu karang buatan] yang di desain secara khusus. Bahan bak yang terbuat dari beton, Fibre glass atau plastik, keramba yang terbuat dari kayu atau bambu dan jaring. Sedangkan terumbu karang yang dibuat dari beton, besi atau bahan yang lainnya. Untuk pemeliharaan di dalam bak, pada bagian atasnya harus memakai penutup agar terhindar dari air hujan dan sengatan sinar matahari serta untuk memberikan kesan gelap sesuai tempat hidupnya di alam aslinya. Selain penutup di bagian atasnya, pada dasar bak diberikan pelindung berupa tataan bata, batu, asbes, batu karang, atau semen.
Bak atau wadah tempat membudidayakan udang karang atau lobster pada dasarnya terdiri dari tiga type, yaitu bak beton, keramba, dan pence sistem [pembuatan terumbu karang buatan] yang di desain secara khusus. Bahan bak yang terbuat dari beton, Fibre glass atau plastik, keramba yang terbuat dari kayu atau bambu dan jaring. Sedangkan terumbu karang yang dibuat dari beton, besi atau bahan yang lainnya. Untuk pemeliharaan di dalam bak, pada bagian atasnya harus memakai penutup agar terhindar dari air hujan dan sengatan sinar matahari serta untuk memberikan kesan gelap sesuai tempat hidupnya di alam aslinya. Selain penutup di bagian atasnya, pada dasar bak diberikan pelindung berupa tataan bata, batu, asbes, batu karang, atau semen.
Tekstur Tanah yang Cocok untuk Tambak Lobster
Setelah dilakukan pengujian terhadap derajat keasaman tanah tambak, langkah selanjutnya adalah mengamati jenis atau tekstur tanah. Jenis tanah yang baik untuk lokasi pertambakan adalah tanah liat yang kandungan pasirnya tidak lebih dari 20%.
Karena tanah liat dapat menahan air sampai berbulan-bulan lamanya. Tanah liat suatu saat akan menjadi lumpur yang mampu menahan air.
Selain itu tanah yang baik untuk tambak harus mengandung mineral-mineral dan bahan organik. Apabila tanah untuk tambak tidak mengandung mineral-mineral yang cukup, akibatnya akan banyak lobster yang mati setelah penebaran benih dilakukan. Bahan organik sangat membantu untuk proses perkembangan lobster di dalam tambak. Dengan demikian tanah yang baik dan tepat untuk budi daya lobster ialah tanah dari jenis tanah liat [lempung].
Dengan tekstur tanah liat yang mampu menahan air dari perembesan, sangat menguntungkan petambak karena pengisian air dapat dilakukan sebulan sekali atau sesuai dengan jadwal yng telah ditentukan sebelumnya. Hal ini berarti meringankan pekerjaan dan dapat menekan biaya. Dengan demikian jelaslah dengan uraian di atas, bahwa pembangunan tambak harus di atas tanah liat.
Jika memang tak ada pilihan lain dan terpaksa harus membuat tambak di atas tanah yang berpasir, maka bagian dalam tambak harus dilapisi dengan tanah liat [lempung].
Bagian pematang [tanggul] utama hendaknya diteplok dengan tanah setebal 40 sampai 50 cm. Selain itu dapat dibuat lubang-lubang untuk tanah ini di bagian tengah. Sedangkan dasar atau pelataran tambak hendaknya lebih tebal, karena pada siang hari lobster selalu melakukan aktifitasnya di bagian ini.
Apabila ketebalan di dasar tambak kurang dari 50 cm, maka air dengan mudah surut, karena mengalami peresapan. Walaupun tanah lempung baik untuk dijadikan pelapis, namun tidak harus dilakukan tanpa perhitungan. Adapun jenis tanah liat yang baik untuk pelapis ialah yang berwarna hitam karena perubahan fisiknya lebih cepat ketibang tanah liat yang berwarna merah.
Dari keseluruhan persyaratan lokasi yang telah dijelaskan di atas, maka yang terpenting harus dipenuhi persyaratannya dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Terlindung dari gerakan arus dan gelombang serta angin kencang.
