BUDIDAYA BELUT
Pembudidayaan belut mula-mula diteliti di Cina sebelum perang
Dunia II, dan di Taiwan sesudah perang. Kini budidaya belut telah mulai di lakukan di Indonesia. Budidaya belut tidaklah sulit. Dengan sedikit pengetahuan, semua orang pasti dapat langung mempraktekkannya. Selain itu budidaya belut tidak butuh banyak biaya, tempat luas, serta perhatian intensif, karena belut dari alam tidak rewel. Bila akan menternakan tempat pemeliharaan tinggal disesuaikan dengan keadaan alam asalnya. Sebenarnya semua tempat dapat digunakan untuk pemeliharaan. Namun saat ini ada dua jenis cara beternak belut, yaitu beternak belut di kolam dan di dalam bak pelester semen.
Pada dasarnya berternak belut terdiri dari dua langkah pemeliharaan. Yaitu langkah pertama adalah pembenihan dan langkah kedua adalah pembesaran.
A. Pembenihan
Belut dapat dibenihkan sendiri dengan cara yang mudah dan murah. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memilih induk jantan dan betina yang baik. Cara membedakan induk jantan dan betina dapat dilihat ari ciri-ciri belut jantan dan betina.
Pembenihan perlu memperhatikan musim kawin belut, karena perkawinan belut hanya terjadi sekali dalam satu tahun. Perkawinannya terjadi pada musim hujan. Dan pemijahannya terjadi pada malam hari dengan temperatur air berkisar antara 28 – 31 derajat celcius.
Banyaknya belut yang dimasukan ke dalam kolam pemijahan berukuran 1 meter persegi adalah satu ekor belut jantan dan dua ekor belut betina. Setelah induk belut dimasukan ke dalam kolam pembibitan, kolam perlu diperiksa setiap hari. Perhatikan permukaan air, jika sudah terbentuk gelembung-gelembung busa, itu tandanya belut sudah membuat lubang perkawinan.
Gelembung–gelembung busa biasanya terjadi selama sepuluh hari. Setelah itu akan menghilang. Menghilangnya gelembung busa menandakan bahwa perkawinan belut sudah berakhir. Terjadinya gelembung busa juga menandakan bahwa pekawinan belut berhasil dilakukan, dan kita tinggal menunggu menetasnya telur.
Setelah telur menetas, anak belut bisa ditangkap pada usia 5-8 hari. Benih ini kemudian dimasukan ke dalam kolam pembesaran benih, sedangkan induknya dipindahkan ke dalam kolam penampungan bibit.
B. Penampungan Induk Belut
Induk belut betina harus dipisahkan dengan anak belut. Biasanya ditampung dalam kolam tersendiri. Konstruksi kolam untuk penampungan induk belut telah dibicarakan di atas. Dalam penampungan induk belut tiap 1 meter persegi hanya dapat disimpan 6 ekor induk saja. Jadi banyaknya induk belut yang dismpan dalam kolam penampungan harus disesuaikan dengan besarnya kolam penampungan. Penyimpanan induk belut hanya dilakukan untuk induk betina saja, karena induk jantan pada umumnya sudah tidak produktif lagi. Diharapkan induk betina yang disimpan, akan menjadi induk jantan di masa perkawinan yang akan datang.
C. Pembesaran Bibit Belut (Pendederan)
Pada dasarnya, pembesaran bibit belut terdiri dari dua bagian, yaitu pembesaran dan penjarangan.
1. Pembesaran
Anak-anak belut yang telah berumur 5-8 hari sebaiknya segera diambil dan dipisahkan pada kolam tersendiri. Konstrusi kolam untuk pendederan anak belut telah dibicarakan sebelumnya. Banyaknya benih belut yang dapat ditampung di kolam adalah 500 ekor setiap 1 meter persegi.
Belut yang dibesarkan di kolam pembesaran harus di angkat setiap 2 bulan sekali. Karena setiap dua bulan sekali, bahan organik yang ditumpuk di kolam harus diganti. Biasanya pada dua bulan pertama, anak belut yang dibesarkan dapat mencapai ukuran 5-8 sentimeter. Anak belut berukuran 5-8 sentimeter ini cocok untuk dijadikan benih bagi petani ikan yang tidak melakukan pembibitan. Jadi jika kita bermaksud menjual bibit belut, maka dua bulan pertama pembesaran dapat dipanen.
Namun jika kita bermaksud untuk memanen belut untuk ukuran konsumsi, maka anak belut harus tetap dipelihara lagi. Caranya adalah, kolam pembesaran diganti dahulu bahan-bahan organiknya. Hal ini dilakukan sama pada saat membuat kolam pembesaran yang pertama, yaitu dengan menumpuk sekam padi, dedak kasar, pupuk kandang, dan jerami.
Setelah hal itu dilakukan, belut dimasukan kembali ke dalam kolam, tetapi banyaknya belut yang dimasukan dikurangi. Kalau pada pendederan pertama sebanyak 500 ekor tiap satu meter persegi, maka pada pembesaran kedua sebanyak seratus ekor tiap meter persegi.
Selama dua bulan ke dua, belut akan bertambah panjang menjadi 15 sentimeter. Belut dengan ukuran itu dapat dipanen dan dijual.
Namun, ada juga yang memerlukan belut dalam ukuran yang lebih besar. Belut ini dapat dipelihara kembali hingga berukuran 25-30 cm. Pada tahap ini, kembali dilakukan penjarangan. Adapun kepadatannya berkisar antara 25 ekor tiap meter persegi.
Gambar belut yang siap dipanen
Showing posts with label Budidaya. Show all posts
Showing posts with label Budidaya. Show all posts
Thursday, 18 August 2016
Budidaya Belut
BUDIDAYA BELUT
Pembudidayaan belut mula-mula diteliti di Cina sebelum perang
Dunia II, dan di Taiwan sesudah perang. Kini budidaya belut telah mulai di lakukan di Indonesia. Budidaya belut tidaklah sulit. Dengan sedikit pengetahuan, semua orang pasti dapat langung mempraktekkannya. Selain itu budidaya belut tidak butuh banyak biaya, tempat luas, serta perhatian intensif, karena belut dari alam tidak rewel. Bila akan menternakan tempat pemeliharaan tinggal disesuaikan dengan keadaan alam asalnya. Sebenarnya semua tempat dapat digunakan untuk pemeliharaan. Namun saat ini ada dua jenis cara beternak belut, yaitu beternak belut di kolam dan di dalam bak pelester semen.
Pada dasarnya berternak belut terdiri dari dua langkah pemeliharaan. Yaitu langkah pertama adalah pembenihan dan langkah kedua adalah pembesaran.
A. Pembenihan
Belut dapat dibenihkan sendiri dengan cara yang mudah dan murah. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memilih induk jantan dan betina yang baik. Cara membedakan induk jantan dan betina dapat dilihat ari ciri-ciri belut jantan dan betina.
