MANFAAT RUMPUT LAUT
Rumput laut banyak memiliki manfaat. Adapun manfaat rumput laut adalah sebagai berikut.
1. Sebagai Bahan Makanan
Sejak tahun 1670, manusia memanfaatkan rumput laut secara ekonomis. Awalnya, manusia memanfaatkan rumput laut untuk kebutuhan konsumsi.
Di Indonesia sendiri, rumput laut juga telah dimanfaatkan oleh penduduk di sekitar pantai. Umumnya, mereka memanfaatkannya untuk kebutuhan konsumsi, yaitu: untuk sayur, lalap, bahan membuat kue, puding, dan manisan.
Pada tahun 1930, Indonesia mulai memanfaatkan rumput laut sebagai bahan pembuat agar-agar. Hal ini ditandai dengan berdirinya suatu pabrik penghasil agar-agar terbesar pertama di Indonesia. Awalnya pabrik tersebut berdiri di Kudus. Kemudian, sesuai kebutuhan, dibangun pabrik agar-agar di beberapa kota lainnya, seperti di Surabaya, Jakarta, dan Ujung Pandang.
Ada beberapa jenis rumput laut yang dapat dijadikan bahan makanan di Indonesia. Jenis-jenis rumput laut yang dapat diusahakan sebagai bahan makanan itu tertera pada tabel sebagai berikut.
Nilai gizi
Sebagai bahan makanan, rumput laut banyak mengandung nutrisi sebagai berikut.
1. Karbohidrat
2. Sedikit protein dan lemak
3. Abu yang sebagian besar terdiri dari natrium dan kalium
4. air 80-90%
Selain komposisi utama tersebut, sayuran laut sangat kaya akan senyawa kecil yang penting.
Nilai makanan dari rumput laut sebagian besar terletak pada karbohidrat. Kandungan protein dan kadar lemak antara jenis yang satu dengan jenis yang lain tidak selalu sama. Kandungan karbohidrat juga memiliki daya larut yang berbeda dan tidak seluruhnya dapat dicerna.
Di samping itu, rumput laut juga kaya akan vitamin A dan vitamin E. Setiap 100 gram rumput laut dapat memenuhi kebutuhan Natrium, Kalium, dan Magnesium.
2. Rumput Laut Sebagai Bahan Industri
Beberapa jenis rumput laut terutama kelompok ganggang merah, dapat dimanfaatkan untuk memproduksi berbagai jenis gumi alami atau mucilages atau karagin, dengan berbagai macam kegunaan.
Karena sampai saat ini sebagian besar hasil produksi tersebut belum dapat ditiru dengan bahan-bahan sintetis, rumput laut tetap memegang peran yang cukup penting.
Adapun beberapa kegunaan hasil produksi rumput laut adalah sebagai berikut.
a. Agar-agar
Agar-agar dapat dibuat dari ganggang jenis Gracilaria Gelidium, Gelidiopsis, dan Hpnea. Di Indonesia agar-agar dibuat dari Gelidiospsis regida, sedangkan di Jepang dibuat dari Gelidium sp yang dikenal sebagai kanten. Di Cina, agar-agar dibuat dari Gracilariaverrucosa.
Penggunaan agar-agar yang penting adalah untuk pupukan bakteri dan mikroba lain, seperti kapang, dan khamir. Karena dengan penambahan beberapa zat ke dalamnya, larutan encer agar-agar dapat menjadi gel dimana mikroba dapat tumbuh. Di samping itu di bidang kosmetika, agar-agar juga berguna utnuk pembuatan cream, lotion, salep, tapal gigi, dan sebagainya.
b Karagin
Jenis utama penghasil karagin umumnya adalah Eucheuma spinosum, Eucheuma striatum, dan Eucheuma cotonii (Sri Istini, dkk, 1985)
Penggunaan karagin yang utama dalam bidang industri adalah untuk gelasi, pengentalan, stabilisator, emulfisier, dan untuk suspensi, serta pengendalian pertumbuhan kristal.
c. Furcellaran
Furcellaran dibuat dari ganggang merah jenis Furcellaran fastigata forma aegagrapila (F.G Winarno, 1985). Furcelaran terdiri dari dua komponen yang menyerupai karagin yang memiliki daya gelasi dan pengental.
Secara umum, rumput laut bermanfaat sebagai bahan industri. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
1). Bidang farmasi
Dalam bidang farmasi, rumput laut berfungsi sebagai bahan peluntur, bahan suspensi, emulfisier, stabilisator, tablet, salep, kulit kapsul, plester, filter, dan sebagainya.
2) Bidang industri makanan
Pada bidang industri makanan, rumput laut berfungsi untuk thickener, saus, mentega, sayur. Selain itu, rumput laut juga digunakan dalam produk-produk susu, minuman, makanan untuk diet, produk daging, ikan kaleng, dan sebagainya.
3) Bidang kosmetika
Pada industri kosmetik, rumput laut juga memegang peranan yang sangat penting, yaitu dalam pembuatan sabun, cream, lotion, shampoo, pencelup rambut tapal gigi, dan masker.
4) Bidang industri lain
Pada bidang industri lainnya pun rumput laut banyak berperan contoh dalam pembuatan kertas dan industri tekstil, pengalengan makanan, industri fotografi, insektisida, pestisida, dan sebagainya.
Friday, 9 December 2016
JENIS RUMPUT LAUT YANG BERNILAI EKONOMIS
Dari sekian jenis komoditi laut, rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan yang akhir-akhir ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarat adalah cottonii. Jenis ini banyak dibudidayakan karena teknologi produksinya relatif murah serta penanganan pasca panen relatif mudah dan sederhana.
Di Indonesia, rumput laut yang memiliki nilai ekonomis penting, umumnya berasal dari kelompok Rhodophyceae (ganggang merah). Ada dua jenis yang terkenal, yaitu Eucheuma dan Gracilaria. eucheuma dikenal sebagai penghasil karagenan, sedangkan Gracilaria sebagai penghasil agar-agar. Senyawa-senyawa ini sangat dibutuhkan dalam industri makanan, obat-obatan, dan kosmetika.
Skema Klasifikasi Rumput laut dan hasil olahannya
Rumput Laut
Chlorophyceae Cyanophyceae Rhodophceae Phaephyceae
(Alga hijau) (Alga biru-hijau) (Alga merah) (Alga coklat)
Gracilaria Chondrus Fulcellaria Ascophylum
Gelidium Eucheuma Laminaria
Gigartina
Macrocystis
Sargasum
Fulcellaran Agar Karaginan Alginat
Sumber: Warta Apbiri, 1996
Tabel. Jenis rumput laut yang dimanfaatkan sebagai kosmetik dan obat tradisional
Jenis rumput laut Digunakan untuk
Kedua jenis rumput laut ini telah banyak dibudidayakan. Budidaya laut adalah suatu usaha untuk memanfaatkan perairan pantai semaksimal mungkin dengan jalan memelihara ikan, kerang-kerangan, rumput laut, dan biota lainnya yang bernilai ekonomis penting, baik sebagai sumber protein ataupun komoditi ekspor. Namun, selama ini usaha yang dilakukan kebanyakan terbatas hanya dengan cara penangkapan atau pengumpulan data alam saja, sehingga lama kelamaan dapat mengalami penurunan populasi dan dikhawatirkan akan punah. Agar dapat dimanfaatkan secara intensif dan berkesinambungan, perlu dikembangkan usaha budidayanya.
