Saturday, 10 December 2016

ANALISIS USAHA BUDIDAYA UDANG WINDU

ANALISIS USAHA BUDIDAYA UDANG WINDU

Dalam usaha Udang Windu [Penaeus] biasanya besar kecilnya
    keuntungan bergantung pada sistem budidayanya. Tentu saja semakin besar atau luas lahan tambaknya dan semakin intensif cara pemeliharaannya semakin besar pula keuntungan yang diperoleh, tetapi risiko pengelolaannya menjadi lebih besar pula. Risiko yang besar biasanya terjadi dalam keadaan yang tidak diduga, misalnya harga yang jatuh di pasaran, wabah penyakit, kualitas air yang memburuk, makanan yang buruk dapat menyebabkan udang biru dan sebagainya. Biasanya hal tersebut dapat dihindarkan apabila perencanaannya dilakukan dengan hati-hati dan mantap, kecuali pada kondisi yang pertama yaitu jatuhnya harga; hal tersebut sulit diperkirakan. Jatuhnya harga udang biasanya sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dunia, yaitu berupa naiknya nilai tukar mata uang, embargo komoditas udang dan penurunan mutu udang yang diekspor. Apabila harga jatuh, yang paling merasakan akibatnya adalah pengusaha tambak udang intensif, karena pada waktu produksi melimpah udang tidak dapat dijual, padahal udang tersebut tidak tahan lama, sehingga proses pembusukan tidak dapat dihindarkan dan akhirnya terbuang. Berikut akan diutarakan mengenai perhitungan usaha budidaya Udang Penaeus dengan tambak yang berukuran 1 ha/tahun dalam bentuk tabel.
Tabel Analisis Usaha tambak udang semi intensi 1 ha/th
    Kegiatan    Pengeluaran    Pemasukan    Keuntungan
A.    Pembuatan tambak
    1.     Beli tanah    10.000.000
    2.     Pembuatan Kolam   
        a. Penggalian    1.000.000
        b. Saluran air    96.000
        c. Saluran Pembuangan    104.000
        3.     Penimbunan tanah    265.000
    4.     Pintu air    725.000
    5      Peralatan    2.025.000
    6      Bangunan    1.000.000
B.    Biaya Penyediaan benih,
       pakan dan obat-obatan
    1. Pembelian Benur
       2 X 4000 ekor, @ Rp 50,00    1.000.000
    2. Pembelian Pakan    2.000.000
    3. Pestisida dan obat [2X]    150.000
C. Biaya operasional
    1. Tenaga kerja   
        a.    Teknisi
            1 orang, Rp 100.000,/
            bulan
               b.    Tenaga Kasar
            1 orang, Rp 50.000/bulan    1.200.000
      2.    Bahan bakar &    
        Perbaikan tambak    600.000
      3.    Panen 2X    250.000
D.     Hasil Produksi
       1.    Penjualan, Rp 15.000,00/Kg    300.000
       2.     Penyusutan        30.000.000
                3.000.000

JMLH PROF MARGIN
BENEFIT COSTRATIO      26.715.000    30.000.000     3.285.000
                        12,30%/1,12
    Tabel Analisis Usaha tambak udang semi intensi 1 ha/th

    Kegiatan    Pengeluaran    Pemasukan    Keuntungan
A.    Pembuatan tambak
    1.     Beli tanah   
    2. Pembuatan Kolam
          a. Penggalian
          b. Saluran air
          c. Saluran Pembuangan
    3. Penimbunan tanah
        4. Pintu air
        5  Peralatan
        6  Bangunan
B.     Biaya Penyediaan benih,
       pakan dan obat-obatan
        1. Pembelian Benur
       2 X 400.000 ekor,
        @ Rp 50,00
        2. Pembelian Pakan
        3. Pestisida dan obat [2X]
C.     Biaya operasional
        1.     Tenaga kerja
                a.     Tenaga Ahli
                      1 orang, Rp 300.000/bulan
               b.     Teknisi
                     2 orang, Rp 150.000,/bulan
               c.     Tenaga Kasar
                     2 orang, Rp 75.000/bulan
    2. Bahan bakar & Perbaikan
        tambak
    3. Panen 2X        270 Juta
D.     Hasil Produksi
       1. Penjualan,
        Rp 15.000,00/Kg
       2. Penyusutan
    
JMLH PROF MARGIN     191.504.000    270 Juta     78.496.000
BENEFIT COSTRATIO              32,30%
                        1,32