2. Kestabilan tinggi, bebas dari gangguan air tawar atau hujan, jauh dari muara sungai.
3. Tidak terjadi pengerukan atau sitasi, pantai-pantai putih dan berkarang.
4. Keadaan Air jernih dan tidak mengalami pencemaran, serta jauh dari pemukiman.
5. Dekat dengan sumber pakan dan benih.
6. Kualitas air dengan salinitas 27 - 35 o/oo, dan suhu 25 - 28oC, BD 4,9 - 7,6 ppm dan pH 7 - 8.
Cara menurunkan kadar keasaman tanah budidaya lobster
Cara Menurunkan Kadar Keasaman Tanah
Kadar keasaman tanah yang terlalu tinggi melebihi batas optimal dapat mengakibatkan sifat kimiawi tanah menjadi alkalis. Tanah seperti ini sudah tentu bersifat racun bagi kehidupan lobster.
Dalam keadaan demikian tambak tidak baik untuk dipakai memelihara benih lobster.
Oleh sebab itu harus diusahakan untuk diturunkan sampai pada batas optimalnya, yaitu yang sesuai dengan tempat hidup asalnya di alam bebas. Tingginya kadar keasaman dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu seperti unsur tanah, banyak tidaknya jasad renik, atau sisa akar pepohonan yang belum terurai.
Cara menurunkan kadar keasaman tanah, yaitu dengan menaburkan kapur tohor dan dolomit sebanyak 1 sampai 1,5 ton perhektar lahan tambak. Kapur ini bisa dibeli di balai perikanan terdekat. Setelah itu tanah tambak dapat diuji kembali kadar asamnya untuk memastikan apakah kadarnya sudah pada batas optimal yang diinginkan atau belum.
Batas optimal angka pH harus berada di 6 sampai 7. apabila angka ini telah tercapai barulah pembangunan tambak dapat dimulai.
Kadar keasaman tanah yang terlalu tinggi melebihi batas optimal dapat mengakibatkan sifat kimiawi tanah menjadi alkalis. Tanah seperti ini sudah tentu bersifat racun bagi kehidupan lobster.
Dalam keadaan demikian tambak tidak baik untuk dipakai memelihara benih lobster.
Oleh sebab itu harus diusahakan untuk diturunkan sampai pada batas optimalnya, yaitu yang sesuai dengan tempat hidup asalnya di alam bebas. Tingginya kadar keasaman dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu seperti unsur tanah, banyak tidaknya jasad renik, atau sisa akar pepohonan yang belum terurai.
Cara menurunkan kadar keasaman tanah, yaitu dengan menaburkan kapur tohor dan dolomit sebanyak 1 sampai 1,5 ton perhektar lahan tambak. Kapur ini bisa dibeli di balai perikanan terdekat. Setelah itu tanah tambak dapat diuji kembali kadar asamnya untuk memastikan apakah kadarnya sudah pada batas optimal yang diinginkan atau belum.
Batas optimal angka pH harus berada di 6 sampai 7. apabila angka ini telah tercapai barulah pembangunan tambak dapat dimulai.
Cara menaikkan Kadar Keasaman Tanah Tambak budidaya Lobster
Umumnya petambak-petambak tradisional jarang yang melakukan pengujian kadar keasaman tanah-tanah tambak mereka. Mereka hanya mengetahui cara membuat kontruksi tambak dan mengolahnya begitu saja.
Tetapi bagi para petambak yang membudidayakan udang lobster dengan cara intensif, selalu mempertimbangkan hal-hal yang berkenaaan dengan kadar keasaman tanah tambak yang dikelolanya.
Oleh sebab itu untuk mendatangkan hasil secara maksimal, diharapkan para petani tambak tradisional atau pemula agar memperhatikan hal-hal yang tampaknya tidak mengandung resiko. Kadar keasaman tanah tampaknya tidak beresiko, tetapi sangat memegang peranan penting bagi berhasil tidaknya usaha budi daya lobster.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kadar keasaman tanah tambak.
Bagi para pemula yang belum berpengalaman dalam hal air, perlu belajar atau meminta bantuan Dinas Pertanian dan perikanan, atau meminta bantuan pada orang yang cukup berpengalaman.