Beberapa jenis Chlorophyta dan Phaerophyta juga mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian yang dilakukan pakar Indonesia maupun pakar asing. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa Sargassum, Hormophysa, dan Turbinaria (ketiganya termasuk Phaeophyta) mengandung bahan kimia algin; sedangkan beberapa jenis Chlorophyta, seperti Ulva, Caulerpa, dan Enteromorpha telah dimanfaatkan masyarakat pesisir sebagai makanan sayuran atau makanan ternak dan ikan.
Jenis-Jenis Rumput Laut
Jenis-jenis Rumput laut (Ganggang)
Ganggang yang sering disebut rumput laut oleh para petani adalah jenis tanaman tingkat rendah. Hal ini dikatakan demikian karena tanaman ini tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Meskipun kita lihat bahwa ganggang sepertinya memiliki batang dan daun, tetapi sebenarnya itu hanyalah thalus belaka.
Manusia mengklasifikasikan ganggang berdasarkan warnanya. Oleh karena itu, ganggang diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Gangang hijau (Chlorophyceae)
2. Ganggang biru hijau (Cyanophyceae)
3. Ganggang coklat (Phaeopyceae)
4. Ganggang merah (Rhodophyceae)
1. Ganggang hijau (Chlorophyceae)
Ganggang ini disebut ganggang hijau karena memang berwarna hijau. Ganggang ini hanyalah mempunyai sel warna berupa chlorophyl.
Pada umumnya, ganggang hijau hidup sebagai plankton, baik pada air tawar, air payau, maupun air laut. ganggang ini merupakan sumber makanan alami bagi ikan yang hidup di alam.
2. Ganggang Biru (Cyanophyceae)
Ganggang biru sangat dekat kelasnya dengan bakteria, karena merupakan organisme kecil yang bersel tunggal. Kumpulan ganggang ini berwarna biru atau hijau kebiruan.
Beberapa jenis ganggang biru hijau yang hidup di air payau adalah Oscillatoria dan Phormidium. Mereka hidup membentuk kelompok di tambak, dan merupakan makanan alami utama bagi ikan bandeng di tambak air payau. Ganggang biru hijau sebagai mana ganggang hijau banyak hidup di air tawar.
3. Ganggang Coklat (Phaeopyceae)
Lain halnya dengan ganggang hijau dan ganggang biru hijau, ganggang coklat dan ganggang merah hampir secara eksklusif merupakan habitat laut. Ganggang inilah yang banyak disebut orang sebagai rumput laut. Ganggang coklat memiliki anggota tubuh seperti batang yang mengeras agar dapat menahan arus gelombang laut. Ada pula ganggang yang memiliki daya tempel yang tinggi terhadap batukarang dan sejenisnya sehingga kokoh pada tempatnya. Contoh ganggang itu adalah Labi-labi (turbinari conoides) dan ribbon kelp (laminaria).
Selain hidup menempel pada benda-benda laut, ganggang coklat ada yang hidup mengambang di permukaan laut. Mereka mampu mengambang karena memiliki semacam pelampung. Contoh ganggang ini adalah Sargassum siliquosum.
Gambar 2.2. Berbagai jenis ganggang coklat
Turbinaria dan Sargassum
Gambar 2.3. Berbagai jenis ganggang coklat.
4. Ganggang Merah (Rhodophyceae)
Ganggang merah juga hidup di laut. Ganggang ini memiliki jenis yang banyak sekali. Bahkan dari jenis inilah agar-agar dan karagin banyak dihasilkan. Adapun jenis-jenisnya adalah sebagai berikut.
a. Kelompok penghasil agar-agar (agarophyt)
1) Gracilaria
2) Gelidium
3) Ahnfeltia
4) Pterocladia
5) Acanthopeltis
b. Kelompok penghasil karagin (Carrageenophyt)
1) Chondrus
2) Eucheuma
3) Gigantina
4) Hypnea
Gambar 2.4. Berbagai jenis ganggang merah (Rhodephyceae)
Ganggang yang sering disebut rumput laut oleh para petani adalah jenis tanaman tingkat rendah. Hal ini dikatakan demikian karena tanaman ini tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Meskipun kita lihat bahwa ganggang sepertinya memiliki batang dan daun, tetapi sebenarnya itu hanyalah thalus belaka.
Manusia mengklasifikasikan ganggang berdasarkan warnanya. Oleh karena itu, ganggang diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Gangang hijau (Chlorophyceae)
2. Ganggang biru hijau (Cyanophyceae)
3. Ganggang coklat (Phaeopyceae)
4. Ganggang merah (Rhodophyceae)
1. Ganggang hijau (Chlorophyceae)
Ganggang ini disebut ganggang hijau karena memang berwarna hijau. Ganggang ini hanyalah mempunyai sel warna berupa chlorophyl.
Pada umumnya, ganggang hijau hidup sebagai plankton, baik pada air tawar, air payau, maupun air laut. ganggang ini merupakan sumber makanan alami bagi ikan yang hidup di alam.
2. Ganggang Biru (Cyanophyceae)
Ganggang biru sangat dekat kelasnya dengan bakteria, karena merupakan organisme kecil yang bersel tunggal. Kumpulan ganggang ini berwarna biru atau hijau kebiruan.
Beberapa jenis ganggang biru hijau yang hidup di air payau adalah Oscillatoria dan Phormidium. Mereka hidup membentuk kelompok di tambak, dan merupakan makanan alami utama bagi ikan bandeng di tambak air payau. Ganggang biru hijau sebagai mana ganggang hijau banyak hidup di air tawar.
3. Ganggang Coklat (Phaeopyceae)
Lain halnya dengan ganggang hijau dan ganggang biru hijau, ganggang coklat dan ganggang merah hampir secara eksklusif merupakan habitat laut. Ganggang inilah yang banyak disebut orang sebagai rumput laut. Ganggang coklat memiliki anggota tubuh seperti batang yang mengeras agar dapat menahan arus gelombang laut. Ada pula ganggang yang memiliki daya tempel yang tinggi terhadap batukarang dan sejenisnya sehingga kokoh pada tempatnya. Contoh ganggang itu adalah Labi-labi (turbinari conoides) dan ribbon kelp (laminaria).
Selain hidup menempel pada benda-benda laut, ganggang coklat ada yang hidup mengambang di permukaan laut. Mereka mampu mengambang karena memiliki semacam pelampung. Contoh ganggang ini adalah Sargassum siliquosum.
