PEMUNGUTAN HASIL
Jika budidaya yang kita lakukan berhasil, ikan sudah bisa dipanen
selama 5-6 bulan. Pemanenan harus dilakukan secara hati-hati agar ikan tidak rusak. Dengan demikian, kualitas terjaga dan harga jualnya pun tinggi.
Pemungutan hasil dilakukan secara selektif terhadap ikan yang beratnya sudah mencapai 600-800 gram/ekor. Ikan yang belum mencapai berat 600 gram dapat dipelihara kembali sehingga mencapai ukuran yang kita kehendaki, kecuali bila ada permintaan pasar terhadap ukuran tertentu atau kurang dari 600 gram.
Ukuran berat tersebut didasarkan kenyataan bahwa untuk jenis kakap putih ini permintaan pasar lebih banyak terhadap ikan dengan berat di bawah 1 kg per ekor.
Di samping itu, karena ikan kakap putih ini adalah hasil budidaya, pemasaran dapat diatur sebaik-baiknya untuk mendapat an harga yang paling tinggi.
Karena ikan ini biasanya dipasarkan dalam keadaan hidup atau segar, perlu diperhatikan pengangkutannya. Pengangutan ikan dalam kantong haruslah menggunakan oksigen dan tidak terlalu padat isinya. Hal ini untuk menjaga agar ikan tetap hidup sampai di tujuan.
Friday, 9 December 2016
Hama dan Penyakit yang menyerang budidaya Kakap putih serta Penanggulangannya
Dalam menjalankan budidaya ikan kakap, saat proses berlangsung, terkadang tidaklah lancar begitu saja. Ada saja berbagai kemungkinan yang terjadi. Salah satunya adalah terjangkit berbagai penyakit.
Sebagai makhluk hidup, ikan kakap tidak selalu sehat. Ia terkadang terserang oleh berbagai bibit penyakit. Adapun jenis penyakit yang dialami oleh ikan kakap terjadi oleh dua sebab. Pertama disebabkan oleh bibit penyakit. Kedua penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan.
A. PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BIBIT PENYAKIT
Ikan yang diserang oleh bakteri, disebabkan oleh lemahnya kondisi ikan itu sendiri. Lemahnya ikan dapat disebabkan oleh faktor lingkungannya. Akibat faktor lingkungan yang tidak sesuai dengan kebiasaan hidupnya itu, membuat ikan kakap menjadi stres.
Selanjutnya, infeksi bakteri pun terjadi. Akibat terburuk pun dapat terjadi. Ikan kemungkinan besar akan mati.
Adapun ciri-ciri ikan kakap yang terserang bakteri adalah sebagai berikut.
a. Terjadi perubahan warna kulit.
b. Timbul luka pada kulitnya
c. Muncul benjolan-benjolan pada permukaan kulitnya.
d. Matanya menonjol.
Berbagai kuman yang bersifat parasit banyak menyerang ikan kakap. Jenis-jenis kuman tersebut adalah sebagai berikut.
1. Saprolegnia, sp
2. Myzobacer, sp
3. Vibrio sp
4. Aeromonas sp
Gambar ikan terserang Saprolegnia sp
Gambar ikan terserang bakteri
B. Penyakit yang Disebabkan Oleh Faktor Lain
Selain disebabkan oleh bibit penyakit, penyakit yang menyerang ikan kakap putih dapat disebabkan pula oleh faktor lingkungan, faktor pakan yang kurang baik, faktor keturunan, dan kesalahan dalam membudidayakan.
1. Faktor lingkungan
Kita ketahui bahwa lingkungan terdiri dari berbabai unsur yang kompleks. Ada unsur fisika, kimia, dan biologi. Faktor fisika dan kimia yang tidak cocok dengan kehidupan ikan kakap dapat menimbulkan kematian. Adapun faktor fisika dan kimia itu adalah sebagai berikut.
a. Kurangnya kadar oksigen dalam air.
b. Kadar garam yang tidak sesuai dengan kebiasaan hidup kakap putih. Misalnya terlalu tinggi atau terlalu rendah.
c. Air yang tercemar gas-gas beracun.
d. Perubahan suhu yang mendadak.
Adapun gangguan dari faktor dapat idtimbulkan dari organisma lain seperti ular, kepiting, burung, dan ikan lainnya. Mereka yang merupaakn predator akan mengganggu kehidupan ikan kakap.
2. Faktor pakan
Pakan merupakan kebutuhan bagi setiap makhluk hidup. Pemberian pakan yang kurang baik dapat menghambat pertumbuhan ikan kakap, mudah terserang penyakit, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Selain itu, pemberian pakan berupa makhluk hidup pada ikan kakap mulai dari burayak hingga dewasa harus sesuai. Dengan demikian, tidak akan menimbulkan kematian.