Pembenihan perlu memperhatikan musim kawin belut, karena perkawinan belut hanya terjadi sekali dalam satu tahun. Perkawinannya terjadi pada musim hujan. Dan pemijahannya terjadi pada malam hari dengan temperatur air berkisar antara 28 – 31 derajat celcius.
Banyaknya belut yang dimasukan ke dalam kolam pemijahan berukuran 1 meter persegi adalah satu ekor belut jantan dan dua ekor belut betina. Setelah induk belut dimasukan ke dalam kolam pembibitan, kolam perlu diperiksa setiap hari. Perhatikan permukaan air, jika sudah terbentuk gelembung-gelembung busa, itu tandanya belut sudah membuat lubang perkawinan.
Gelembung–gelembung busa biasanya terjadi selama sepuluh hari. Setelah itu akan menghilang. Menghilangnya gelembung busa menandakan bahwa perkawinan belut sudah berakhir. Terjadinya gelembung busa juga menandakan bahwa pekawinan belut berhasil dilakukan, dan kita tinggal menunggu menetasnya telur.
Setelah telur menetas, anak belut bisa ditangkap pada usia 5-8 hari. Benih ini kemudian dimasukan ke dalam kolam pembesaran benih, sedangkan induknya dipindahkan ke dalam kolam penampungan bibit.
B. Penampungan Induk Belut
Induk belut betina harus dipisahkan dengan anak belut. Biasanya ditampung dalam kolam tersendiri. Konstruksi kolam untuk penampungan induk belut telah dibicarakan di atas. Dalam penampungan induk belut tiap 1 meter persegi hanya dapat disimpan 6 ekor induk saja. Jadi banyaknya induk belut yang dismpan dalam kolam penampungan harus disesuaikan dengan besarnya kolam penampungan. Penyimpanan induk belut hanya dilakukan untuk induk betina saja, karena induk jantan pada umumnya sudah tidak produktif lagi. Diharapkan induk betina yang disimpan, akan menjadi induk jantan di masa perkawinan yang akan datang.
C. Pembesaran Bibit Belut (Pendederan)
Pada dasarnya, pembesaran bibit belut terdiri dari dua bagian, yaitu pembesaran dan penjarangan.
1. Pembesaran
Anak-anak belut yang telah berumur 5-8 hari sebaiknya segera diambil dan dipisahkan pada kolam tersendiri. Konstrusi kolam untuk pendederan anak belut telah dibicarakan sebelumnya. Banyaknya benih belut yang dapat ditampung di kolam adalah 500 ekor setiap 1 meter persegi.
Belut yang dibesarkan di kolam pembesaran harus di angkat setiap 2 bulan sekali. Karena setiap dua bulan sekali, bahan organik yang ditumpuk di kolam harus diganti. Biasanya pada dua bulan pertama, anak belut yang dibesarkan dapat mencapai ukuran 5-8 sentimeter. Anak belut berukuran 5-8 sentimeter ini cocok untuk dijadikan benih bagi petani ikan yang tidak melakukan pembibitan. Jadi jika kita bermaksud menjual bibit belut, maka dua bulan pertama pembesaran dapat dipanen.
Namun jika kita bermaksud untuk memanen belut untuk ukuran konsumsi, maka anak belut harus tetap dipelihara lagi. Caranya adalah, kolam pembesaran diganti dahulu bahan-bahan organiknya. Hal ini dilakukan sama pada saat membuat kolam pembesaran yang pertama, yaitu dengan menumpuk sekam padi, dedak kasar, pupuk kandang, dan jerami.
Setelah hal itu dilakukan, belut dimasukan kembali ke dalam kolam, tetapi banyaknya belut yang dimasukan dikurangi. Kalau pada pendederan pertama sebanyak 500 ekor tiap satu meter persegi, maka pada pembesaran kedua sebanyak seratus ekor tiap meter persegi.
Selama dua bulan ke dua, belut akan bertambah panjang menjadi 15 sentimeter. Belut dengan ukuran itu dapat dipanen dan dijual.
Namun, ada juga yang memerlukan belut dalam ukuran yang lebih besar. Belut ini dapat dipelihara kembali hingga berukuran 25-30 cm. Pada tahap ini, kembali dilakukan penjarangan. Adapun kepadatannya berkisar antara 25 ekor tiap meter persegi.
Gambar belut yang siap dipanen
Pembudidayaan belut mula-mula diteliti di Cina sebelum perang
Dunia II, dan di Taiwan sesudah perang. Kini budidaya belut telah mulai di lakukan di Indonesia. Budidaya belut tidaklah sulit. Dengan sedikit pengetahuan, semua orang pasti dapat langung mempraktekkannya. Selain itu budidaya belut tidak butuh banyak biaya, tempat luas, serta perhatian intensif, karena belut dari alam tidak rewel. Bila akan menternakan tempat pemeliharaan tinggal disesuaikan dengan keadaan alam asalnya. Sebenarnya semua tempat dapat digunakan untuk pemeliharaan. Namun saat ini ada dua jenis cara beternak belut, yaitu beternak belut di kolam dan di dalam bak pelester semen.
Pada dasarnya berternak belut terdiri dari dua langkah pemeliharaan. Yaitu langkah pertama adalah pembenihan dan langkah kedua adalah pembesaran.
A. Pembenihan
Belut dapat dibenihkan sendiri dengan cara yang mudah dan murah. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memilih induk jantan dan betina yang baik. Cara membedakan induk jantan dan betina dapat dilihat ari ciri-ciri belut jantan dan betina.
Pembenihan perlu memperhatikan musim kawin belut, karena perkawinan belut hanya terjadi sekali dalam satu tahun. Perkawinannya terjadi pada musim hujan. Dan pemijahannya terjadi pada malam hari dengan temperatur air berkisar antara 28 – 31 derajat celcius.
Banyaknya belut yang dimasukan ke dalam kolam pemijahan berukuran 1 meter persegi adalah satu ekor belut jantan dan dua ekor belut betina. Setelah induk belut dimasukan ke dalam kolam pembibitan, kolam perlu diperiksa setiap hari. Perhatikan permukaan air, jika sudah terbentuk gelembung-gelembung busa, itu tandanya belut sudah membuat lubang perkawinan.
Gelembung–gelembung busa biasanya terjadi selama sepuluh hari. Setelah itu akan menghilang. Menghilangnya gelembung busa menandakan bahwa perkawinan belut sudah berakhir. Terjadinya gelembung busa juga menandakan bahwa pekawinan belut berhasil dilakukan, dan kita tinggal menunggu menetasnya telur.
Setelah telur menetas, anak belut bisa ditangkap pada usia 5-8 hari. Benih ini kemudian dimasukan ke dalam kolam pembesaran benih, sedangkan induknya dipindahkan ke dalam kolam penampungan bibit.