Gambar 2.2. Berbagai jenis ganggang coklat
Turbinaria dan Sargassum
Gambar 2.3. Berbagai jenis ganggang coklat.
4. Ganggang Merah (Rhodophyceae)
Ganggang merah juga hidup di laut. Ganggang ini memiliki jenis yang banyak sekali. Bahkan dari jenis inilah agar-agar dan karagin banyak dihasilkan. Adapun jenis-jenisnya adalah sebagai berikut.
a. Kelompok penghasil agar-agar (agarophyt)
1) Gracilaria
2) Gelidium
3) Ahnfeltia
4) Pterocladia
5) Acanthopeltis
b. Kelompok penghasil karagin (Carrageenophyt)
1) Chondrus
2) Eucheuma
3) Gigantina
4) Hypnea
Gambar 2.4. Berbagai jenis ganggang merah (Rhodephyceae)
Habitat dan Sebaran Rumput Laut di Indonesia
Habitat dan Sebaran
1. Habitat
Di dasar laut, rumput laut hidup menempel pada benda-benda padat, seperti batu dan karang mati. Selain itu, rumput laut dapat menempel pada rumput lainnya. Alat penempelnya pun bervariasi. Ada yang menggunakan cakram pelekat. Contohnya adalah Gracilaria. Ada pula yang yang menggunakan stolon merambat. Contohnya adalah Caulerpa.
Rumput laut hidup di daerah pasang surut hingga kedalaman beberapa meter. Namun, daerah tersebut masih tertembus oleh cahaya matahari. Keberadaannya masing-masing jenis tumbuhan ini sangat bergantung pada berbagai faktor oseanografis, seperti sifat fisika, sifat kimia, dan dinamika perairan.
2. Sebaran Rumput Laut di Indonesia
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki perairan pantai yang sangat baik dan juga memiliki posisi strategis sebagai penghasil rumput laut. Kita tahu bahwa rumput laut memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Namun, jika kita hanya mengandalkan produksi dari alam, tentunya rumput laut akan habis juga. Untuk itu, setelah melihat peluang tersebut, diperlukan usaha untuk meningkatkan sumber daya hayati perairan yang masih rendah produktifitasnya. Salah satu caranya yaitu dengan pembudidayaan.
Gambar 2.1. Peta strategis daerah budidaya rumput laut.
Lahan peraian Indnesia yang potensial telah mendorong para petani dan pengusaha untuk membudidayakan rumput laut. Usaha budidaya ini berkembang di beberapa daerah, seperti Bali, NTB, NTT, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Riau Kepulauan, Lampung Selatan, dan Maluku Utara.
1. Habitat
Di dasar laut, rumput laut hidup menempel pada benda-benda padat, seperti batu dan karang mati. Selain itu, rumput laut dapat menempel pada rumput lainnya. Alat penempelnya pun bervariasi. Ada yang menggunakan cakram pelekat. Contohnya adalah Gracilaria. Ada pula yang yang menggunakan stolon merambat. Contohnya adalah Caulerpa.
Rumput laut hidup di daerah pasang surut hingga kedalaman beberapa meter. Namun, daerah tersebut masih tertembus oleh cahaya matahari. Keberadaannya masing-masing jenis tumbuhan ini sangat bergantung pada berbagai faktor oseanografis, seperti sifat fisika, sifat kimia, dan dinamika perairan.
2. Sebaran Rumput Laut di Indonesia
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki perairan pantai yang sangat baik dan juga memiliki posisi strategis sebagai penghasil rumput laut. Kita tahu bahwa rumput laut memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Namun, jika kita hanya mengandalkan produksi dari alam, tentunya rumput laut akan habis juga. Untuk itu, setelah melihat peluang tersebut, diperlukan usaha untuk meningkatkan sumber daya hayati perairan yang masih rendah produktifitasnya. Salah satu caranya yaitu dengan pembudidayaan.
Gambar 2.1. Peta strategis daerah budidaya rumput laut.
Lahan peraian Indnesia yang potensial telah mendorong para petani dan pengusaha untuk membudidayakan rumput laut. Usaha budidaya ini berkembang di beberapa daerah, seperti Bali, NTB, NTT, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Riau Kepulauan, Lampung Selatan, dan Maluku Utara.
Mengenal dan produksi rumput laut
Rumput laut (seaweed) adalah algae (ganggang) makroskopis
yang hidup di dasar laut. Istilah rumput laut, umumnya digunakan oleh para nelayan dan dunia perdagangan. Sebenarnya, penamaan ini kurang tepat. Hal ini karena dalam sistem klasifikasi tumbuhan, rumput laut tidak termasuk ke dalam suku Gramineae (rumput-rumputan), melainkan dalam kelompok Algae (ganggang).
A. Bentuk Rumput laut
Dilihat dari bentuknya, rumput laut sangat mirip dengna rumput-rumputan yang tumbuh di darat. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih teliti, rumput laut tidak memiliki perbedaan yang jelas antara susunan kerangka, antaralain: akar, batang, dan daun. Berbeda halnya dengan rumput-rumputan yang jelas mana akar, batang, dan daunnya.
Keseluruhan cabang tumbuhan rumput laut disebut thallus. Namun, ada pula rumput laut yang mempunyai bentuk kerangka tubuh menyerupai tumbuhan rumput-rumputan, yaitu berakar, berbatang, dan berdaun, bahkan berbuah. Contoh rumput laut tersebut adalah Sargassum.
Bentuk thalus rumput laut sangat beragam. Ada yang bulat seperti tabung. Ada yang berbentuk pipih dan gepeng. Ada yang bebentuk bulat seperti kantung. Bahkan, ada pula yang berbentuk seperti rambut.
B. Produksi
Produksi rumput laut yang utama, terutama ditujukan untuk menghasilkan agar-agar dan karagin (karaginan).
Agar-agar diekstrak dari kelompok Agarophyt, yaitu dari kelas Rhodopyceae, yang antara lain adalah jenis Gracilaria, Gelidium, Ahnfeltia, Pterocladia, dan Acanthopeltis.
Karaginan diekstrak dari kelompok Carrageenophyt yang juga termasuk kelas Rhodophyceae dari jenis Eucheuma, Gracilaria, Gelidium, dan Hypnea.
Dari beberapa jenis agar tersebut di atas, yang terpenting adalah jenis eucheuma sp, karena sekitar 90% dari volume ekspor rumput laut di Indonesia adalah dari jenis tersebut.
Jenis Eucheuma ini sudah lama dibudidayakan orang karena mempunyai nilai ekonomis sebagai bahan ekspor. Carragenaan atau karagin banyak dipergunakan sebagai bahan pengental dan juga sebagai bahan pengimbang yang antara lain dipergunakan pada produksi berbagai macam makanan dan pasta gigi, industri farmasi, tekstil, industri karet, dan industri kertas.
Untuk memenuhi semua bahan baku industri tersebut, jumlah produksi Eucheuma sp tidak dapat diharapkan hanya dari hasil pemetikan alam saja, melainkan perlu membudidayakannya.