Penyakit yang sering menyerang Udang Penaeus

Penyakit Udang Penaeus
Penyakit-penyakit yang sering menyerang udang dan tidak bergantung dengan kondisi air, dimasukkan dalam 4 jenis agen penyakit. Agen-agen ini dapat menyebabkan bermacam-macam akibat, yaitu secara kronis mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan menurunkan kualitas udang sedangkan yang bersifat akut dapat menyebabkan kematian. Penyakit-penyakit tersebut asal virus, bakteri, parasit dan jamur.
a.     Penyakit yang disebabkan Virus
Virus merupakan mikroorganisme yang berkuran sangat kecil, lebih kecil dari inti sel udang itu sendiri. Virus ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron dan biasanya berada di dalam sel [intra cellular]. Ada 4 jenis virus yang telah diketahui menyerng udang penaeus, yaitu “Monodon Baculo Virus” [MBV], “Infectious Hypodermal Haematopeietic Necrosis Virus” [IHHNV], “Hepatopancreatic Parvo like Virus” [HPV], dan Cytoplasmic Reo-like Virus” [CRV]. Terdapat sejenis mikrooganisme lain yang tidak tergolong di dalam kelompok virus, walaupun mikroorganisme ini tempatnya di dalam sel [intra cellular, yaitu penyakit “Ricketsia”. Kebanyakan penyakit asal virus tersebut menyerang udang-udang muda.
1.     Monodon Baulo Virus [MBV]
Virus ini pertama ditemukan pada kolam pembenihan udang windu dan kemudian sering dijumpai menyerang udang-udng pada masa pembenihan; serangan Penyakit ini sering muncul pada waktu pemindahan post larva ke kolam perkembangan, mungkin disebabkan oleh kondisi yang menurun karena stres. Menurut beberapa orang peneliti, penyakit ini tidak begitu banyak berpengaruh terhadap kehidupan udang, sehingga keberadaannya tidak perlu dikhawatirkan oleh para peternak udang.
2.     Infectious Hypodermal Haematopoietic Necrosis Virus [IHHNV]
Virus ini dilaporkan oleh Lightner [1983] seringkali menyerang udang Penaeus stylirostris, P. vannamei, dan P. monodon, dalam kolam perbenihan di Hawai. Penyakit ini bersifat sangat akut dan mematikan, angka kematian dapat lebih dari 50% pada P. vannamei.
Udang yang terserang menunjukkan gejala berenang tidak normal, yaitu sangat perlahan-lahan, muncul di permukaan dan mengambang dengan perut di atas. kemudian bila alat geraknya [pleopod dan periopod] berhenti bergerak, udang akan tenggelam di bawah kolam. Sejak mulainya timbul gejala tersebut udang akan mati dalam waktu 4 sampai 12 jam. Pada kondisi yang akut, kulitnya akan terlihat keputih-putihan dan tubuhnya berwarna putih keruh. Banyak udang penderita mati pada saat terjadi moulting. Permukaan tubuhnya akan ditumbuhi oleh diatom, bakteri atau parasit jamur. Secara histologis, bentuk akut maupun sbakut dari penyakit virus ini akan ditemukan banyak “eosinophilic inclusion bodies” [benda negri warna kemerah-merahan dalam inti sel]. Pada kulit luar terlihat nekrosis pada kutikula, syaraf, antenna, dan pada mukosa usus depan dan tengah. Pencegahaan penyakit ini belum diketahui secara pasti, yang penting adalah perbaikan kualitas air.

3.     Hepatopancreatic Parvo-like Virus [HPV]
Virus ini pernah dilaporkan menyerang periode post larva udang P. orientalis dari cina, P. merguiensis dari Singapura, P. esculentus dari australia dan mungkin juga P. monodon. Gejala dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi dari virus ini belum banyak diketahui secara pasti. Virus ini terutama menyerang organ hepatopankreas, sehingga dalam pemeriksaan hepatopankreasnya dilihat dengan mikroskop memperlihatkan degenerasi dan adanya inklusion bodies dalam sel-sel organ tersebut. Virus juga pernah dilaporkan menyerang udang air  tawar  [Macrobrachium rosenbergi].
4.     Cytoplasmic Reo-like viraus [CRV]
Penyakit asal virus ini dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi pada udang-udang muda jenis P. monodon dalam masa pertumbuhan. Penyakit ini pernah dilaporkan menyerang udang-udang di Malaysia oleh Nash et al [1988]. dalam masa terjadinya ledakan penyakit [out break, kematian udang dimulai pada hari ke 7-9 setelah penebaran benih [stocking] di kolam pada post larva yang berumur 18 hari. Gejala klinis yang terlihat adalah udang berkumpul di tepi kolam dan berenang di permukaan air. Pada keadaan tersebut kematian udang dapat mencapai 5%-10%. Pada pemeriksaan histologi, jelas terlihat adanya vakuolisasi sel-sel hepatopankreas, yang berisi penuh dengan pigment. Sitoplasmanya mengalami degenerasi, juga adanya nekrosa lokal pada epithel heptopankreas. Di bawah mikroskop elektron terlihat adanya sekelompok virus dalam sitoplasma. Pengobatan dan penanggulangannya belum diketahui.
5.     Ricketsiae
Mikro organisme berukuran di antara virus dan bakteri, merupakan kelompok mikroorganisme tersendiri. Seperti halnya pada virus, mikroorganisme ini letaknya di dalam sel, menurut dua orang peneliti Amerika [Lightner [1985] dan Brock [1986], mikroorganisme ini patogen terhadap Udang Penaeus sp.
Gejala yang terlihat adalah ditemukannya banyak udang yang berenang di pinggir kolam dalam keadaan lemah. Udang berwarna lebih gelap daripada biasanya, tak ada nafsu makan, pada beberapa udang terlihat adanya benjolan-benjolan kecil keputih-putihan paada dinding usus bagian tengah. Diagnosa pasti dilakukan berdasarkan ditemukannya koloni ricketsia, adanya peradangan dan pembengkakan jaringan ikat.
Beberapa orang peneliti melaporkan bahwa kematian udang akibat serangan penyakit ini biasa mulai terjadi pada minggu ke-7 atau 9 setelah penebaran benih [post larva hari ke 15 - 25]. angka kematian naik pada hari ke-5 sampai ke-7 sejak mulai terjadi kematian, yang kemudin menurun seminggu kemudian sampai tak ada kematian. Setelah tiga hari kemudian kematian timbul lagi dan begitu seterusnya sampai udang dipanen, angka kematian secara keseluruhan dapat mencapai 90%-95%.
Pengobatan dengan cara pemberian khemoterapi tidak begitu berhasil. beberapa peneliti melakukan pengobatan dengan pengobatan antibiotik [oktitetracyklin, sulfasoxasol dan nitrofurazon] dicampur makanan dapat mengurangi angka kematian, tetapi bila konsentrasi antibiotik turun, kematian akan timbul lagi.