Hal lain yang penting adalah pemberian jumlah pakan anorganik. Jika kita memberikan pakan yang terlalu banyak sehingga bersisa, misalnya di tambak, sisa-sisa makanan itu akan membusuk. Pembusukan akan menyebabkan air terkontaminasi. Ikan kakap akan mabuk dan mati.
3. faktor keturunan
Penyakit pada ikan kakap dapat pula disebabkanoleh faktor keturunan, misalnya bentuk fisik ikan yang tidak normal atau kelainan tubuh lainnya. Oleh karena itu, dalam memilih benih untuk dibudidayakan, kita harus benar-benar memperhatikannya.
4. Faktor kesalahan dalam pembudidayaan
Kesalahan dalam pembudidayaan ikan kakap dapat menimbulkan berbagai penyakit. Adapun kesalahan yang sering terjadi dalam pembudidayaan adalah sebagai berikut.
a. Padat tebar ikan kakap di dalam media. Hal ini dapat mengakibatkan kematian pada ikan kakap. Penyebabnya adalah selain persaingan terlalu tinggi, kemungkinan saling memangsapun akan terjadi. Padatnya penebaran ikan dalam media dapat pula menyebabkan cepatnya persebaran penyakit dari satu ikan ke ikan lainnya.
b. Pengelompokan ikan kakap yang tidak setara. Pengelompokan ikan yang tidak setara dari segi ukuran ikan dapat mengakibatkan kematian pada ikan yang lebih kecil. Hal ini karena ikan itu akan dimangsa oleh ikan yang lebih besar.
C. PENANGGULANGAN
Penyakit-penyakit tersebut dapat ditanggulangi. Adapun langkah-langkah penanggulangannya adalah sebagai berikut.
1. Pencegahan
Menurut kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan demikian, tidakan pencegahan lebih baik dilakukan dari pada pengobatan. Pencegahan terjangkitnya penyakit pada ikan dapat dilakukan dengan berbagai faktor. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1. Menjaga mutu air. Mutu dan kualitas air yang baik harus lelalu diperhatikan. Adapun mutu dan kualitas air yang baik berkaitan dengan pH, kadar garam, kadar oksigen, kejernihan, tidak terkontaminasi, dan lain-lain. Adapun cara menjaga mutu dan kualitas air tersebut adalah dengan menjaga pintu masuk dan pintu keluar air di tambak. Dengan demikian, air tambak akan tetap fresh.
2. Pemberian pakan yang cukup. Kurangnya pemberian pakan dapat menurunkan daya tahan tubuh ikan tersebut sehingga dapat terjangkit penyakit. Jika ikan cukup pakannnya, ia akan sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang tinggi.
3. Mengurangi kemungkinan timbulnya perubahan faktor lingkungan yang dapat mengakibatkan stres pada ikan
4. Pemilihan bibit unggul yang sehat.
5. Pemberian vaksinasi.
6. Menciptakan kenyamanan pada media pembudidayaan sehingga ikan seolah-olah merasa hidup di alam.
7. Melakukan sanitasi tempat pembenihan.
2. Pengobatan
Pengobatan biasanya dilakukan dengan menyuntikkan bahan kimia terhadap badan ikan.
a. Saprolegniasis
Jika ikan terserang oleh bakteri jenis ini, pada bagain yang terserang diolesi dengan:
1) Yodium Tincture 0,1%, atau
2) Potassium dicromate 1%, atau dapat pula digunakan
3. Larutan Methylene blue 0,1 ppm selama 1 jam dan diulagi selama 3 hari.
b. Serangan bakteri
Jika ikan ini terserang bakteri, sebagai pengobatannya dapat direndam dalam larutan:
1) Nitrofurazone 15 ppm selama 4 jam; atau
2) Chloramphenicol 50 ppm selama 2 jam; atau
3) Sulphonamide 50 ppm selama 4 jam.
Pembesaran ikan kakap putih di Tambak
Pembesaran ikan kakap putih di Tambak
Selain di keramba jaring apung, pembesaran ikan kakap putih dapat pula dilakukan di tambak. Lokasi tambak harus dekat dengan laut. Dengan demikian, tambak akan kaya air laut dan air tambak. Dua sumber air ini dicampurkan dalam satu saluran dengan imbangan yang sama sehingga kadar salinitas (tingkat keasinan) airnya menjadi rendah. Salinitas tambak yang ideal, yaitu antara 10-30 permil.
Adapun tanah dasar tambak yang cocok adalah tanah liat bercampur pasir. Tanah ini biasanya terbentuk dari endapan air sungai. Tanah yang berpasir, tidak cocok untuk membudidayakan kakap putih.