Secara alami Eucheuma spinosum tumbuh di daerah karang, pasang surut dan menempel pada subtrat yang berupa batu karang mati, kulit kerang, dan benda-benda keras lainnya.
yang hidup di dasar laut. Istilah rumput laut, umumnya digunakan oleh para nelayan dan dunia perdagangan. Sebenarnya, penamaan ini kurang tepat. Hal ini karena dalam sistem klasifikasi tumbuhan, rumput laut tidak termasuk ke dalam suku Gramineae (rumput-rumputan), melainkan dalam kelompok Algae (ganggang).
A. Bentuk Rumput laut
Dilihat dari bentuknya, rumput laut sangat mirip dengna rumput-rumputan yang tumbuh di darat. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih teliti, rumput laut tidak memiliki perbedaan yang jelas antara susunan kerangka, antaralain: akar, batang, dan daun. Berbeda halnya dengan rumput-rumputan yang jelas mana akar, batang, dan daunnya.
Keseluruhan cabang tumbuhan rumput laut disebut thallus. Namun, ada pula rumput laut yang mempunyai bentuk kerangka tubuh menyerupai tumbuhan rumput-rumputan, yaitu berakar, berbatang, dan berdaun, bahkan berbuah. Contoh rumput laut tersebut adalah Sargassum.
Bentuk thalus rumput laut sangat beragam. Ada yang bulat seperti tabung. Ada yang berbentuk pipih dan gepeng. Ada yang bebentuk bulat seperti kantung. Bahkan, ada pula yang berbentuk seperti rambut.
B. Produksi
Produksi rumput laut yang utama, terutama ditujukan untuk menghasilkan agar-agar dan karagin (karaginan).
Agar-agar diekstrak dari kelompok Agarophyt, yaitu dari kelas Rhodopyceae, yang antara lain adalah jenis Gracilaria, Gelidium, Ahnfeltia, Pterocladia, dan Acanthopeltis.
Karaginan diekstrak dari kelompok Carrageenophyt yang juga termasuk kelas Rhodophyceae dari jenis Eucheuma, Gracilaria, Gelidium, dan Hypnea.
Dari beberapa jenis agar tersebut di atas, yang terpenting adalah jenis eucheuma sp, karena sekitar 90% dari volume ekspor rumput laut di Indonesia adalah dari jenis tersebut.
Jenis Eucheuma ini sudah lama dibudidayakan orang karena mempunyai nilai ekonomis sebagai bahan ekspor. Carragenaan atau karagin banyak dipergunakan sebagai bahan pengental dan juga sebagai bahan pengimbang yang antara lain dipergunakan pada produksi berbagai macam makanan dan pasta gigi, industri farmasi, tekstil, industri karet, dan industri kertas.
Untuk memenuhi semua bahan baku industri tersebut, jumlah produksi Eucheuma sp tidak dapat diharapkan hanya dari hasil pemetikan alam saja, melainkan perlu membudidayakannya.
Secara alami Eucheuma spinosum tumbuh di daerah karang, pasang surut dan menempel pada subtrat yang berupa batu karang mati, kulit kerang, dan benda-benda keras lainnya.
Monday, 14 November 2016
Memperbaiki Jaring Ikan yang Rusak
Setelah selesai melakukan penangkapan ikan ada kalanya didapatkan jaring yang digunakan menjadi koyak atau rusak. Jaring yang rusak ini harus diperbaiki agar fungsinya dapat kembali seperti semula. Dalam memperbaiki jaring diketahui dua cara, yaitu : menjurai atau menyulam dan menambal jaring.
1. Menjurai atau Menyulam
Kegiatan dalam perbaikan jaring dengan cara menjurai adalah melakukan pembuatan jaring tanpa menambah atau memakai jaring yang sama dari potongan jaring/bahan yang lain. Kegiatan ini dilakukan pada kerusakan jaring yang kecil.
Kegiatan menjurai ada dua fase, yaitu :
1) Membersihkan jaring
Hal ini dimaksudkan agar simpul yang ada pada ruangan yang rusak menjadi bersih dan tidak ada lagi simpul yang berkaki tiga kecuali pada bagian awal dan akhir menjurai. Bagian awal menjurai biasanya terletak pada bagian atas dari kerusakan dan akhir menjurai biasanya dipilih pada bagian bawah dari kerusakan.
2) Menjurai atau menyulam bagian jaring yang rusak
Penjuraian dilakukan dari kaki tiga awal dibagian atas dan berakhir pada kaki tiga bagian bawah.
Prosedur pembersihan bagian jaring yang rusak adalah sebagai berikut :
1) Jaring diatur dan ditegakkan sedemikian rupa sehinggga jaring pada posisi yang benar dengan deretan simpul-simpul berada dalam satu garis lurus
2) Tentukan simpul awal pada titik tertinggi dari bagian jaring yang rusak dan potonglah satu bar, sehingga tersisa tiga bar/kaki dari simpil tersbut
3) Bersihkan mata berikutnya yang berada pada sisi kiri bagian jaring yang rusak dan otonglah satu bar pada tiap simpul dan tinggalkan dua bar sampai pada beberapa mata di bagian bawah jaring yang rusak.
4) Selanjutnya mulailah kembali dari atas dan bersihkan mata yang berada di sisi kanan bagian jaring yang rusak, lakukan sama seperti mata yang berada di sisi kiri sampai pada beberapa mata di bawah jaring yang rusak.
5) Bersihkan mata jaring yang tersisa serta tentukan simpul akhir dibagian paling bawah pada bagian jaring yang rusak dan potong satu bar hingga pada simpul akhir terdapat tiga bar/kaki.
Setelah jaring dibersihkan mulailah menyulam jaring. Penyulaman dimulai dari simpul awal, simpul-simpul yang di tengah yang berkakai dua dan berakhir pada simpul akhir. Untuk lebih jelasnya, kegiatan dalam memperbaiki jaring ini dapat dilihat pada gambar 17.
Gambar 17. Membersihkan jaring
Agar perbaikan jaring dapat berjalan dengan cepat dan efisien, maka deretan simpul jaring harus diluruskan dengan arah yang benar dan jaring yang akan diperbaiki disangga dengan baik. Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa cara yang umum dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Diperlukan bantuan untuk memegang jaring pada beberapa mata jaring di baris yang sama, langsung di atas bagian jaring yang akan diperbaiki.
2) Sejumlah mata jaring pada baris yang sama (dua kaki atau lebih di atas lubang yang akan diperbaiki) dikaitkan pada paku atau pengait di ketinggian yang diinginkan.
3) Jika dilakukan sambil duduk, sejumlah mata jaring yang sama dapat dilingkarkan pada jari-jari kaki.
4) Salah satu cara yang terbaik adalah merangkaikan beberapa mata jaring dan menjadikannya pada baris yang sama dengan menggunakan sebelah batang atau tongkat dan kemudian tongkat tersebut disangga pada kedua ujungnya.