b.     Penyakit yang disebabkan Bakteri
Kuman dari jenis bakteri yang menyerang udang banyak dilaporkan, termasuk genus Vibrio, aeromonas dan Pseudomonas. Beberapa bakteri nonpatogen dapat menjadi patogen dalam kondisi air yang buruk. Anderson [1988] mengelompokkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri berdasarkan pengaruh patogenitasnya, yaitu dapat menyebabkan nekrosis dan setikemia.
1.     Bakteri Nekrosis
Penyakit ini ditandai dengan ditemukannya nekrosis di beberapa tempat [multifokal], yaitu pada antenna, uropod, pleopod dan beberapa alat tambahan lainnya. Kuman penyebab penyakit ini sering ditemukan, termasuk dalam genus Vibrio. tetapi infeksi dari bakteri ini merupakan infeksi ikutan [infeksi sekunder] yang  disebabkan oleh penyebab lain. Pertama-tama infeksi  ini disebabkan oleh luka, erosi bahan kimia atau yang lainnya, kemudian tempat luka tersebut ditumbuhi oleh bakteri sehingga menyebabkan nekrosis jaringan. Pada kolam pembenihan kejadian infeksi bakteri nekrosis akan naik bila kulaitas air menurun dan air mengandung bakteri dalam jumlah banyak. Udang penderita akan terlihat kecoklat-coklatan pada ujung-ujung alat tambahannya [antena, pleopod dan lain-lain], ddisertai dengan usus yang kosong karena tak ada nafsu makan. apabila kwalitas makanan dan air diperbaiki, angka kematian akan cepat menurun.
Pengobatan yang dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik dalam kolam pembenihan seperti furanace 1 mg/l, oksitetrasiklin 60 - 250 mg/l dan erytromycin 1 mg/l. Pengeringan, pembersihan dan desinfeksi di dalam kolam pembenihan, serta kebersihan alat-alat yang digunakan sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit bakterial nekrosis ini.
2.     Bakteri Septikemia
Bakteri ini biasanya menyerang udang pada larva dan post larva. Seperti halnya bakteri nekrosis, bakteri ini timbul juga sebagai infeksi sekunder, sebagai akibat dari penyebab lain, misalnya defisiensi vitamin C, toxin, luka dan karena stress yang berat [Lightner, 1983]. Agen penyebab dari bakteri septikemia ini adalah: Vibrio alginolictus, V. parahaemolyticus, Aeromonas sp dan Pseudomonas sp. bakteri-bakteri tersebut pernah diisolasi oleh Lightner dan Lewis [1975] sebagai bakteri penyebab septikemia pada udang penaeus. Vibrosis dapat didiagnosis dengan menemukan sel-sel bakteri yang aktif dalam haemolymph [sistem darah udang] pada udang yang menderita. Pewarnaan gram dalam preparat histologi akan terlihat.
Pengobatan dapat dilakukan seperti pada pengobatan bakteri nekrosis. Pemeliharan kualitas air dan sanitasi yang baik dapat mencegah timbulnya penyakit.