B. Penampungan Induk Belut
Induk belut betina harus dipisahkan dengan anak belut. Biasanya ditampung dalam kolam tersendiri. Konstruksi kolam untuk penampungan induk belut telah dibicarakan di atas. Dalam penampungan induk belut tiap 1 meter persegi hanya dapat disimpan 6 ekor induk saja. Jadi banyaknya induk belut yang dismpan dalam kolam penampungan harus disesuaikan dengan besarnya kolam penampungan. Penyimpanan induk belut hanya dilakukan untuk induk betina saja, karena induk jantan pada umumnya sudah tidak produktif lagi. Diharapkan induk betina yang disimpan, akan menjadi induk jantan di masa perkawinan yang akan datang.
C. Pembesaran Bibit Belut (Pendederan)
Pada dasarnya, pembesaran bibit belut terdiri dari dua bagian, yaitu pembesaran dan penjarangan.
1. Pembesaran
Anak-anak belut yang telah berumur 5-8 hari sebaiknya segera diambil dan dipisahkan pada kolam tersendiri. Konstrusi kolam untuk pendederan anak belut telah dibicarakan sebelumnya. Banyaknya benih belut yang dapat ditampung di kolam adalah 500 ekor setiap 1 meter persegi.
Belut yang dibesarkan di kolam pembesaran harus di angkat setiap 2 bulan sekali. Karena setiap dua bulan sekali, bahan organik yang ditumpuk di kolam harus diganti. Biasanya pada dua bulan pertama, anak belut yang dibesarkan dapat mencapai ukuran 5-8 sentimeter. Anak belut berukuran 5-8 sentimeter ini cocok untuk dijadikan benih bagi petani ikan yang tidak melakukan pembibitan. Jadi jika kita bermaksud menjual bibit belut, maka dua bulan pertama pembesaran dapat dipanen.
Namun jika kita bermaksud untuk memanen belut untuk ukuran konsumsi, maka anak belut harus tetap dipelihara lagi. Caranya adalah, kolam pembesaran diganti dahulu bahan-bahan organiknya. Hal ini dilakukan sama pada saat membuat kolam pembesaran yang pertama, yaitu dengan menumpuk sekam padi, dedak kasar, pupuk kandang, dan jerami.
Setelah hal itu dilakukan, belut dimasukan kembali ke dalam kolam, tetapi banyaknya belut yang dimasukan dikurangi. Kalau pada pendederan pertama sebanyak 500 ekor tiap satu meter persegi, maka pada pembesaran kedua sebanyak seratus ekor tiap meter persegi.
Selama dua bulan ke dua, belut akan bertambah panjang menjadi 15 sentimeter. Belut dengan ukuran itu dapat dipanen dan dijual.
Namun, ada juga yang memerlukan belut dalam ukuran yang lebih besar. Belut ini dapat dipelihara kembali hingga berukuran 25-30 cm. Pada tahap ini, kembali dilakukan penjarangan. Adapun kepadatannya berkisar antara 25 ekor tiap meter persegi.
Gambar belut yang siap dipanen
Persiapan Bak Budidaya Belut
PERSIAPAN BAK BUDIDAYA BELUT
Dalam membudidayakan belut sebenarnya semua tempat dapat digunakan untuk pemeliharaan. Hal ini dikarenakan belut tidak rewel. Namun dalam buku ini hanya akan dibicarakan budidaya belut di bak semen.
Dalam membudidayakan belut, ada beberapa bak yang perlu dipersiapkan. Pembuatan bak-bak ini dilakukan guna memaksimalkan budidaya, sehingga saat pemanenan diperoleh belut dengan ukuran yang seragam.
Bak untuk pemeliharaan belut terdiri dari beberapa bak, yaitu: Bak pembibitan, bak pemeliharaan, dan bak pembesaran.
A. BAK Pembibitan Belut
1. Konstruksi bak
Bak pembibitan belut dibuat persegi empat. Bak pembibitan belut dibuat supaya kedap air. Untuk itu, bak harus terbuat dari semen. Bak ini tidak perlu luas, tetapi cukup dibangun dengan ukuran l x p x t = 100 x 200 x 60 cm.
2. Pemberian Media
Telah kita ketahui bahwa di alam, belut hidup di dalam lumpur. Untuk itu, pada bak tersebut harus dikondisikan seperti layaknya tempat hidup belut di alam.
Setelah tersedia bak semen untuk pembibitan, tahap selanjutnya adalah pemberian media. Adapun langkah-langkah pemberian media itu adalah sebagai berikut.
1. Pemberian Lumpur
Pada dasar kolam diberi lumpur. Lumpur diharapkan diambil dari sawah. Adapun ketebalannya 15 sampai 20 cm. Kemudian, cangkullah lumpur itu hingga benar-benar halus.
Pemberian lumpur dimaksudkan untuk mempermudah belut menggali lubang perkawinan.
Dalam masa perkawinan, belut jantan akan menggali lubang 10 cm ke bawah lalu membengkok lurus datar, selanjutnya kembali ke atas
2. Pemupukan
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan pemupukan kolam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang yang telah matang. Adapun banyaknya pemberian pupuk adalah 10 cm atau sebanyak 30 kg untuk kolam seluas 10 meter persegi.
3. Pemberian lumpur
Setelah kolam dipupuk, kembali diberi lumpur. Pemberian lumpur diatur ketebalannya. Satu sisi dengan ketebalan 10 cm dan sisi lainnya dengan ketebalan 20 cm. Bagian yang kosong nantinya akan diberi air.
4. Pemberian Air
Aliri kolam dengan air. Namun terlebih dahulu saluran pemasukan dan pembedahan air di tutup dahulu dengan saringan. Hal ini dilakukan agar belut tidak kabur dari kolam. Perlu diingat , air dalam bak harus selalu dalam keadaan mengalir dan kondisinya mirip sawah.
Tinggi air dalam kolam pemeliharaan kurang lebih 20 sentimeter pada bagian yang terdalam dan 15 sentimeter pada bagian yang terdangkal. Diusahakan lumpur yang terbentuk pada kolam ketinggiannya mencapai minimal 15 sentimeter, karena belut akan membentuk lubang berbentuk U kurang lebih 10 sentimeter di bawah permukaan air.
B. BAK Pendederan
Tempat yang perlu disiapkan selain bak pembibitan adalah kolam pendederan. Luas kolam pendederan disesuaikan dengan banyaknya benih yang akan didederkan. Biasanya setiap 1 meter persegi, banyaknya benih yang ditaburkan adalah sebanyak 500 ekor yang berukuran kurang lebih 1 sentimeter.
Sebelum digunakan, bak perlu diberi media. Adapun langkah-langkah pemberian media adalah sebagai berikut.