Adapun cara untuk megetahui kadar keasaman tanah tambak dapat dilakukan sebagai berikut :
a. tanah yang akan dijadikan lahan tambak diambil secukupnya, kemudian dimasukkan ke dalam gelas atau bejana pengukur. Kemudian campurkan dengan air dan bahan kimia. Bahan kimia dapat diperoleh di dinas perikanan atau pertanian. Selanjutnya bahan tersebut dikocok sampai larut dan bercampur menjadi satu.
b. Celupkan kertas lakmus ke dalam wadah berisi larutan tadi. Kertas lakmus yaitu kertas yang dipakai untuk menguji kadar keasaman yang bisa diperoleh di toko-toko pertanian atau perikanan. lama pencelupan tidak lebih dari 7 menit.
Kemudian kertas lakmus tadi diangkat dan dikibas-kibaskan agar segera mengering. Bekas cairan akan memperlihatkan warna.
c. Siapkan tabel pH [derajat keasaman] yang dapat diperoleh di dinas Perikanan. Kemudian cocokkanlah warna yang ada pada kertas lakmus, yaitu bekas cairan dengan warna yang ada pada tabel pH. Tabel ini berisi angka dan warna-warna. Warna yang ada pada kertas ini biasanya disertai angka di bawah atau diatasnya.
d. Apabila warna memperlihatkan angka 3 berarti tanah tersebut berkadar asam 3.
Angka seperti ini sangat berbahaya bagi kehidupan lobster, sebab sangat bersifat asam. sedangkan batas ketahanannya hanya sampai batas angka 5.
Cara menguji Keasaman dan Ketinggian Tanah yang Cocok Untuk Budidaya Lobster
Cara Menguji Keasaman dan Ketinggian Tanah yang Cocok
Kadar keasaaman dapat diartikan kandungan zat asam yang berada di dalam tanah.
Zat ini dapat menyuburkan ikan atau dapat pula membunuhnya. Oleh sebab itu sebelum kita membuat tambak, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian keasaman tanah.
Kadar keasaman di setiap daerah tidak selalu sama. Keadaan yang demikian ini disebabkan oleh kedaan topografi tanah dan ketinggian tanah yang berbeda-beda. Tanah di daerah pegunungan, biasanya kadar keasamannyaa berada antara 5 sampai 8 [pH = 5-8].
Sedangkan tanah yang berada di dataran rendah cenderung di bawah angka 5 atau di atas angka 7. Untuk itu tanah harus diuji dahulu kadar keasamannya, sebab kadar keasaman tambak yang tidak stabil dapat membuat lobster sulit bernapas.
Tanah yang bersifat asam dapat mempengaruhi kadar keasaman air. Kalau dibiarkan maka kimiawi air yang asam akan bercampur dengan sisa makanan dan kotoran lobster.
Akibatnya air akan berubah sifat menjadi racun bagi lobster.
Biasanya kadar keasaman pada tanah tambak yang baru berbeda dengan tambak lama.
Tambak yang sudah lama dibangun memiliki kadar keasaman yang stabil karena sering dipupuk. Pemupukan ini sangat mempengaruhi derajat keasaman air. Sedangkan tambak yang baru dibuat belum pernah diisi air dan belum pernah memperoleh pupuk sama sekali.
Untuk mengendalikan kadar keasaman tersebut, para petambak yang berada di pinggir sungai [sumber air tawar] perlu memupuk tambaknya dengan bahan organik atau anorganik jika ingin meningkatkan pH. Tetapi jika ingin menurunkan Ph, tanah harus ditaburi dengan kapur dolomit.
Kadar keasaaman dapat diartikan kandungan zat asam yang berada di dalam tanah.
Zat ini dapat menyuburkan ikan atau dapat pula membunuhnya. Oleh sebab itu sebelum kita membuat tambak, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian keasaman tanah.
Kadar keasaman di setiap daerah tidak selalu sama. Keadaan yang demikian ini disebabkan oleh kedaan topografi tanah dan ketinggian tanah yang berbeda-beda. Tanah di daerah pegunungan, biasanya kadar keasamannyaa berada antara 5 sampai 8 [pH = 5-8].
Sedangkan tanah yang berada di dataran rendah cenderung di bawah angka 5 atau di atas angka 7. Untuk itu tanah harus diuji dahulu kadar keasamannya, sebab kadar keasaman tambak yang tidak stabil dapat membuat lobster sulit bernapas.