c.     Penyakit yang disebabkan organisma Parasit
Seperti halnya pada hewan lain [baik ikan atau hewan darat], beberapa jenis parasit yang menyerang udang. Parasit tersebut tidak menimbulkan angka kematian yang tinggi, tetapi dalam segi ekonomis serangan parasit itu dapat merugikan. Kerugian ini dapat berupa penurunan berat badan, penurunan kualitas, kepekaan terhadap infeksi virus atau bakteri dan beberapa parasit dapat mengakibatkan kemandulan [Bopyrid]. Secara garis besar infeksi parasit dikelompokkan dalam 2 jenis parasit, yaitu parasit cacing dan parasit isopod. Sementara itu terdapat 3 kelas cacing parasit yang seringkali menyerang udang, yaitu Cestoda, Trematoda dan Nematoda.
1.     Parasit Cacing
Beberapa jenis cacing parasit pada udang yang dibudidayakan pernah dilaporkan oleh Kruse [1959],yaitu Polypocephalus sp. dan Para christianella monomegacantha [cestoda] padaP. merguiensis. Opecoeloides sppada P. stiferus, P. aztecus dan P. durorum, sedangkan Contracaecum sp. Cacing nematoda pada udang penaeus seperti telah disebutkan di atas. cacing-cacing tersebut biasanya berparasit pada jaringan udang, tetapi tidak menimbulkan banyak kematian. Walaupun begitu infeksi parasit ini dapat menimbulkan gangguan ekonomi yang cukup serius. Beberapa penyakit cacing tersebut akan diulas sedikit disini.
1)     Cacing Cestoda
Telah dilaporkan oleh Owens [1981 dan 1985] ada dua spesies cacing cestoda yang berparasit pada udang  P. merguiensis di Australia yaitu Polypocheppalus sp. dan Parachristianella monomegacantha. Jenis yang keduaa ini kebanyakan menyerang udang sejak periode post larva sampai udang dewasa.
Polypocephalus sp adalah cacing dalam kela cestoda, Bangsa Leconicephalidea, famili Leconicephalidae dan genus Polypochepalus. bentuk cyste dari cacing ini terdapat dalam jaaringan ikat di sepanjang syaraf bagian ventral. Sampai sekarang sejauh mana kerugian yang ditimbulkan akibat infeksi cacing ini belum diketahui secara pasti.
Parachristianella monomegacantha merupakan cacing cestoda yang biasanya berparasit dalam jaringan inter-tubuler hepatopankreas pada udang P. merguiensis. seperti halnya pada Polypocephalus, cacing ini belum diketahui patogenitasnya secara pasti. Tetapi melihat tempat berparasitnya di dalam jaringan hepatopankreas yang merupakan organ penting dari udang, maka cacing ini kemungkinan menghambat proses fisiologis dan metabolisme makanan dalam tubuh udang.
2)     Cacing Trematoda
Cacing trematoda yang pernah dilaporkan berparasit pada udang Penaeus adalah Opecoeloides sp. cacing ini ditemukan pada dinding proventriculus dan usus dari P. setiferus, P. Aztecus dan P. durorum di Mexico. Larva cacing ini ditemukan bermigrasi di jaringan ikat kepala dada dan di sekitar usus. seperti halnya pada cacing cestoda, cacing ini belum diketahui akibat infestasinya.
3)     Cacing Nematoda
Belum banyak dilaporkan mengenai cacing nematoda yang berparasit pada udang. Kruse [1956] melaporkan cacing nematoda jenis Contracaecum sp., merupakan salah satu jenis cacing nematoda yang menyerang hepatopankreas udang yang hidup secara alamiah. cacing ini ditemukan dalam hepatopankreas udang pada periode kedewasaan, yaitu setelah udang mulai bermigrasi menuju laut lepas.
2.     Parasit Isopoda
Parasit yang termasuk bopyrid isopoda yang menyerang Udang Penaeus dapat menghambat perkembangan alat reproduksi dari udang penderita. Parasit Bopyrid isopoda ini menempel di daerah branchial insang [persambungan antara insang dengan tubuh udang]. sehingga menghambat perkembangan gonad [sel telur] pada udang. menurut beberapa peneliti, parasit ini menghambat perkembangan alat kelamin baik udang jantan maupun betina, sehingga terjadi kemandulan. Owens dan Glazebrooks [1985] melaporkan bahwa jenis bopyrid isopoda yang berparasit pada udang P. merguiensis dan P. indicus di semenanjung Carpentaria di Australia adalah: Epipenaeon ingens dan Parapenaeon expansus, dan mereka melaporkan bahwa parasit ini sangat merugikan budidaya Udang Penaeus, terutama udang untuk pembenihan.

d.     Penyakit yang disebabkan oleh Serangan Jamur
Penyakit yang berasal dari Jamur sistemik pada udang periode larva maupun post larva dapat merupakan penyebab angka kematian yang serius pada udang P. monodon. Larva udang yang terserang oleh penyakit jamur ini [mycosis] dapat mati dalam waktu 24 jam. jamur Phycomycetes yang termasuk dalam genera Lagenedium dan Sirolpidium telah dilaporkan menyerang larva udang P. monodon.
Spora jamur ini kecil sekali yaitu berukuran antara 9,1 - 12,5 um, dan apabila berenang di dalam kolam sangat sulit diketahui, sehingga pencegahan sulit dilakukan. Diduga penyebaran spora ini terjadi pada waktu pemberian pakan dan sekali terjadi infeksi, larva udang akan cepat menderita karena larva udang tidak memiliki daya tahan terhadap infeksi hype dari jamur yang tumbuh dengan cepat. Bila terjadi nekrosis pada jaringan udang, maka akan memudahkan timbulnya infeksi sekunder oleh bakteri.
Pengobatan secara kimia [Chemotherapi] tidak efektif. Pemberian malachite green [0,006 - 0,1 mg/l] atau trifuralin [0,01 ppm] 3-6 kali sehari akan mencegah penyebaran jamur ke larva yang sehat. Pencegahan utama ialah dengan jalan filtrasi air laut yang bersih atau air laut yang diberi malachite green atau trifulralin, karena dapat menghilangkan zoospora dari jamur [Lightner et alm, 1984].

Hama Tambak Udang

Hama Tambak
Hama tambak termasuk salah satu kendala produksi, karena sangat merugikan petani tambak yaitu dapat merusak konstruksi tambak, efisiensi pemberian pakan jadi berkurang dan dapat mengurangi produksi udang. Hama tambak dikelompokkan menurut jenis kerugiannya menjadi tiga bagian besar, yaitu yang disebabkan oleh Hama Pemangsa Udang, Hama Pesaing dan Hama Pengganggu. Pada Sub bab berikut masing-masing hama akan dijelaskan lebih lanjut.

a.     Hama Pemangsa Udang
Hama pemangsa ini terdiri dari beberapa jenis hewan, antara lain jenis ikan buas, seperti ikan kakap [Lates calcarifer], payus [Elops hawaiensis] dan lain-lain. Jenis ular air, seperti Cerberus rhynchops, Fardonia leobalia. Beberapa jenis burung pemangsa udang, seperti burung pecuk [Phalacrocorax javanicus] Anhingarufa melanogaster, burung blekok [Ardeola rallaoides speciosa], burung bangau [Leptotilus javanicus]. Disamping hewan-hewan tersebut beberpa jenis hewan air lainnya juga menjadi pemangsa udang di tambak, misalnya kepiting, tikus air dan yang lainnya.