1. Pemberian Sekam dan Dedak Kasar
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat lapisan dasar kolam dari sekam padi dan dedak kasar dengan perbandingan 1 : 1, sampai setebal 10 sentimeter
2. Pemupukan
Tahap selanjutnya adalah pemupukan. Setelah diberi sekam dan dedak kasar langkah selanjutnya adalah pemberian pupuk kandang kering. Adapun banyaknya pupuk yang diberikan setebal 10 sentimeter.
3. Pemberian Sekam Padi dan Dedak Kasar
Setelah dilapisi pupuk, kembali dilapisi sekam padi dan dedak kassar. Adapun banyaknya pemberian sekam padi dan dedak kasar setebal 10 sentimeter.
4. Pemberian Jerami
Di atas lapisan sekam dan dedak, simpan jerami yang sudah lapuk. Agar lapisan tersebut tidak tercampur baur, maka di atas lapisan jerami, tutup dengan bambu kasar yang tiap sudutnya ditindih dengan batu.
Setelah bahan-bahan organis tertumpuk pada kolam, langkah selanjutnya adalah mengalirkan air ke dalam kolam. Pada saat pengisian air perlu diperhatikan, jangan sampai ada ikan atau binatang lain yang akan memangsa atau mengganggu pendederan belut.
C. BAK Penampungan Induk
Induk belut yang sudah memijah, perlu dipisahkan dari bak pembibitan.Pemisahan ini dilakukan untuk memelihara induk. Dengan demikian, induk belut akan siap dipijahkan kembali.
1. Konstruksi Bak
Bak berbentuk segi empat. Bak tersebut merupakan bak semen. Adapun ukuran bak cukup l x p x t = 2 x 3 x 1 meter.
2. Pemberian Media
Adapun media yang dapat diberikan kepada kolam penampuangan induk adalah sebagai berikut.
a. Sebelum bak penampungan digunakan, sebaiknya bak diberi bahan organik seperti sekam padi atau dedak kasar. Adapun banyaknya sekam padi atau dedak kasar tersebut kira-kira setinggi 10 cm.
b. Kemudian, berilah pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam, kambing, atau sapi. Adapun ketebalannya 10 cm.
c. Tahap selanjutnya adalah pemberian dedak kasar setebal 10 cm. Dan diakhiri dengan pemberian ikatan merang atau jerami kering.
d. Agar bahan-bahan di atas tidak bertebaran kemana-mana saat pemberian air. Pada bagian atas ikatan merang atau jerami kering diberi anyaman bambu dan diberi pemberat berupa batu.
e. Agar belut tidak menggali sarang, sebaiknya dibenamkan bumbung bambu berdiameter 10 cm sepanjang 40 cm dan dipasang dengan posisi miring. Ujung bambu sebaiknya muncul sedikit saja pada permukaan lumpur. Jumlah bumbung yang disediakan sesuai dengan jumlah induk belut yang diungsikan.
f. Kemudian, kolam diberi air. Setelah penuh, taruhlah pada permukaan air tersebut cincangan batang pohon pisang hingga membusuk. Hal ini akan mengundang nyamuk untuk bertelur. Nantinya, jentik-jentik nyamuk akan menjadi pakan belut.
Gambar pemberian cincangan pelepah pisang
Dalam membudidayakan belut sebenarnya semua tempat dapat digunakan untuk pemeliharaan. Hal ini dikarenakan belut tidak rewel. Namun dalam buku ini hanya akan dibicarakan budidaya belut di bak semen.
Dalam membudidayakan belut, ada beberapa bak yang perlu dipersiapkan. Pembuatan bak-bak ini dilakukan guna memaksimalkan budidaya, sehingga saat pemanenan diperoleh belut dengan ukuran yang seragam.
Bak untuk pemeliharaan belut terdiri dari beberapa bak, yaitu: Bak pembibitan, bak pemeliharaan, dan bak pembesaran.
A. BAK Pembibitan Belut
1. Konstruksi bak
Bak pembibitan belut dibuat persegi empat. Bak pembibitan belut dibuat supaya kedap air. Untuk itu, bak harus terbuat dari semen. Bak ini tidak perlu luas, tetapi cukup dibangun dengan ukuran l x p x t = 100 x 200 x 60 cm.
2. Pemberian Media
Telah kita ketahui bahwa di alam, belut hidup di dalam lumpur. Untuk itu, pada bak tersebut harus dikondisikan seperti layaknya tempat hidup belut di alam.
Setelah tersedia bak semen untuk pembibitan, tahap selanjutnya adalah pemberian media. Adapun langkah-langkah pemberian media itu adalah sebagai berikut.
1. Pemberian Lumpur
Pada dasar kolam diberi lumpur. Lumpur diharapkan diambil dari sawah. Adapun ketebalannya 15 sampai 20 cm. Kemudian, cangkullah lumpur itu hingga benar-benar halus.
Pemberian lumpur dimaksudkan untuk mempermudah belut menggali lubang perkawinan.
Dalam masa perkawinan, belut jantan akan menggali lubang 10 cm ke bawah lalu membengkok lurus datar, selanjutnya kembali ke atas
2. Pemupukan
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan pemupukan kolam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang yang telah matang. Adapun banyaknya pemberian pupuk adalah 10 cm atau sebanyak 30 kg untuk kolam seluas 10 meter persegi.
3. Pemberian lumpur
Setelah kolam dipupuk, kembali diberi lumpur. Pemberian lumpur diatur ketebalannya. Satu sisi dengan ketebalan 10 cm dan sisi lainnya dengan ketebalan 20 cm. Bagian yang kosong nantinya akan diberi air.
4. Pemberian Air
Aliri kolam dengan air. Namun terlebih dahulu saluran pemasukan dan pembedahan air di tutup dahulu dengan saringan. Hal ini dilakukan agar belut tidak kabur dari kolam. Perlu diingat , air dalam bak harus selalu dalam keadaan mengalir dan kondisinya mirip sawah.
Tinggi air dalam kolam pemeliharaan kurang lebih 20 sentimeter pada bagian yang terdalam dan 15 sentimeter pada bagian yang terdangkal. Diusahakan lumpur yang terbentuk pada kolam ketinggiannya mencapai minimal 15 sentimeter, karena belut akan membentuk lubang berbentuk U kurang lebih 10 sentimeter di bawah permukaan air.
B. BAK Pendederan
Tempat yang perlu disiapkan selain bak pembibitan adalah kolam pendederan. Luas kolam pendederan disesuaikan dengan banyaknya benih yang akan didederkan. Biasanya setiap 1 meter persegi, banyaknya benih yang ditaburkan adalah sebanyak 500 ekor yang berukuran kurang lebih 1 sentimeter.
Sebelum digunakan, bak perlu diberi media. Adapun langkah-langkah pemberian media adalah sebagai berikut.