5) Agar simpul-simpul pada jaring berada pada posisi dan arah yang benar. Jaring dapat direntangkangkan dengan menggunakan batang yang panjang, sehingga diperoleh hamparan jaring yang luas dan dapat dilihat dengan mudah dimana bagian-bagian yang rusak dan perlu diperbaiki.
Simpul-simpul yang digunakan dalam memperbaiki jaring sama dengan yang digunakan dalam membuat jaring, hanya dalam pengerjaannya tidak searah seperti pembuatan jaring. Cara-cara membuat simpul dalam perbaikan jaring ini dapat dilihat pada gambar 18. Ukuran lingkaran benang yang dibentuk didasarkan atas ukuran setengah mata jaring yang diukur dengan menarik bar ke bagian bawah dengan menggunakan jari-jari tangan. Gunakan jari telunjuk dan ibu jari untuk menekan titik tengah mata jaring dimana simpul dibuat.
Gambar 18. Cara membuat simpul yang digunakan
dalam perbaikan jaring
2. Menambal Jaring
Apabila jaring rusak berat dan ada bagian jaring yang hilang, kegiatan menjurai menjadi cara yang kurang praktis, karena memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu digunakan cara menambal, yaitu menambahkan bagian yang sama ukuran mata dan nomor benang dari persediaan yang ada pada bagian jaring yang rusak.
Urutan pekerjaan menambal jaring adalah sebagai berikut :
1) Bersihkan bagian jaring yang rusak sehingga berbentuk segi empat dan semua harus berkaki dua.
2) Hitung jumlah simpul pada bagian lebar (L) dan dalam (D).
3) Sediakan tambalan dari persediaan yang ada sebesar (L-1) dan (D-1).
4) Gabungkan tambahan pada bagian jaring yang berlubang. Pekerjaan dimulai dari bagian pojok kanan atas pada A mengelilingi tambalan dan berakhir di bagian pojok kiri bawah pada B (Gambar 19). Pekerjaan ini dapat cepat selesai bila yang mengerjakannya dua orang dengan arah penyulaman yang berlawanan. Simpul-simpul yang digunakan disini sama seperti yang digunakan pada pekerjaan menyulam jaring.
Gambar 19. Menambal jaring
Metode yang umum digunakan dalam penambalan jaring adalah memotong dan membuang bagian yang berlubang, kemudian menyediakan bagian yang akan di tambalkan yang disesuaikan bentuknya dengan lubang tadi. Jadi dalam prakteknya, lubang yang rusak tidak harus berbentuk segi empat. Pada prinsifnya pekerjaan menambal jaring adalah pekerjaan menambah setengah mata jaring antara yang rusak dari bahan tambahan.
Walaupun dalam keadaan normal bahan yang digunakan untuk menambal mempunyai ukuran mata yang sama dengan jaring yang rusak, kadang-kadang terjadi bahwa bahan yang tersedia mempunyai ukuran mata yang berbeda, tetapi bahan tersebut masih dapat dipakai. Hanya saja pengukuran tidak dilakukan dengan menghitung jumlah mata jaring, tetapi dengan membendingkan panjang mata jaring dalam keadaan teregang dari tiap-tiap sisi bagian jaring yang rusak dengan panjang mata jaring dalam keadaan teregang di sisi yang sesuai dari potongan jaring yang digunakan untuk menambal. Bila mata jaring dari dua potong jaring tersebut tidak lurus satu dengan lainnya, penyambungannya dapat dilakukan dengan salah satu cara yang diuraikan dalam Bab 3 buku ini.
1. Menjurai atau Menyulam
Kegiatan dalam perbaikan jaring dengan cara menjurai adalah melakukan pembuatan jaring tanpa menambah atau memakai jaring yang sama dari potongan jaring/bahan yang lain. Kegiatan ini dilakukan pada kerusakan jaring yang kecil.
Kegiatan menjurai ada dua fase, yaitu :
1) Membersihkan jaring
Hal ini dimaksudkan agar simpul yang ada pada ruangan yang rusak menjadi bersih dan tidak ada lagi simpul yang berkaki tiga kecuali pada bagian awal dan akhir menjurai. Bagian awal menjurai biasanya terletak pada bagian atas dari kerusakan dan akhir menjurai biasanya dipilih pada bagian bawah dari kerusakan.
2) Menjurai atau menyulam bagian jaring yang rusak
Penjuraian dilakukan dari kaki tiga awal dibagian atas dan berakhir pada kaki tiga bagian bawah.
Prosedur pembersihan bagian jaring yang rusak adalah sebagai berikut :
1) Jaring diatur dan ditegakkan sedemikian rupa sehinggga jaring pada posisi yang benar dengan deretan simpul-simpul berada dalam satu garis lurus
2) Tentukan simpul awal pada titik tertinggi dari bagian jaring yang rusak dan potonglah satu bar, sehingga tersisa tiga bar/kaki dari simpil tersbut
3) Bersihkan mata berikutnya yang berada pada sisi kiri bagian jaring yang rusak dan otonglah satu bar pada tiap simpul dan tinggalkan dua bar sampai pada beberapa mata di bagian bawah jaring yang rusak.
4) Selanjutnya mulailah kembali dari atas dan bersihkan mata yang berada di sisi kanan bagian jaring yang rusak, lakukan sama seperti mata yang berada di sisi kiri sampai pada beberapa mata di bawah jaring yang rusak.
5) Bersihkan mata jaring yang tersisa serta tentukan simpul akhir dibagian paling bawah pada bagian jaring yang rusak dan potong satu bar hingga pada simpul akhir terdapat tiga bar/kaki.
Setelah jaring dibersihkan mulailah menyulam jaring. Penyulaman dimulai dari simpul awal, simpul-simpul yang di tengah yang berkakai dua dan berakhir pada simpul akhir. Untuk lebih jelasnya, kegiatan dalam memperbaiki jaring ini dapat dilihat pada gambar 17.
Gambar 17. Membersihkan jaring
Agar perbaikan jaring dapat berjalan dengan cepat dan efisien, maka deretan simpul jaring harus diluruskan dengan arah yang benar dan jaring yang akan diperbaiki disangga dengan baik. Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa cara yang umum dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Diperlukan bantuan untuk memegang jaring pada beberapa mata jaring di baris yang sama, langsung di atas bagian jaring yang akan diperbaiki.
2) Sejumlah mata jaring pada baris yang sama (dua kaki atau lebih di atas lubang yang akan diperbaiki) dikaitkan pada paku atau pengait di ketinggian yang diinginkan.
3) Jika dilakukan sambil duduk, sejumlah mata jaring yang sama dapat dilingkarkan pada jari-jari kaki.
4) Salah satu cara yang terbaik adalah merangkaikan beberapa mata jaring dan menjadikannya pada baris yang sama dengan menggunakan sebelah batang atau tongkat dan kemudian tongkat tersebut disangga pada kedua ujungnya.