b.     Hama Pesaing [Kompetitor]
Hama pesaing, yaitu jenis-jenis hewan air yang ikut hidup di dalam tambak dan memakan udang, sehingga terjadi persaingan dalam memperebutkan makanan yang diberikan. Termasuk dalam jenis hewan ini ialah: Ikan liar, seperti ikan belanak [Mugil sp], ikan mujair [Tilpia mossambica]. Jenis siput, seperti trisipan [Cerithidea cingulata], congcong [Telescopium telescopium]. Hewan-hewan tersebut selain bersaing dalam memperebutkan makanan juga merusak dasar tambak, sehingga plankton yang tumbuh di atasnya dapat rusak dan mati.

c.     Hama Pengganggu
Hama yang sering merusak tambak termasuk hama pengganggu. Hewan yang termasuk dalam golongn ini sering membuat lubang di pematang-pematang tambak, sehingga mengakibatkan bocornya tambak, juga suka menggerogoti kayu yang digunakan sebagai pintu air. Hewan tersebut adalah jenis kepiting [Syllacia serrata], jenis remis [Teredo navalis].
Pemberantasan dan penanggulangan hama tambak tersebut antara lain dilakukan dengan memanfaatkan obat anti hamaa [pestisida] untuk membunuh hama-hama tersebut. Pestisida yang digunakan dapat berupa bahan tradisional maupun bahan kimia dari pabrik yang tujuannya adalah membunuh hama tetapi tidak mengganggu udang itu sendiri.
Bahan tradisional, berupa bahan-bahan nabati yang mudah diperoleh dan bersifat racun terhadap hama tambak yaitu tembakau, biji teh dan akar ketuba. Untuk bahan tembakau, daun tembakau dipotong kecil-kecil atau ditumbuk menjadi serbuk yang kemudian ditaburkan ke dalam tambak. Untuk bahan biji teh, biji teh tersebut direndam di dalam air sehari semalam, kemudian ditumbuk sampai halus dan ditebarkan merata ke dalam tambak. sedangkan untuk akar tuba, akar tersebut dipotong-potong, direndam dalam air sehari semalam, kemudian ditumbuk halus, diperas dan ditebarkan ke dalam kolam.

Tabel Bahan tradisionl pembasmi hama tambak

    Bahan                    Bahan aktif                  jumlah penggunaan/ha     

     Tembakau                  nikotin                         200-40 Kg
     Biji teh                  saponin                         150-200 Kg
     Akar tuba                 Rotenon                         10  Kg

Bahan kimia pembasmi hama yang dibuat di pabrik biasanya digolongkan dalam kelompok pestisida dan ini bermacam-macam, tergantung pabriknya. Bahan pestisida tambak yang telah dikenl oleh petambak di Indonesia adalah Brestan-60, yang cara-cara pemberiannya tertulis pada label produksinya.

Pemeliharan Udang Windu

Tata Laksana Pemeliharaan
    Untuk membudidayakan udang Windu yang dikenal dengan nama latin Penaeus monodon ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu kualitas air dan tata cara pemeliharaan di fase-fase umur tertentu.
    Kualitas air yang harus diperhatikan yaitu meliputi penggantian air dan beberapa kualitas air tertentu yang disesuaikan dengan umur udang seperti diperlihatkan pada tabel berikut.

            Penggantian
    Umur udang    Kadar        air/ha/hr                      
    [bulan]                 garam            jumlah    %*]
        [0/00]    asin              tawar   
            [300/00]   

    1                          25                     125               625           750            5
    2                          20                     840               990          1830           10
    3                          15                    1125              1125          2250           15
    4                          15                    1500              1500          3000           20
Tata laksana pemeliharaan udang berdasarkan fase umurnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu tatalaksana pemeliharaan pada fase larva dan fase dewasa di tambak pembesaran.
a.     Pemeliharaan Fase Larva
Tata cara Pemeliharaan larva yang baik, yaitu sistem kolam yang terpisah, terdiri atas kolam diatomae, kolam induk dan kolam larva yang dipisahkan satu sama lain. Untuk lebih jelasnya tata cara pemeliharaan di masing-masing kolam akan dijelaskan berikut.
1.     Kolam Diatomae
Diatomae adalah sejenis ganggang yang biasanya digunakan sebagai pakan larva udang. Jenis diatomae yang sering digunakan untuk pakan larva udang ini dari jenis Chaetoceros sp, Skeletonema sp dan Tetra selinis. Jenis-jenis diatomae tersebut dikembangbiakkan [dikultur] secara buatan dengan cara sebagai berikut.
*    Pemupukan dilakukan pada jenis ganggang murni di dalam air laut yang disaring atau
*    Digunakan pada air laut yang sudah mengandung beberapa jenis ganggang diatomae. Air laut yang akan digunakan untuk menumbuhkan ganggang ini harus diambil dari daerah pantai yang berair jernih. Dengan kondisi seperti itu beberapa jenis ganggang diatomae dapat tumbuh. Di samping itu dalam keadaan seperti ini salah satu jenis akan lebih Dominan dibandingkan jenis-jenis ganggang yang lainya.
*    Pemupukan yang dilakukan pada kolam tempat menumbuhkan diatomae dengan menggunakn KNO3 10 mg/l; KH3PO4 1mg / l; Na2Sio3 1mg/l campuran mineral [premix] 0,2 mg/l.
Setelah mencapai waktu 2-3 hari, diatomae akan tumbuh subur dan sudah siap untuk diberikan pada larva udang fase Zoea. Jenis diatomae yang berukuran agak besar dapat diberikan pada larva udang fase mysis, tetapi sebenarnya larva udang pada fase ini lebih menyukai pakan yang berasal dari Zooplankton.
2.     Kolam Induk
Induk-induk udang yang sudah mengandung telur dan berasal dari laut lepas yang ditangkap nelayan selanjutnya dimasukkan ke dalam kolam berukuran 500 l di waktu senja hari; namun sebelumnya udang-udang itu perlu dicelupkan terlebih dahulu dalam larutan anti septik formalin. Pada umumnya telur udang dikeluarkan pada malam hari. Kemudian telur-telur udang yang berhasil dibuahi akan menetas menjadi larva fase nauphilus. Setelah telur menjadi larva nauphilus, sangat perlu nauphilus-nauphilus tersebut dipindahkan.