1. Pemberian Sekam dan Dedak Kasar
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat lapisan dasar kolam dari sekam padi dan dedak kasar dengan perbandingan 1 : 1, sampai setebal 10 sentimeter
2. Pemupukan
Tahap selanjutnya adalah pemupukan. Setelah diberi sekam dan dedak kasar langkah selanjutnya adalah pemberian pupuk kandang kering. Adapun banyaknya pupuk yang diberikan setebal 10 sentimeter.
3. Pemberian Sekam Padi dan Dedak Kasar
Setelah dilapisi pupuk, kembali dilapisi sekam padi dan dedak kassar. Adapun banyaknya pemberian sekam padi dan dedak kasar setebal 10 sentimeter.
4. Pemberian Jerami
Di atas lapisan sekam dan dedak, simpan jerami yang sudah lapuk. Agar lapisan tersebut tidak tercampur baur, maka di atas lapisan jerami, tutup dengan bambu kasar yang tiap sudutnya ditindih dengan batu.
Setelah bahan-bahan organis tertumpuk pada kolam, langkah selanjutnya adalah mengalirkan air ke dalam kolam. Pada saat pengisian air perlu diperhatikan, jangan sampai ada ikan atau binatang lain yang akan memangsa atau mengganggu pendederan belut.
C. BAK Penampungan Induk
Induk belut yang sudah memijah, perlu dipisahkan dari bak pembibitan.Pemisahan ini dilakukan untuk memelihara induk. Dengan demikian, induk belut akan siap dipijahkan kembali.
1. Konstruksi Bak
Bak berbentuk segi empat. Bak tersebut merupakan bak semen. Adapun ukuran bak cukup l x p x t = 2 x 3 x 1 meter.
2. Pemberian Media
Adapun media yang dapat diberikan kepada kolam penampuangan induk adalah sebagai berikut.
a. Sebelum bak penampungan digunakan, sebaiknya bak diberi bahan organik seperti sekam padi atau dedak kasar. Adapun banyaknya sekam padi atau dedak kasar tersebut kira-kira setinggi 10 cm.
b. Kemudian, berilah pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam, kambing, atau sapi. Adapun ketebalannya 10 cm.
c. Tahap selanjutnya adalah pemberian dedak kasar setebal 10 cm. Dan diakhiri dengan pemberian ikatan merang atau jerami kering.
d. Agar bahan-bahan di atas tidak bertebaran kemana-mana saat pemberian air. Pada bagian atas ikatan merang atau jerami kering diberi anyaman bambu dan diberi pemberat berupa batu.
e. Agar belut tidak menggali sarang, sebaiknya dibenamkan bumbung bambu berdiameter 10 cm sepanjang 40 cm dan dipasang dengan posisi miring. Ujung bambu sebaiknya muncul sedikit saja pada permukaan lumpur. Jumlah bumbung yang disediakan sesuai dengan jumlah induk belut yang diungsikan.
f. Kemudian, kolam diberi air. Setelah penuh, taruhlah pada permukaan air tersebut cincangan batang pohon pisang hingga membusuk. Hal ini akan mengundang nyamuk untuk bertelur. Nantinya, jentik-jentik nyamuk akan menjadi pakan belut.
Gambar pemberian cincangan pelepah pisang
Sunday, 14 August 2016
Budidaya ikan cupang
Akhir-akhir ini, ikan cupang banyak dikoleksi oleh para penggemarnya. Hal ini selain cupang adu, muncul pula cupang hias dengan keindahan ekornya yang bergerigi. Karena mulai banyaknya penggemar, harganyapun mulai meningkat. Dengan demikian, banyak pula penggemar ikan hias yang mengembangbiakkannya.
Sebenarnya di beberapa daerah seperti Palembang dan sekitarnya, ikan ini telah lama digemari. Lama-kelamaan di Kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta bermunculan pula para penggemar ikan ini.
a. cupang adu b. cupang hias
Gambar berbagai jenis ikan cupang
Cupang termasuk ikan yang tidak sukar untuk dikembangbiakkan. Anda pun dapat mengembangbiakan ikan ini. Jika Anda belum pernah mengembangbiakkan ikan ini, ikutilah langkah-langkah berikut ini!
Pilihlah sepasang cupang yang telah dewasa. Para penggemar ikan hias tidak akan kesulitan membedakan antara cupang jantan dan cupang betina. Cupang jantan memiliki warna tubuh yan g lebih kontras dari cupang betina. Untuk memilih bibit cupang betina yang telah siap bertelur terlihat dari perutnya yang telah gemuk. Selain itu terlihat pula dari lubang duburnya yang terdapat bintik putih.
Media yang digunakan untuk mengembangbiakan adalah akuarium kecil dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm. Catlah sisi-sisi kaca, kecuali pada bagian depan. Kemudian, simpanlah di tempat yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia. hal ini karena selama proses perkembangbiakan akuarium tidak boleh dipindahkan. Isilah akuarium dengan air yang tidak terlalu tinggi. Kira-kira ketinggian air 10-15 cm dari dasar akuarium. Perhatikan gambar berikut!
Gambar akuarium
Diharapkan, jangan meletakkan apapun ke dalam akuarium itu, misalnya: batu-batu hias. Hal ini akan menyulitkan nantinya saat cupang betina bertelur. Setelah semuanya siap, masukkan sepasang cupang yang akan dikembangbiakkan ke dalam akuarium. Kemudian, tutuplah akuarium dengan menggunakan tripleks. Sisakan lubang agar udara dapat masuk ke dalamnya. Tutup ini bertujuan agar cupang dapat membentuk buih-buih yang kelak akan dimanfaatkan untuk menyimpan telur. Jika akuarium tidak ditutup, buih kemungkinan akan pecah karena tertiup angin.
Mulai saat itu, cupang jantan akan membentuk buih. Sampai saat itu, Anda masih dapat memberikan makanan berupa cacing pada pasangan ikan itu. Setelah beberapa hari buih terbentuk di permukaan air. Cupang betina pun bertelur. Cupang jantan akan melilit tubuh cupang betina. Hingga, cupang betina itu mengeluarkan telur dan berjatuhan di dasar akuarium. Sepasang cupang itu akan melayang sesaat. Itu adalah saat saat yang indah.
Gambar. si jantan sedang melilit si betina untuk mengeluarkan telur
Lalu, cupang jantan melepaskan lilitannya. Ia segera memakan telur-telur yang berserakan dan mengeluarkannya di permukaan air bersama buih-buih. Telur-telur itu terperangkap di dalam buih. Setelah telur di dasar akuarium dipindahkan ke permukaan air bersama buih, kembali cupang jantan melilit cupang betina. Peristiwa itu terjadi 2 hingga 3 kali.
Tahap selanjutnya, Anda harus mengangkat cupang betina dari akuarium tersebut. Ini di khawatirkan karena cupang betina akan memakan lagi telur itu. Selain itu, cupang betina tidak akan berperan dalam penetasan telur.