5) Agar simpul-simpul pada jaring berada pada posisi dan arah yang benar. Jaring dapat direntangkangkan dengan menggunakan batang yang panjang, sehingga diperoleh hamparan jaring yang luas dan dapat dilihat dengan mudah dimana bagian-bagian yang rusak dan perlu diperbaiki.
Simpul-simpul yang digunakan dalam memperbaiki jaring sama dengan yang digunakan dalam membuat jaring, hanya dalam pengerjaannya tidak searah seperti pembuatan jaring. Cara-cara membuat simpul dalam perbaikan jaring ini dapat dilihat pada gambar 18. Ukuran lingkaran benang yang dibentuk didasarkan atas ukuran setengah mata jaring yang diukur dengan menarik bar ke bagian bawah dengan menggunakan jari-jari tangan. Gunakan jari telunjuk dan ibu jari untuk menekan titik tengah mata jaring dimana simpul dibuat.
Gambar 18. Cara membuat simpul yang digunakan
dalam perbaikan jaring
2. Menambal Jaring
Apabila jaring rusak berat dan ada bagian jaring yang hilang, kegiatan menjurai menjadi cara yang kurang praktis, karena memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu digunakan cara menambal, yaitu menambahkan bagian yang sama ukuran mata dan nomor benang dari persediaan yang ada pada bagian jaring yang rusak.
Urutan pekerjaan menambal jaring adalah sebagai berikut :
1) Bersihkan bagian jaring yang rusak sehingga berbentuk segi empat dan semua harus berkaki dua.
2) Hitung jumlah simpul pada bagian lebar (L) dan dalam (D).
3) Sediakan tambalan dari persediaan yang ada sebesar (L-1) dan (D-1).
4) Gabungkan tambahan pada bagian jaring yang berlubang. Pekerjaan dimulai dari bagian pojok kanan atas pada A mengelilingi tambalan dan berakhir di bagian pojok kiri bawah pada B (Gambar 19). Pekerjaan ini dapat cepat selesai bila yang mengerjakannya dua orang dengan arah penyulaman yang berlawanan. Simpul-simpul yang digunakan disini sama seperti yang digunakan pada pekerjaan menyulam jaring.
Gambar 19. Menambal jaring
Metode yang umum digunakan dalam penambalan jaring adalah memotong dan membuang bagian yang berlubang, kemudian menyediakan bagian yang akan di tambalkan yang disesuaikan bentuknya dengan lubang tadi. Jadi dalam prakteknya, lubang yang rusak tidak harus berbentuk segi empat. Pada prinsifnya pekerjaan menambal jaring adalah pekerjaan menambah setengah mata jaring antara yang rusak dari bahan tambahan.
Walaupun dalam keadaan normal bahan yang digunakan untuk menambal mempunyai ukuran mata yang sama dengan jaring yang rusak, kadang-kadang terjadi bahwa bahan yang tersedia mempunyai ukuran mata yang berbeda, tetapi bahan tersebut masih dapat dipakai. Hanya saja pengukuran tidak dilakukan dengan menghitung jumlah mata jaring, tetapi dengan membendingkan panjang mata jaring dalam keadaan teregang dari tiap-tiap sisi bagian jaring yang rusak dengan panjang mata jaring dalam keadaan teregang di sisi yang sesuai dari potongan jaring yang digunakan untuk menambal. Bila mata jaring dari dua potong jaring tersebut tidak lurus satu dengan lainnya, penyambungannya dapat dilakukan dengan salah satu cara yang diuraikan dalam Bab 3 buku ini.
Teknik Pembuatan Jaring Ikan
Jaring merupakan rangkaian dari simpul-simpul, tiap simpul membentuk sebuah mata jaring dan tiap baris simpul menambah panjang lembaran jaring dengan setengah mata.
Pada umumnya yang dimaksud membuat jaring adalah membuat daging jaring atau net webbing. Nelayan di daerah-daerah tertentu mempunyai istilah tersendiri, diantaranya panteran menurut istilah nelayan di daerah Tegal dan sekitarnya dan kelengan menurut istilah nelayan di daerah Pekalongan dan sekitarnya.
Cara pembuatan jaring secara umum diketahui ada dua macam, yaitu pembuatan dengan tangan yang biasa disebut dengan menjurai (hand wove) dan pembuatan jaring dengan menggunakan mesin disebut machine wove. Dalam buku ini lebih banyak di bicarakan mengenai cara yang pertama yaitu yang dilakukan dengan tangan.
1. Peralatan yang Diperlukan
Yang pertama kali dilakukan dalam membuat jaring adalah mempersiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Kemudian perlu dipersiapkan tempat menjurai (gambar 1), misalnya membuat tali gantungan (frame) yang berguna untuk menggantung jaring yang dibuat. Frame ini bisa memakai benang yang akan dibuat jaring atau benang lainnya.
Alat-alat yang diperlukan dalam menjurai adalah :
Gambar 1. Tempat menjurai
1) Coban
Coban adalah suatu alat seperti jarum yang berguna untuk menyimpan atau menggulung benang juraian yang akan dipakai untuk membuat jaring. Bentuk coban bermacam-macam sesuai dengan penggunaannya. Jadi bentuk dan ukuran coban tergantung pada ukuran benang yang dipakai dan ukuran mata jarinmg yang akan dibuat (gambar 2). Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat coban antara lain adalah kayu, bambu, plastik, tanduk dan logam.
Gambar 2. Coban dan saleran
2) Saleran
Seleran merupakan alat yang berguna untuk menentukan besar kecilnya mata jaring yang akan dibuat. Besar atau lebar seleran sama dengan setengah dari ukuran mata jaring yang akan dibuat. Jadi jika kita akan membuat jaring, maka perlu diketahui ukuran mata jaring yang akan dibuat, kemudian membuat seleran dimana keliling lebar seleran sama dengan setengah dari ukuran mata jaring yang akan dibuat. Beberapa macam bahan dapat digunakan dalam pembuatan seleran, sama dengan bahan untuk membuat coban yaitu kayu, bambu, plastik, tanduk dan logam. Penampang seleran yang mudah digunakan adalah yang berbentuk oval, sedangkan panjang dari seleran kira-kira 10-15 cm (gambar 2).
3) Alat Pemotong
Alat pemotong bisa berupa pisau, gunting atau alat lain yang digunakan untuk memotong bahan yang dipakai dalam pembuatan jaring.
2. Pengukuran Mata Jaring dan Bentuk Simpul
Dalam mengukur mata jaring ada 3 macam cara untuk menentukan besar dari suatu mata jaring, antara lain :
1) Pengukuran dari titik tengah dua simpul yang berhadapan (panjang mata)
2) Pengukuran dari titik dalam dua simpul yang berhadapan (bukaan maksimal mata)
3) Menghitung sejumlah simpul untuk jarak tertentu.
Dari ketiga cara tersebut yang biasa dipakai adalah cara yang kedua, sedangkan cara yang ketiga khusus digunakan untuk mengukur jaring yang mempunyai ukuran mata sangat kecil (gambar 3).