3.     Kolam Larva
Nauphilus yang ditempatkan pada kolam larva yang berukuran 2000-8000 l. Artemia dan Zooplankton yang diambil dari kolam diatomae, diberikan padalarva fase Mysis dan Post Larva [PL5 - PL6]. Pakan yang berupa artemia [artemia kering dan udang kering] diberikan pada larva udang fase Zoea sampai PL6. Lama Periode PL5 - PL6 dipindahkan ke petak tambak buyaran dengan kepadatan 32 - 1000 ekor/m3, dan setiap harinya diberi pakan artemia dan pakan buatan. Setelah larva udang mencapai fase PL20 - PL 30 atau yang biasa diberi nama benur, dapat dijual atau ditebarkan ke dalam tambak pembesaran.

b.     Tata Cara Pemeliharaan pada Fase Dewasa
Seperti pada fase larva, tata cara pemelihaaraan udang bergantung pada sistem tambak yang diterapkan. Pada pemeliharaan udang dengan cara ekstensif. Udang dipelihara seadanya saja, baik pada saat tahap persiapan pemupukan tambak maupun penebaran benih. Bahkan umumnya tidak pernah diberi pakan tambahan. Di samping itu proses pergantian air atau penambahan air tidak pernah dilakukan. Lain halnya pada tambak-tambak sistem intensif, biasanya dilakukan pemupukan, walaupun hanya pada bulan-bulan pertama. Sekitar 5 - 20% air tambak perlu diganti setiap hari, tetapi umumnya petani tambak hanya melakukannya pada bulan-bulan pertama benih setelah ditebar.
Pada tambak yang diusahakan secara intensif persiapan dan kontruksinya lebih bagus. Lebih sering dilakukan penggantian air yaang biasanya dilakukaan setiap hari, sekitar 30 % dari volume tanbak. Sedangkan pakan berupa pelet yang bermutu tinggi bisanya dilakukan 2 - 4 kali setiap harinya atau terkadang lebih. Aerasi sistem mekanik [kincir air] dilakukan sejak budidaya dan pemanenan yang dilakukan 4 bulan sekali.
   

Makanan Udang Windu

Makanan Udang Windu
Seperti telah diuraikan pada penjelasan sebelumnya, bahwa makanan Udang Penaeus berbeda-beda setiap periode kehidupannya. Makanan tersebut secara alamiah bergantung pada tersedianya makanan di lokasi tempat mereka hidup. Mereka biasanya makan hewan-hewan kecil sejenis poraminifera, copepoda, larva kerang [bivalvus dan brachiura]. Udang muda bersifat detritivorus yaitu pemakan sisa-sisa tumbuhan air yang kecil atau plankton dan apabila sudah dewasa mereka bersifat detritivorus-carnivorus, yaitu memakan juga hewan kecil lainnya. Di tempat budidaya udang, makanan tersebut dibedakan antara larva dan dewasa [termasuk post larva]. Menurut Terazaki [1981], makanan yang diberikan pada periode larva [nauphilus - post larva] adalah macam-macam jenis plankton [diatom], sedangkan bila sudah dewasa mereka diberi makanan formula yang mengandung unsur-unsur nutrisi yang cukup. Dalam bab ini dibahas unsur-unsur nutrisi yang baik untuk pertumbuhannya, baik makanan alamiah pada udang yang tidak dibudidayakan maupun makanan buatan untuk udang yang dibudidayakan.
Seperti juga pada mamalia, udang memerlukan unsur-unsur nutrisi untuk pertumbuhannya. Unsur-unsur yang penting adalah protein, karbohidrat, lemak dan unsur mineral yang esensial. Protein merupakan unsur nutrisi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan udang. Dari hasil penelitian orang Inggris, Sedgwick [1979a], melaporkan bahwa konsumsi makanan rata-rata pada udang P. merguiensis sangat erat hubungannya dengan jumlah kandungan energi yang terdapat dalam makanan. Dia melaporkan bahwa kandungan protein yang diperlukan untuk merangsang pertumbuhan adalah 34-42%, yang mengandung energi 2,9 - 4,4 Kcal/g. Hasil penelitian di Polynesia [AQUACOP, 1976], mengatakan bahwa pada P. monodon, jumlah protein yang dibutuhkan dalam makanannya adalah 40 %, yang mengandung kalori 3,3 Kcal/g. Menurut Sedgwick [1979a], komposisi makanan yang baik untuk P. merguiensis sebagaimaana diperlihatkan pada tabel berikut        

    Unsur nutrisi                 Jumlah                        % kalori
    [berat kering]                       %                            

    Protein kasar                   39,5                           54,3  
    karbohidrat                    28,9                           27,0  
    lemak                           8,4                            18,7  
    abu                             14,1                            -    

Protein yang digunakan untuk pakan udang harus merupakan protein yang bermutu tinggi, untuk menghindarkan terjadinya defisiensi asam amino. Protein kualitas tinggi tersebut diperoleh dari sejenis kerang / moluska dari jenis Mytilus edulis yang lebih dulu dikering-bekukan.Komposisi nutrisi M. edulis tersebut adalah sebagai berikut.
-     Protein kasar     57,2 %
-     Karbohydrat         20,4 %
-     Lemak                   4,6 %
-     Abu                      8,6 %
Jumlah kalori          4,52 Kcal / g