Tanah yang bersifat asam dapat mempengaruhi kadar keasaman air. Kalau dibiarkan maka kimiawi air yang asam akan bercampur dengan sisa makanan dan kotoran lobster.
Akibatnya air akan berubah sifat menjadi racun bagi lobster.
Biasanya kadar keasaman pada tanah tambak yang baru berbeda dengan tambak lama.
Tambak yang sudah lama dibangun memiliki kadar keasaman yang stabil karena sering dipupuk. Pemupukan ini sangat mempengaruhi derajat keasaman air. Sedangkan tambak yang baru dibuat belum pernah diisi air dan belum pernah memperoleh pupuk sama sekali.
Untuk mengendalikan kadar keasaman tersebut, para petambak yang berada di pinggir sungai [sumber air tawar] perlu memupuk tambaknya dengan bahan organik atau anorganik jika ingin meningkatkan pH. Tetapi jika ingin menurunkan Ph, tanah harus ditaburi dengan kapur dolomit.
Memilih Lokasi untuk Membudidayakan Lobster
Membudidayakan udang karang atau lobster tak lain adalah usaha memelihara lobster di kolam buatan dengan tujuan untuk membesarkannya. Usaha pembesaran lobster ini terjadi dalam beberapa tahap yang dimulai dari sejak pengumpulan benih dari nelayan yang berupa udang berukuran kecil hingga dapat dipasarkan dalam bentuk udang yang sudah mencapai ukuran konsumsi.
Untuk kebutuhan budidaya pembesaran lobster ini dibutuhkan lokasi yang tepat. Teknis lokasi yang dapat digunakan, yaitu di darat yang relatif berdekatan dengan pantai, di daerah paasang surut atau pesisir, dan di pantai yang memiliki kedalaman sesuai dengan keadaan tempat hidup aslinya di alam.
Pada dasarnya lahan yang dipilih untuk lokasi budidaya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Lokasi yang mudah dijangkau alat transportasi
Sebelum pembukaan lahan tambak dilakukan, para petambak harus benar-benar mengenal hal-hal yang berhubungan dengan lokasi, misalnya mengamati apakah daerah tersebut cocok untuk pengembangan usaha ini atau sebaliknya. Dengan mengamati dan mempertimbangkannya dengan matang, akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Kelancaran sarana transportasi terutama dengan adanya jalan besar sangat mendukung usaha ini. Karena dengan mudah benih Lobster yang masih dalam keadaan sangat peka secara cepat dapat diangkut, sehingga dapat menekan angka kematian yang sekecil mungkin.
Seperti telah diketahui bahwa lobster masih sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Baik perubahan cuaca maupun temperatur yang terjadi secara mendadak di perjalanan. Apabila lokasi tambak sulit dijangkau oleh kendaraan, maka akan memakan waktu. Karena untuk dapat sampai di tempat tersebut harus menghabiskan waktu berjam-jam. Akibatnya banyak benih lobster yang diangkut mengalami kematian.
Tentu hal ini sangat merugikan. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan seperti itu, sedapat mungkin diusahakan agar lokasi tambak tadi tidak jauh dari sarana angkutan, misalnya jalan raya atau sungai besar yang dapat dilalui baik oleh perahu maupun oleh angkutan darat.
Banyak petani tambak yang mengeluh karena benih yang didatangkan dari tempat pembenihan mati begitu sampai tempat tujuan. Kematian benih ini berarti mengurangi jumlah calon lobster yang berakibat terhadap penurunan hasil panen. Agar angka kematian dapat ditekan sekecil mungkin, sampai saat ini masih belum dapat terpecahkan.
Alasan utamanya, yaitu tambak terlalu jauh dari jalan raya, sehingga benih udang yang masih dalam keadaan kritis tidak dapat bertahan lama berada di dalam wadah pengangkutan. Hal ini lah mengapa pemilihan lokasi tambak dekat dengan jalan raya atau sungai merupakan pilihan yang sangat tepat dan ideal.
Tambak-tambak yang berada dipinggir kali memiliki keuntungan ganda, yaitu mudah dalam proses pengangkutan benih dan mudah memasukkan air ketika pengisian atau penggantian air. Oleh sebab itu lah mengapa lobster-lobster yang dihasilkan di lokasi seperti ini dalam waktu yang singkat sudah dapat diambil hasilnya [panen].