Gambar 3. Cara pengukuran mata jaring
Macam-macam bentuk simpul yang akan dihasilkan dalam menjurai tergantung dari:
1) Cara menjurai
2) Tujuan penggunaan jaring
3) Halus kasarnya benang yang dipakai untuk membuat jaring
Macam bentuk simpul tersebut antara lain (gambar 4) :
1) English knot/sheet Bend
2) Double English Knot/Double Sheet Bend
3) Reef Knot/Square knot
4) Lock knot.
Gambar 4. Macam-macam bentuk simpul
3. Menjurai
Ada dua macam cara menjurai, yang biasa dilakukan oleh para nelayan di berbagaii daerah, yaitu :
1) Menjurai dengan cara memasukkan coban melalui bagian atas seleran
2) Menjurai dengan cara memasukkan coban melalui bagian bawah seleran.
Pada dasarnya kedua cara tersebut akan menghasilkan bentuk simpul yang sama sesuai dengan yang diperlukan (gambar 5).
Gambar 5. Cara menjurai
Sebelum mulai menjurai, hendaklah diketahui mengenai ukuran dan bentuk jaring yang akan dibuat. Isi coban dengan benang secukupnya (gambar 6).
Gambar 6. Cara mengisi coban
Kemudian persiapkan tali gantungan dan mulailah membuat mata jaring sebaris demi sebaris. Misalnya anda mulai membuat jaring dari A ke B (gambar 7).
Gambar 7. Contoh menjurai
Hitunglah jumlah mata kesamping sesuai dengan yang diperlukan, jika telah mencukupi, maka seleran dapat dilepaskan dengan cara mengumpulkan simpul-simpul yang terdapat pada tali gantungan, Kemudian buatlah mata jaring yang baru dengan dibalik yaitu dari B ke A dan seterusnya. Jika jumlah ke samping telah mencukupi, seleran dilepas dan mata jaring baru dibuat dengan dibalik sampai jumlah mata jaring arah vertikal mencukupi dan pekerjaan menjurai selesai.
Bila ada rencana membuat jaring yang besar atau banyak, maka biasanya pembuatan jaring dilakukan dengan cara di bagi-bagi dalam beberapa bagian, kemudian hasilnya disambung-sambungkan hingga menjadi lembaran jaring yang besar. Hal ini bertujuan agar pekerjaan dapat selesai cepat, karena dikerjakan oleh beberapa orang. Selain itu juga dapat menjaga agar pekerjaan ini tidak membosankan.
Gambar 8. Langkah-langkah dalam menjurai
4. Bentuk-bentuk Jaring
Beberapa bentuk jaring telah diketahui sesuai dengan kebutuhan dan bentuk alat yang dibuat. Pembuatan bentuk jaring dapat dilakukan dengan cara memotong-motong lembaran jaring yang telah ada, atau memang sengaja membuat bentuk-bentuk sesuai yang diinginkan.
Bentuk jaring yang bisa dibuat langsung pada waktu menjurai antara lain adalah bentuk empat persegi panjang untuk keperluan olah raga dan alat tangkap, serta bentuk segitiga atau kerucut, misalnya untuk jala lempar.
Bentuk jaring empat persegi panjang untuk keperluan olah raga berbeda dengan bentuk jaring yang dipakai untuk menangkap ikan (gill net). Bentuk jaring untuk gill net merupakan hasil langsung dari menjurai, sedangkan untuk keperluan olah raga diperlukan teknik penjuraian tersendiri.
Bentuk jaring segitiga dapat dibuat dengan cara melakukan penambahan atau penyelipan setengah mata atau lebih pada saat menjurai (gambar 9). Hal ini disesuaikan denan bentuk dan jumlah atau besar segitiga yang diperlukan. Agar bentuk jaring rata, maka penambahan setengah mata harus dibagi sesuai dengan jumlah mata yang diperlukan, baik ke samping ataupun ke bawah. Misal : akan dibuat jaring segitiga dengan dalam 100 mata dan lebar 10-55 mata, agar bentuk jaring rata, maka jumlah selipan mata dibuat dapat dilakukan seperti pada gambar 9.
Gambar 9. Cara pembuatan jaring bentuk segitiga
Jala lempar atau cost net adalah salah satu alat penangkap ikan yang sederhana dan biasanya digunakan pada lingkup perairan yang terbatas, baik luas ataupun kedalamannya. Bentuk alat sangat sederhana, pada dasarnya merupakan penggabungan dua bentuk segitiga.
Pembuatan jala lempar diketahui ada dua cara, yaitu :
1) Penggabungan dua segitiga
Pertama dibuat jaring berbentuk segitiga yang sama ukurannya, dan kemudian kedua segitiga ini disambungkan pada sisi miringnya.
2) Pembuatan langsung pada waktu menjurai
Secara teori pembuatan langsung ini memerlukan dua buah coban, yang satu dijalankan kearah kiri dan yang lainnya ke arah kanan, kemudian akan bertemu di satu titik, dan titik pertemuan ini keduanya disambungkan dengan menambah setengah mata (gambar 10). Namun dalam prakteknya hanya dapat dilakukan untuk coban yang kearah kanan dan dapat dilakukan dengan cara membalikkan jaring tersebut.
Gambar 10. cara pembuatan jala lempar
Pada umumnya yang dimaksud membuat jaring adalah membuat daging jaring atau net webbing. Nelayan di daerah-daerah tertentu mempunyai istilah tersendiri, diantaranya panteran menurut istilah nelayan di daerah Tegal dan sekitarnya dan kelengan menurut istilah nelayan di daerah Pekalongan dan sekitarnya.
Cara pembuatan jaring secara umum diketahui ada dua macam, yaitu pembuatan dengan tangan yang biasa disebut dengan menjurai (hand wove) dan pembuatan jaring dengan menggunakan mesin disebut machine wove. Dalam buku ini lebih banyak di bicarakan mengenai cara yang pertama yaitu yang dilakukan dengan tangan.
1. Peralatan yang Diperlukan
Yang pertama kali dilakukan dalam membuat jaring adalah mempersiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Kemudian perlu dipersiapkan tempat menjurai (gambar 1), misalnya membuat tali gantungan (frame) yang berguna untuk menggantung jaring yang dibuat. Frame ini bisa memakai benang yang akan dibuat jaring atau benang lainnya.
Alat-alat yang diperlukan dalam menjurai adalah :
Gambar 1. Tempat menjurai
1) Coban
Coban adalah suatu alat seperti jarum yang berguna untuk menyimpan atau menggulung benang juraian yang akan dipakai untuk membuat jaring. Bentuk coban bermacam-macam sesuai dengan penggunaannya. Jadi bentuk dan ukuran coban tergantung pada ukuran benang yang dipakai dan ukuran mata jarinmg yang akan dibuat (gambar 2). Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat coban antara lain adalah kayu, bambu, plastik, tanduk dan logam.