Bahan karbohydrat yang digunakan adalah bahan makanan yang mudah dipecah menjadi polysakharida, ini diperoleh dari tepung gandum. Sedangkan bahan lemak yang digunakan adalah dari minyak ikan yang kaya akan bahan asam lemak tidak jenuh. Sedangkan vitamin dan mineral yang diberikan ialah Premix sebanyak 3 %

Sistem Pembenihan Udang Windu

Pembenihan
Pembenihan udang biasanya dilakukan sebagai usaha terpisah yang hasilnya dijual, tetapi pada pengusahaan tambak yang besar dan kadang-kadang sekaligus dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami dan buatan. Pembenihan secara alami dilakukan dengan mengalirkan air laut ke dalam tambak dengan harapan akan ada bibit-bibit udang yang terbawa dan dibesarkan. Pembenihan cara ini banyak dilakukan oleh para petani tambak tradisional. Sedangkan pembenihan buatan dilakukan dengan menangkap udang betina yang sudah siap bertelur untuk dibiakkan di dalam kolam pembenihan.

a.     Sistem Pembenihan
Sistem ini telah dikembangkan di Jepang dengan menggunakan kolam yang berukuran besar yang kapasitasnya dapat menampung benih udang 40.000 sampai 2 juta liter lebih. Kolam ini dapat terletak di udara terbuka atau di bawah atap plastik transparan. Kolam diisi air laut yang sudah di saring dan selalu diberi airasi [2]. Induk udang yang akan melepaskan telur dimasukkan ke dalam kolam pada waktu pagi hari, kemudian pemupukan kolam dilakukan apabila larva naupilus udang sudah terlihat, dengan penambahan beberapa spesiesphytoplankton dan juga zooplankton yang berguna untuk makanan larva udang tersebut. sistem ini sangat bergantung pada kondisi lingkungan dari kolam, tetapi beberapa kerugian dapat timbul pada sistem ini, yaitu :
1.    Kesulitan dalam mengontrol kandungan algae yang tumbuh dalam kolam juga sulit mengontrol bila timbul penyakit.
2.    Kolam besar sangat memerlukan induk yang siap untuk bertelur dalam jumlah yang banyak.
3.    Sulit mendapatkan bibit udang induk dari spesies P. monodon [udang windu] dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu.
4.    Larva P. monodon lebih sensitif pada pemupukan langsung, sehingga dapat menimbulkan kematian.
5.    Biaya yang diperlukan untuk membuat kolam yang besar terlalu mahal.

b.     Sistem Kolam Terpisah
Sistem ini telah berhasil dikembangkan di Texas, Amerika Serikat dan sistem inilah yang paling disukai oleh usaha-usaha pembenihan udang di negara-negara Asia. Sistem ini menggunakan beberapa kolam yang lebih kecil dengan kapasitas 500 - 30.000 liter. Kolam terpisah tersebut digunakan untuk pemeliharaan algae, diatom dan pembenihan artemia, kolam untuk bertelur dan kolam buyaran untuk pemeliharaan larva. Diatom yang digunakan untuk maknan larva dibiakkan di dalam kolam kecil yang berukuran 1000 - 2000 liter yang berisi air laut yang sudah disaring dan kemudian dipupuk. Induk udang dipelihara dalam kolam terpisah, kemudian telur ataupun larva naupilus diambil dan dipindahkan ke dalam kolam larva. Makanan bahan-bahan hidup seperti diatom atau artemia diberikan setiap hari dalam kolam larva. Post larva hari ke-6 [PL6) kemudian dipindahkaan dalam kolam buyaran dengan kepadatan sekitar 32-1000 larva / meter kubik yang kemudian dijual atau ditebarkan ke dalam tambak pembesaran pada periode post larva 20 sampai 30 [PL 20-PL 30).

c.     Cara Penebaran
Penebaran benih post larva [PLO-PL30] ke dalam tambak pembesaran bergantung pada sistem tambaknya dan luasnya. Pada sistem trambak ekstensif, ada yang penebarannya tidak dengan menggunakan benur dari pembenihan, tetapi dengan benur alam. cara ini banyak dilakukan oleh petambak tradisional, yaitu dengan mengalirkan air laut pada waktu pasang ke dalam tambak tambak dan diharapkan benur udang putih ikut masuk ke dalam tambak dan dipelihara. Cara penebaran benur udang windu dapat dilihat pada tabel berikut.

    Sistem tambak    Jumlah larva      Harapan hasil              ekor / ha    panen ton/ha

     Ekstensif                      < 5000                            0,3 - 0,5
     Semi intensif            10. 000 - 40. 000                       1,0 - 2,5
     Intensif                 40. 000 - 300.000                       3,0 - 6,0


Pemanenan biasanya dilakukan setiap 4 bulan setelah penebaran benur. Di Indonesia pada tambak intensif, penebaran benur bervariasi antara 40.000 - 400.000 ekor dengan produksi antara 1 - 10 ton / ha / 4 bulan. tetapi perlu diingat bahwa penebaran terlalu banyak benur dapat menaikkan angka kematian.