Mulai saat itu, cupang jantan yang akan merawat telur. Kira-kira 2-3 hari kemudian, telur pun menetas. Anak yang berjatuhan dari buih akan diambil oleh sang ayah dan di simpan kembali di atas buih. Si anak pun mulai berenang.
Saat itu, cupang jantan dapat diberi makan cacing sedikit saja. Diharapkan sekali makan habis. Jika cacing tidak habis, anak yang jatuh akan dimakan cacing.
Setelah anak berusia satu hingga dua minggu, si anak mulai dapat berenang. Jika si ayah tampak memakani anaknya, dibuktikan dengan berkurangnya jumlah anak, si ayah harus dipindahkan. Biarkan anak cupang itu tumbuh sendiri. Makanan yang diberikan untuk anak cupang adalah cacing kering yang dihaluskan. Kemudian, setelah berusia beberapa minggu, barulah dapat diberi makan kutu air.
Sebenarnya di beberapa daerah seperti Palembang dan sekitarnya, ikan ini telah lama digemari. Lama-kelamaan di Kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta bermunculan pula para penggemar ikan ini.
a. cupang adu b. cupang hias
Gambar berbagai jenis ikan cupang
Cupang termasuk ikan yang tidak sukar untuk dikembangbiakkan. Anda pun dapat mengembangbiakan ikan ini. Jika Anda belum pernah mengembangbiakkan ikan ini, ikutilah langkah-langkah berikut ini!
Pilihlah sepasang cupang yang telah dewasa. Para penggemar ikan hias tidak akan kesulitan membedakan antara cupang jantan dan cupang betina. Cupang jantan memiliki warna tubuh yan g lebih kontras dari cupang betina. Untuk memilih bibit cupang betina yang telah siap bertelur terlihat dari perutnya yang telah gemuk. Selain itu terlihat pula dari lubang duburnya yang terdapat bintik putih.
Media yang digunakan untuk mengembangbiakan adalah akuarium kecil dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm. Catlah sisi-sisi kaca, kecuali pada bagian depan. Kemudian, simpanlah di tempat yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia. hal ini karena selama proses perkembangbiakan akuarium tidak boleh dipindahkan. Isilah akuarium dengan air yang tidak terlalu tinggi. Kira-kira ketinggian air 10-15 cm dari dasar akuarium. Perhatikan gambar berikut!
Gambar akuarium
Diharapkan, jangan meletakkan apapun ke dalam akuarium itu, misalnya: batu-batu hias. Hal ini akan menyulitkan nantinya saat cupang betina bertelur. Setelah semuanya siap, masukkan sepasang cupang yang akan dikembangbiakkan ke dalam akuarium. Kemudian, tutuplah akuarium dengan menggunakan tripleks. Sisakan lubang agar udara dapat masuk ke dalamnya. Tutup ini bertujuan agar cupang dapat membentuk buih-buih yang kelak akan dimanfaatkan untuk menyimpan telur. Jika akuarium tidak ditutup, buih kemungkinan akan pecah karena tertiup angin.
Mulai saat itu, cupang jantan akan membentuk buih. Sampai saat itu, Anda masih dapat memberikan makanan berupa cacing pada pasangan ikan itu. Setelah beberapa hari buih terbentuk di permukaan air. Cupang betina pun bertelur. Cupang jantan akan melilit tubuh cupang betina. Hingga, cupang betina itu mengeluarkan telur dan berjatuhan di dasar akuarium. Sepasang cupang itu akan melayang sesaat. Itu adalah saat saat yang indah.
Gambar. si jantan sedang melilit si betina untuk mengeluarkan telur
Lalu, cupang jantan melepaskan lilitannya. Ia segera memakan telur-telur yang berserakan dan mengeluarkannya di permukaan air bersama buih-buih. Telur-telur itu terperangkap di dalam buih. Setelah telur di dasar akuarium dipindahkan ke permukaan air bersama buih, kembali cupang jantan melilit cupang betina. Peristiwa itu terjadi 2 hingga 3 kali.
Tahap selanjutnya, Anda harus mengangkat cupang betina dari akuarium tersebut. Ini di khawatirkan karena cupang betina akan memakan lagi telur itu. Selain itu, cupang betina tidak akan berperan dalam penetasan telur.
Mulai saat itu, cupang jantan yang akan merawat telur. Kira-kira 2-3 hari kemudian, telur pun menetas. Anak yang berjatuhan dari buih akan diambil oleh sang ayah dan di simpan kembali di atas buih. Si anak pun mulai berenang.
Saat itu, cupang jantan dapat diberi makan cacing sedikit saja. Diharapkan sekali makan habis. Jika cacing tidak habis, anak yang jatuh akan dimakan cacing.
Setelah anak berusia satu hingga dua minggu, si anak mulai dapat berenang. Jika si ayah tampak memakani anaknya, dibuktikan dengan berkurangnya jumlah anak, si ayah harus dipindahkan. Biarkan anak cupang itu tumbuh sendiri. Makanan yang diberikan untuk anak cupang adalah cacing kering yang dihaluskan. Kemudian, setelah berusia beberapa minggu, barulah dapat diberi makan kutu air.
Budidaya Diskus
Tentunya kita tidak pernah membayangkan bahwa memelihara ikan hias dapat menghasilkan uang jutaan rupiah. Ikan hias apakah itu? Tentunya ikan hias Diskus. Cobalah Anda beternak ikan ini. Jika berhasil, hanya dengan sepasang ikan diskus Leopard, Anda dapat menjual ikan dengan tidak kurang dari 10 juta rupiah.
Alasan ekonomi inilah yang menyebabkan banyak kalangan penggemar ikan hias untuk mengembangbiakkan diskus. Bahkan, sebagian dari mereka yang serius membentuk perkumpulan sesama penggemar.
Hal ini menyebabkan jenis ikan ini sedang banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia. Entah di mana kehebatannya. Namun, sebagian orang mengatakan bahwa ikan ini memiliki bentuk yang unik.
Gambar 3.1. Berbagai jenis diskus
Asyik sekali beternak diskus jika kita sudah dapat mengembangbiakkannya. Jika Anda ingin mencoba mengembangbiakkan ikan ini, perhatikanlah langkah-langkah berikut ini. Namun, sebelumnya, ada hal-hal yang harus diperhatikan jika kita hendak memelihara atau mengembangbiakkan ikan discus.