2. Lokasi yang Dekat dengan Sumber Air
Tersedianya air yang cukup merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam usaha dunia perikanan. Oleh sebab itu hendaknya mendapatkan perhatian yang cukup serius. Apabila keadaan air di suatu tambak sudah tidak sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk hidupnya lobster, sebaiknya harus segera diganti agar tidak berakibat fatal.
Dengan demikian air untuk tambak harus selalu tersedia dengan cukup agar memudahkan petambak melakukan penggantian air. Apabila persediaan air di sumbernya berkurang sedangkan air di dalam tambak sudah seharusnya diganti, maka pergantian air tidak dapat dilakukan dengan segera. akibatnya proses pertumbuhan lobster dapat terganggu. Dengan demikian pemilihan lokasi tambak harus mempertimbangkan tinggi rendahnya permukaan air.
Beberapa keuntungan tambak yang dekat dengan sungai, yaitu
- Benih lobster maupun hasil panen dapat diangkut melalui perahu dengan mudah dan cepat.
- Air di dalam tambak dengan mudah dapat diganti.
- Makanan lobster yang berupa plankton dan jasad renik, mudah didapat, karena masuk dari sungai bersamaan air yang diisikan ke tambak.
Tetapi kalau terpaksa, lahan tambak yang jauh dari sumber air atau sungai dapat juga memberikan hasil yang cukup memadai. Asalkan saja perlu diusahakan pembuatan saluran air yang menghubungkan antara sumber air dengan tambak. Sekiranya dapat ditempuh dengan parit sebaiknya menggali tanah di sekitar pematang utama sebagai saluran irigasi. Karena hal ini dapat mengurangi biaya.
Apabila membangun tambak dekat dengan sumber air atau sungai, hendaknya posisi tanah yang dipilih lebih tinggi dari ketinggian air ketika banjir. Untuk hal ini dapat diambil acuan dari bekas banjir [ketinggian air] pada pohon. Biasanya bekas banjir akan selalu sejajar dengan pohon yang lainnya. Selanjutnya dapat dibuat rancangan profil yang lebih tinggi dari bekas genangan air tadi. Dengan cara ini tambak akan selamat dari ancaman ketika terjadi banjir.
Kenyataannya lokasi tambak yang dekat dengan sungai sangat menguntungkan petambak, karena dapat melakukan pergantian air tepat pada waktunya. Dengan demikian memudahkan petambak untuk membuang air ketika kwalaitasnya sudah tidak sesuai untuk kehidupan lobster.
Berbeda halnya dengan lokasi yang dekat dengan pantai atau laut, harus menyesuaikan perbedaan pasang surut dalam pembangunannya. Hal ini disebabkan sumber pengairan sangat tergantung dari ketinggian waktu pasang dan kerendahan saat surut.
Setelah ketinggian pasang surut air laut diketahui, barulah pelataran atau dasar tambak dibuat lebih rendah dari sumber air ketika surut. Dengan demikian pemasukan air dapat dilakukan kapan saja.
Untuk memasukkan air dari sumbernya yaitu sungai atau pesisir ke dalam tambak dapat dilakukan dengan menggunakan pompa air. Sedangkan pada saat membuangnya cukup membuka pintu air yang dekat dengan pesisir atau sungai. Bagian depan pintu dipasang kerai yaitu anyaman bambu dengan tujuan untuk menahan lobster agar lobster tidak turut keluar bersamaan air yang dibuang.
Proses pergantian air tidak selalu harus dilakukan setiap hari, Tetapi tergantung pada kondisi air tambak dan tingkah laku lobster di dalam tambak. Jika lobster seringkali muncul ke permukaan air, dan warna air berubah menjadi cokelat, maka perlu dilakukan penggantian air.
Apabila tambak berada jauh dari sumber air atau sungai, pergantian air tidak dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Umumnya tambak dibiarkan begitu saja sehingga sisa makanan dan kotoran bercampur, sehingga mengakibatkan kadar oksigen terlarut berkurang dan lobster akan kekurangan oksigen dan plankton. Akibatnya mengalami pertumbuhan yang lambat.
Subscribe to:
Posts (Atom)