Teknik Pembuatan Tambak


Pembuatan suatu unit tambak haruslah memenuhi beberapa kriteria yang memadai, yaitu :
-    Kemudahan mobilitas dan operasional di sekitar tambak;
-    Kelancaran suplai air dan pembuangan;
-    Menghemat biaya konstruksi tanpa mengurangi fungsi teknik unit tambak yang dibangun;
-    Menjaga kelestarian lingkungan hidup
   
Demi kelancaran dan keamanan, unit tambak perlu dikelilingi tanggul primer yang cukup lebar [untuk transportasi] dan kuat [untuk menahan banjir - lebar = 4 m; lereng bagian dalam 1:1,5 m; bagian luar 1:2 m]. Tanggul sekunder [penyekat tiap tambak] dibuat lebih kecil, disesuaikan dengan fungsinya. Perlu dibuat petak pengendapan yang letaknya dekat dengan sumber air, sehingga air yang masuk ke dalam tambak lebih jernih. Perlu dibuat bangunan tambahan untuk menyimpan peralatan, untuk generator ataupun bengkel perbaikan alat. Perlu dibangun juga rumah penjaga yang letaknya dibuat sedemikian rupa sehingga dekat tambak untuk memudahkan operasi sehari-hari. Seperti dipelihatkan pada bagan berikut.












(A) Denah tambak semi intensif dan (B) yang berlokasi di pinggir laut. L= laut, A+= sumber air tawar, a & B= kolam penyimpanan air (pengendapan), R= rumah, G= gudang, Pa= pompa air, S= sungai.



















Denah tambak intensif yang lokasinya jauh dari sungai (A) dan jauh dari laut (B) P+ =pompa air tawar, Pa= pompa air asin,
L= laut, S= sungai

Kontruksi tambak seperti tanggul dan letak sumber air, harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
-    Tahan terhadap damparan ombak besar, angin kencang dan banjir;
-    Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen;
-    Tanggul harus padat dan kuat tidak bocor atau merembes serta tahan terhadap erosi air;
-    Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari sehingga dapat menghemat tenaga dan energi [mobilitas, listrik, distribusi makanan, panen, pembuangan kotoran dan lain-lain);
-    Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia;
-    Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya
Teknik pembuatan tambak ini dibagi menjadi tiga sistem yang disesuaikan dengan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, yaitu tambak ekstensif, semi intensif dan intensif.

1.     Tambak Ekstensif
Tambak sistem ini biasanya dibangun pada lahan pasang surut, yang pada umumnya berupa rawa-rawa bakau, atau rawa-raw pasang surut bersemak dan rerumputan. Luas tambak berkisar antara 1 - 3 ha, dengan satu pintu air di setiap petak. Pengisian dan pembuangan air sepenuhnya bergantung pada daya gravitasi pasang surutnya air laut. Dasar tambak terdiri atas pelataran yang dikelilingi oleh caren dengan lebar sekitar 8 m dan dalamnya 0,5 m. Kedua bentuk bangunan tersebut dibuat karena pada tambak ekstensif ini udang sangat bergantung pada makanan alami yang ditumbuhkan pada dasar tambak, yang disiapkan lebih dahulu dengan pemupukan. Kedalaman air dalam tambak sekitar 0,5-0,6 m dan tidak digunakan kincir air, tetapi pompa air masih tetap diperlukan untuk proses penggantian air.

2.     Tambak Semi Intensif
Tambak sistem ini biasanya tidak seluas tambak ekstensif yaitu sekitar 0,5-1 ha. Pengisian dan pengeluaran air dilakukan melalui saluran yang berbeda. Tambak yang luas petakannya 0,5 ha, berbentuk bujur-sangkar, pintu pembuangan air dan kotoran diletakkan di tengah-tengah petakan serta latai dasarnya agak miring ke tengah ke arah pintu. Pipa sambungan yang terletak di susut untuk pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin. Pintu air di tengah tersebut sangat baik, karena dapat membuang kotoran udang secara tuntas, di samping itu kincir air yang diletakkan sedemikian rupa pada sudut petak dapat mengalirkan air bersama kotoran ke arah tengah seperti terlihat pada gambar berikut.


















A tambak dengan 0,5 ha; B= pipa goyang dari pintu buangan tengah; C= tambak dengan luas 1 ha; D= parit keliling; E= saluran tambak semiintensif; Pb= pintu pembuangan kotoran; Ka= kincir air; Pp= Pintu panen; Pr= parit pengering; S= saluran air; Tb= tambak; P= pipa pembuangan air hujan dan kotoran.

3.     Tambak Intensif
Luas petakan tambak dengan sistem ini terkecil dibanding dengan sistem yang lainnya yaitu sekitar 0,3 - 0,5 ha; biasanya berbentuk bujur sangkar yang dilengkapi dengan pintu pembuangan di tengah dan pintu panen model monik di pematang saluran buangan. Bentuk dan kontruksinya menyerupai tambak semi intensif bujur sangkar. Lantai dasar dipadatkan sampai keras, dan biasanya dilapisi oleh pasir/kerikil. Tanggul biasanya dibuat dari tembok, sedang air laut dan air tawar dicampur dalam bak pencampur sebelum masuk ke dalam tambak. Pipa pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin biasanya di pasang mati disudut petak seperti terlihat pada gambar di berikut ini.











Letak dan skema pintu panen pada tambak intensif.
A= denah tambak intensif 0,4-0,5 ha. B= pintu modell monik ditanggul; C= skema pintu panen model monik; T= tanggul; JP= jaringan panen.











Skema pintu pembuangan kotoran dan letaknya. A= skema pintu pembuangan; B= letak pintu pembuangan dalam tambak; P= pipa garis tengah 10 inci; Kb= kere bambu; Pn= papan kayu; Ls= Lantai semen; Sr= saringan; Pb= parit buang.