1. Pemilihan Induk
Sebelum mengembangbiakkan diskus, setidaknya Anda harus benar-benar dapat memilih benih ikan diskus yang sehat untuk dikembangbiakan. Hal-hal tersebut adalah:
a. Pilihlah ikan yang terbesar di antara kelompoknya dalam satu akuarium. Tubuh yang besar menandakan bahwa pertumbuhan ikan tersebut sangat baik.
b. Perhatikan pula bentuk tubuh ikan diskus tersebut. Ikan diskus yang sehat memiliki bentuk tubuh yang bulat.
c. Pastikan tidak ada sisik yang terepas. Sebab, bila ada, ikan tersebut pernah sakit. Umumnya, ikan diskus yang sakit, sisiknya akan tanggal.
d. Perhatikan sirip atas dan bawahnya. Umumnya, ikan discus yang kondisinya baik, saat berenang, sirip atas dan bawahnya mengembangkan dengan sempurna.
e. Perhatikan bentuk matanya. Bentuk mata ikan diskus yang normal, tidak menonjol. Bila mata ikan diskus terlihat menonjol, ikan tersebut kondisinya kurang baik.
f. Perbedaan umur ikan jantan dan betina jangan terlalu mencolok. Pilihlah jantan berumur 1 -2 bulan lebih tua dari betinanya.
g. Jantan dan betina harus matang kelamin dan berumur 1 - 1,5 tahun. Diskus Blue diamond matang kelamin usia 2 tahun, sedangkan Diskus cobalt matang kelamin antara umur 8 -12 bulan. Namun, matang kelamin dapat dipercepat dengan pemberian pakan yang berprotein tinggi, seperti campuran daging udang dan hati sapi atau telur udang.
2. Tempat Pemijahan
Sediakan akuarium dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 40 cm supaya perkawinan terjadi secara intensif. Kemudian beri sekat kawat, sehingga tidak terjadi pemangsaan. Perhatikan gambar berikut!
Gambar 3.2. Akuarium dengan ukuran 50cm x 50 cm x 40 cm dengan diberi sekat kawat pada tengahnya
Catlah kaca seluruh sisinya, kecuali pada bagian depannya. Hal ini agar diskus dapat berkonsentrasi pada pasangannya. Kemudian, gangguan dari lingkungan luar dapat dikurangi.
Untuk pemijahan diskus, stabilitas air sangat menentukan keberhasilan. Untuk itu, tempatkan akuarium di tempat yang tertutup. Diskus dangat cocok dipijahkan di daerah dingin seperti Bandung dan Bogor. Bila perlu, untuk mencapai suhu optimal, gunakanlah heater atau lampu listrik. Ini bertujuan untuk menjaga kestabilan suhu, bukan untuk mencapai suhu tertentu. Dengan demikian, tanpa pemanas pun dapat dilakukan asal suhu dapat dijaga kestabilannya.
Jangan lupa pasang saringan dalam akuarium tersebut. Saringan yang digunakan sebaiknya menggunakan Bio spon filter. Filter air ini selain menyaring kotoran juga menghembuskan oksigen, sehingga suplai oksigen dalam air tercukupi.
Kemudian, pilihlah calon induk berukuran 5 inci hingga 6 inci. Induk berukuran besar bisa bertelur dan menggendong anak lebih banyak. Sekali bertelur diskus menghasilkan 300-400 butir telur. yang berhasil menjadi burayak paling hanya 200-300 ekor.
Masukkan sepasang ikan itu ke dalam akuarium dengan terpisah oleh sekat. Jika kedua ikan itu tampak akur. sekat dapat di buka. Dengan demikian, kedua ikan itu dapat kawin.
Diskus termasuk siklid yang suka menempelkan telur di permukaan benda-benda keras. Untuk itu, di dalam akuarium pemijahan disediakan media tempel telur. Media tersebut bisa berupa botol keramik, tegel poselen, atau alat tempel telur berbentuk corong terbalik (cone). Pilihlah permukaan media yang sehalus mungkin tanpa pori-pori.
Menjelang bertelur, diskus akan meneliti tempat untuk menyimpan telur. Kedua ikan jantan dan betina itu akan selalu beriringan mencari tempat yang cocok untuk bertelur. Diskus betina kemudian bertelur dengan menempelkannya di tempat yang cocok. lalu sang jantan menyemprotkan sperma pada telur-telur itu. Kegiatan itu terjadi berulang-ulang. Setiap kali bertelur, diskus membutuhkan waktu selama satu jam.
Ada dua metode pembudidayaan diskus, yaitu: disusui dengan induk atau dengan inang asuh. Jika Anda memilih metode pertama, segeralah lindungi media tempel telur dengan kawat ram. Hal ini bertujuan agar jika suatu saat diskus kaget, ia tidak akan memakan telurnya.
Setelah 2 hingga 3 hari, telur akan menetas. Larva akan tetap menempel pada tempatnya selama empat hari hingga menghabiskan cadangan makanannya. Sesekali, induk diskus akan menghampiri anaknya seolah-olah hendak memakannya. Padahal, ia sebenarnya hendak mengyemburkan air yang mengandung oksigen, sehingga anak diskus dapat bernafas dengan baik. Ada kalanya, sang induk memindahkan anaknya ke tempat yang lebih baik dengan cara memasukkan anak itu ke dalam mulutnya.
Lama-lama, burayak akan terlepas dari media tempel telur dan mendekati induknya. Pada usia 3 hingga 4 minggu, burayak akan tumbuh bersama induknya. Ia memakan lendir ibunya. Kemudian, mulailah diberi pakan alami yaitu artemia.
Metode kedua jika dipelihara oleh inang asuh, siapkan akuarium penetasan telur ukuran 15 cm x 15cm x 30 cm. Perhatikan gambar berikut!
Gambar 3.3. Akuarium dgn ukuran 15 x 15 x 30 cm
Jangan lupa lengkapi dengan aerasi secukupnya. Bubuhkan pula methilene blue untuk mencegah serangan cendawan. Lalu, pindahkan cone yang ditempeli telur ke dalam akuarium baru itu dengan hati-hati.
Jika telur telah menetas, saat larva berusia 4 hari, larva ikan dapat dipidahkan kembali. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan selang siphon. Inang asuh adalah diskus jenis cobalt. Jenis ini dipilih karena berwarna gelap. Larva suka di tempat yang gelap. Kemudian, diskus jenis cobalt harganya murah. Namun, sebaiknya inang asuh ini kondisinya juga sedang mengasuh anak. Jadi, tubuhnya masih berlendir untuk diberikan kepada anak asuhnya yang baru. Selamat mencoba!
Alasan ekonomi inilah yang menyebabkan banyak kalangan penggemar ikan hias untuk mengembangbiakkan diskus. Bahkan, sebagian dari mereka yang serius membentuk perkumpulan sesama penggemar.
Hal ini menyebabkan jenis ikan ini sedang banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia. Entah di mana kehebatannya. Namun, sebagian orang mengatakan bahwa ikan ini memiliki bentuk yang unik.
Gambar 3.1. Berbagai jenis diskus
Asyik sekali beternak diskus jika kita sudah dapat mengembangbiakkannya. Jika Anda ingin mencoba mengembangbiakkan ikan ini, perhatikanlah langkah-langkah berikut ini. Namun, sebelumnya, ada hal-hal yang harus diperhatikan jika kita hendak memelihara atau mengembangbiakkan ikan discus.