Gambar 2. Coban dan saleran
2) Saleran
Seleran merupakan alat yang berguna untuk menentukan besar kecilnya mata jaring yang akan dibuat. Besar atau lebar seleran sama dengan setengah dari ukuran mata jaring yang akan dibuat. Jadi jika kita akan membuat jaring, maka perlu diketahui ukuran mata jaring yang akan dibuat, kemudian membuat seleran dimana keliling lebar seleran sama dengan setengah dari ukuran mata jaring yang akan dibuat. Beberapa macam bahan dapat digunakan dalam pembuatan seleran, sama dengan bahan untuk membuat coban yaitu kayu, bambu, plastik, tanduk dan logam. Penampang seleran yang mudah digunakan adalah yang berbentuk oval, sedangkan panjang dari seleran kira-kira 10-15 cm (gambar 2).
3) Alat Pemotong
Alat pemotong bisa berupa pisau, gunting atau alat lain yang digunakan untuk memotong bahan yang dipakai dalam pembuatan jaring.
2. Pengukuran Mata Jaring dan Bentuk Simpul
Dalam mengukur mata jaring ada 3 macam cara untuk menentukan besar dari suatu mata jaring, antara lain :
1) Pengukuran dari titik tengah dua simpul yang berhadapan (panjang mata)
2) Pengukuran dari titik dalam dua simpul yang berhadapan (bukaan maksimal mata)
3) Menghitung sejumlah simpul untuk jarak tertentu.
Dari ketiga cara tersebut yang biasa dipakai adalah cara yang kedua, sedangkan cara yang ketiga khusus digunakan untuk mengukur jaring yang mempunyai ukuran mata sangat kecil (gambar 3).
Gambar 3. Cara pengukuran mata jaring
Macam-macam bentuk simpul yang akan dihasilkan dalam menjurai tergantung dari:
1) Cara menjurai
2) Tujuan penggunaan jaring
3) Halus kasarnya benang yang dipakai untuk membuat jaring
Macam bentuk simpul tersebut antara lain (gambar 4) :
1) English knot/sheet Bend
2) Double English Knot/Double Sheet Bend
3) Reef Knot/Square knot
4) Lock knot.
Gambar 4. Macam-macam bentuk simpul
3. Menjurai
Ada dua macam cara menjurai, yang biasa dilakukan oleh para nelayan di berbagaii daerah, yaitu :
1) Menjurai dengan cara memasukkan coban melalui bagian atas seleran
2) Menjurai dengan cara memasukkan coban melalui bagian bawah seleran.
Pada dasarnya kedua cara tersebut akan menghasilkan bentuk simpul yang sama sesuai dengan yang diperlukan (gambar 5).
Gambar 5. Cara menjurai
Sebelum mulai menjurai, hendaklah diketahui mengenai ukuran dan bentuk jaring yang akan dibuat. Isi coban dengan benang secukupnya (gambar 6).
Gambar 6. Cara mengisi coban
Kemudian persiapkan tali gantungan dan mulailah membuat mata jaring sebaris demi sebaris. Misalnya anda mulai membuat jaring dari A ke B (gambar 7).
Gambar 7. Contoh menjurai
Hitunglah jumlah mata kesamping sesuai dengan yang diperlukan, jika telah mencukupi, maka seleran dapat dilepaskan dengan cara mengumpulkan simpul-simpul yang terdapat pada tali gantungan, Kemudian buatlah mata jaring yang baru dengan dibalik yaitu dari B ke A dan seterusnya. Jika jumlah ke samping telah mencukupi, seleran dilepas dan mata jaring baru dibuat dengan dibalik sampai jumlah mata jaring arah vertikal mencukupi dan pekerjaan menjurai selesai.
Bila ada rencana membuat jaring yang besar atau banyak, maka biasanya pembuatan jaring dilakukan dengan cara di bagi-bagi dalam beberapa bagian, kemudian hasilnya disambung-sambungkan hingga menjadi lembaran jaring yang besar. Hal ini bertujuan agar pekerjaan dapat selesai cepat, karena dikerjakan oleh beberapa orang. Selain itu juga dapat menjaga agar pekerjaan ini tidak membosankan.
Gambar 8. Langkah-langkah dalam menjurai
4. Bentuk-bentuk Jaring
Beberapa bentuk jaring telah diketahui sesuai dengan kebutuhan dan bentuk alat yang dibuat. Pembuatan bentuk jaring dapat dilakukan dengan cara memotong-motong lembaran jaring yang telah ada, atau memang sengaja membuat bentuk-bentuk sesuai yang diinginkan.
Bentuk jaring yang bisa dibuat langsung pada waktu menjurai antara lain adalah bentuk empat persegi panjang untuk keperluan olah raga dan alat tangkap, serta bentuk segitiga atau kerucut, misalnya untuk jala lempar.
Bentuk jaring empat persegi panjang untuk keperluan olah raga berbeda dengan bentuk jaring yang dipakai untuk menangkap ikan (gill net). Bentuk jaring untuk gill net merupakan hasil langsung dari menjurai, sedangkan untuk keperluan olah raga diperlukan teknik penjuraian tersendiri.
Bentuk jaring segitiga dapat dibuat dengan cara melakukan penambahan atau penyelipan setengah mata atau lebih pada saat menjurai (gambar 9). Hal ini disesuaikan denan bentuk dan jumlah atau besar segitiga yang diperlukan. Agar bentuk jaring rata, maka penambahan setengah mata harus dibagi sesuai dengan jumlah mata yang diperlukan, baik ke samping ataupun ke bawah. Misal : akan dibuat jaring segitiga dengan dalam 100 mata dan lebar 10-55 mata, agar bentuk jaring rata, maka jumlah selipan mata dibuat dapat dilakukan seperti pada gambar 9.
Gambar 9. Cara pembuatan jaring bentuk segitiga
Jala lempar atau cost net adalah salah satu alat penangkap ikan yang sederhana dan biasanya digunakan pada lingkup perairan yang terbatas, baik luas ataupun kedalamannya. Bentuk alat sangat sederhana, pada dasarnya merupakan penggabungan dua bentuk segitiga.
Pembuatan jala lempar diketahui ada dua cara, yaitu :
1) Penggabungan dua segitiga
Pertama dibuat jaring berbentuk segitiga yang sama ukurannya, dan kemudian kedua segitiga ini disambungkan pada sisi miringnya.
2) Pembuatan langsung pada waktu menjurai
Secara teori pembuatan langsung ini memerlukan dua buah coban, yang satu dijalankan kearah kiri dan yang lainnya ke arah kanan, kemudian akan bertemu di satu titik, dan titik pertemuan ini keduanya disambungkan dengan menambah setengah mata (gambar 10). Namun dalam prakteknya hanya dapat dilakukan untuk coban yang kearah kanan dan dapat dilakukan dengan cara membalikkan jaring tersebut.
Gambar 10. cara pembuatan jala lempar
Subscribe to:
Posts (Atom)