1. Pemilihan Induk
Sebelum mengembangbiakkan diskus, setidaknya Anda harus benar-benar dapat memilih benih ikan diskus yang sehat untuk dikembangbiakan. Hal-hal tersebut adalah:
a. Pilihlah ikan yang terbesar di antara kelompoknya dalam satu akuarium. Tubuh yang besar menandakan bahwa pertumbuhan ikan tersebut sangat baik.
b. Perhatikan pula bentuk tubuh ikan diskus tersebut. Ikan diskus yang sehat memiliki bentuk tubuh yang bulat.
c. Pastikan tidak ada sisik yang terepas. Sebab, bila ada, ikan tersebut pernah sakit. Umumnya, ikan diskus yang sakit, sisiknya akan tanggal.
d. Perhatikan sirip atas dan bawahnya. Umumnya, ikan discus yang kondisinya baik, saat berenang, sirip atas dan bawahnya mengembangkan dengan sempurna.
e. Perhatikan bentuk matanya. Bentuk mata ikan diskus yang normal, tidak menonjol. Bila mata ikan diskus terlihat menonjol, ikan tersebut kondisinya kurang baik.
f. Perbedaan umur ikan jantan dan betina jangan terlalu mencolok. Pilihlah jantan berumur 1 -2 bulan lebih tua dari betinanya.
g. Jantan dan betina harus matang kelamin dan berumur 1 - 1,5 tahun. Diskus Blue diamond matang kelamin usia 2 tahun, sedangkan Diskus cobalt matang kelamin antara umur 8 -12 bulan. Namun, matang kelamin dapat dipercepat dengan pemberian pakan yang berprotein tinggi, seperti campuran daging udang dan hati sapi atau telur udang.
2. Tempat Pemijahan
Sediakan akuarium dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 40 cm supaya perkawinan terjadi secara intensif. Kemudian beri sekat kawat, sehingga tidak terjadi pemangsaan. Perhatikan gambar berikut!
Gambar 3.2. Akuarium dengan ukuran 50cm x 50 cm x 40 cm dengan diberi sekat kawat pada tengahnya
Catlah kaca seluruh sisinya, kecuali pada bagian depannya. Hal ini agar diskus dapat berkonsentrasi pada pasangannya. Kemudian, gangguan dari lingkungan luar dapat dikurangi.
Untuk pemijahan diskus, stabilitas air sangat menentukan keberhasilan. Untuk itu, tempatkan akuarium di tempat yang tertutup. Diskus dangat cocok dipijahkan di daerah dingin seperti Bandung dan Bogor. Bila perlu, untuk mencapai suhu optimal, gunakanlah heater atau lampu listrik. Ini bertujuan untuk menjaga kestabilan suhu, bukan untuk mencapai suhu tertentu. Dengan demikian, tanpa pemanas pun dapat dilakukan asal suhu dapat dijaga kestabilannya.
Jangan lupa pasang saringan dalam akuarium tersebut. Saringan yang digunakan sebaiknya menggunakan Bio spon filter. Filter air ini selain menyaring kotoran juga menghembuskan oksigen, sehingga suplai oksigen dalam air tercukupi.
Kemudian, pilihlah calon induk berukuran 5 inci hingga 6 inci. Induk berukuran besar bisa bertelur dan menggendong anak lebih banyak. Sekali bertelur diskus menghasilkan 300-400 butir telur. yang berhasil menjadi burayak paling hanya 200-300 ekor.
Masukkan sepasang ikan itu ke dalam akuarium dengan terpisah oleh sekat. Jika kedua ikan itu tampak akur. sekat dapat di buka. Dengan demikian, kedua ikan itu dapat kawin.
Diskus termasuk siklid yang suka menempelkan telur di permukaan benda-benda keras. Untuk itu, di dalam akuarium pemijahan disediakan media tempel telur. Media tersebut bisa berupa botol keramik, tegel poselen, atau alat tempel telur berbentuk corong terbalik (cone). Pilihlah permukaan media yang sehalus mungkin tanpa pori-pori.
Menjelang bertelur, diskus akan meneliti tempat untuk menyimpan telur. Kedua ikan jantan dan betina itu akan selalu beriringan mencari tempat yang cocok untuk bertelur. Diskus betina kemudian bertelur dengan menempelkannya di tempat yang cocok. lalu sang jantan menyemprotkan sperma pada telur-telur itu. Kegiatan itu terjadi berulang-ulang. Setiap kali bertelur, diskus membutuhkan waktu selama satu jam.
Ada dua metode pembudidayaan diskus, yaitu: disusui dengan induk atau dengan inang asuh. Jika Anda memilih metode pertama, segeralah lindungi media tempel telur dengan kawat ram. Hal ini bertujuan agar jika suatu saat diskus kaget, ia tidak akan memakan telurnya.
Setelah 2 hingga 3 hari, telur akan menetas. Larva akan tetap menempel pada tempatnya selama empat hari hingga menghabiskan cadangan makanannya. Sesekali, induk diskus akan menghampiri anaknya seolah-olah hendak memakannya. Padahal, ia sebenarnya hendak mengyemburkan air yang mengandung oksigen, sehingga anak diskus dapat bernafas dengan baik. Ada kalanya, sang induk memindahkan anaknya ke tempat yang lebih baik dengan cara memasukkan anak itu ke dalam mulutnya.
Lama-lama, burayak akan terlepas dari media tempel telur dan mendekati induknya. Pada usia 3 hingga 4 minggu, burayak akan tumbuh bersama induknya. Ia memakan lendir ibunya. Kemudian, mulailah diberi pakan alami yaitu artemia.
Metode kedua jika dipelihara oleh inang asuh, siapkan akuarium penetasan telur ukuran 15 cm x 15cm x 30 cm. Perhatikan gambar berikut!
Gambar 3.3. Akuarium dgn ukuran 15 x 15 x 30 cm
Jangan lupa lengkapi dengan aerasi secukupnya. Bubuhkan pula methilene blue untuk mencegah serangan cendawan. Lalu, pindahkan cone yang ditempeli telur ke dalam akuarium baru itu dengan hati-hati.
Jika telur telah menetas, saat larva berusia 4 hari, larva ikan dapat dipidahkan kembali. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan selang siphon. Inang asuh adalah diskus jenis cobalt. Jenis ini dipilih karena berwarna gelap. Larva suka di tempat yang gelap. Kemudian, diskus jenis cobalt harganya murah. Namun, sebaiknya inang asuh ini kondisinya juga sedang mengasuh anak. Jadi, tubuhnya masih berlendir untuk diberikan kepada anak asuhnya yang baru. Selamat mencoba!
Subscribe to:
Posts (Atom)