Tambak terdapat beberapa model, yaitu:
a. Tambak Model Jawa Barat
Tambak model Jawa Barat, desainnya sangat sederhana. Tambak ini hanya terdiri dari tambak pendederan dan tambak pembesaran. Tambak pendederan hanya berukuran 1 % dari keseluruhan luas tambak. Sisanya, yaitu 99% merupakan tambak pembesaran.
b. Tambak Model Jawa Timur
Tambak Model Jawa Timur desainnya cukup kompleks. Tambak ini terdiri dari petak pendederan dengan ukuran 1 %, petak pembai ari sebesar 2%, dan petak gelondongan sebesar 9%. Sisanya adalah petak pembesaran dengan ukuran 88% dari keseluruhan luas tambak.
c. Tambak Model Taiwan
Tambak Model Taiwan lebih kompleks lagi ketimbang tambak Jawa Timur. Tambak jenis ini terdiri dari beberapa petak, yaitu:
1. Petak yang dipergunakan khusus untuk aklimatisasi benih kakap sebelum ditebar. Adapun luasnya sebesar 0,5% dari keseluruhan luas tambak.
2. Terdapat pula petak pendederan dan penimbunan. Luasnya sebesar 1% dari keseluruhan luas tambak.
3. Tambak jenis ini dilengkapi pula dengan jalan ikan pada saat penggiringan untuk panen.
4. Untuk petak pemindahan ikan disiapkan lahan seluas 5%.
5. Petak pembesaran 82,5%
1. Persyaratan Tambak
Lokasi untuk budidaya ikan kakap putih di tambak harus mempunyai mutu air, tanah, dan pasang surut yang baik. Ukuran tambak 2000 M2 – 2 Ha dengan bentuk segi empat. Kedalaman 1,2 – 1,5 m. Tiap kolam mempunyai pintu pemasukan dan pengeluaran air dengan dasar yang rata.
Gambar Skema Tambak pembesaran ikan kakap putih
C. Sistem Pemeliharaan
Padat penebaran dengan sistem monokultur adalah 10.000 sampai 20.000 ekor/Ha. Sedangkan bila dengan sistem polykultur padat penebaran adalah 3.000 – 5. 000 ekor/Ha. Sistem polykultur ini biasanya dilakukan bersamaan dengan ikan nila atau mujair dengan kepadatan 5.000 – 10.000 ekor/Ha dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 3 . Air dalam tambak harus ada pergantian setiap hari. Masa pemeliharaan dalam tambak biasanya 4 – 8 bulan tergantung ukuran yang dikehendaki.
D. Pemberian Pakan
Salah satu faktor yang sangat menentukan pertumbuhan dan mortalitas ikan yang dipelihara adalah faktor ketersediaan pakan yang cukup. Pakan yang diberikan untuk benih maupun ikan ukuran konsumsi, yaitu ikan rucah segar. Jumlah pakan yang diberikan bergantung ukuran ikan yang dipelihara. Untuk ikan dengan berat kurang dari 100 gram diberikan sebanyak 8 – 10% dari berat ikan. Sedangkan untuk ikan ukuran sampai 300 gram diberikan pakan sebanyak lebih kurang 3 – 4% dari berat badan ikan per hari.
Frekuensi pemberian pakan tergantung pada ukuran, umumnya untuk ukuran larva dan glondongan frekuensi pemberian pakannya adalah 3 – 4 kali perhari. Sedangkan pada pembesaran frekuensi pemberian pakannya 2 kali sehari. Waktu pemberian pakan yang baik bagi ikan kakap putih pada kurungan pembesaran dianjurkan setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Apabila suplai ikan rucah tidak dapat mencukupi kebutuhan dan harganya relatif mahal sehingga penggunaan dibatasi dengan cara dicampur dengan dedak halus atau menir.
Perbandingan komposisi ikan rucah dan dedak halus yaitu 70%:30%
Tabel 3. Perbandingan berat ikan kakap putih dan pakan yang diberikan pada 100 ekor setiap hari
Ukuran ikan Berat badan Berat pakan Prosentase pakan
Ikan (gram) perhari (kg) dari berat badan
Ikan (%)
Kecil 50 0,4 8
100 0,5 5
200 1,0
300 1,5
400 2,0
500 2,5
Sedang 600 2,4 4
700 2,8
800 3,2
900 3,6
Besar 1.000 3,0 3
1.200 3,6
1.300 3,9
1.400 4,2
1.500 4,5
Perkembangan terakhir, peningkatan pemakaian pakan untuk ikan kakap putih dengan mencoba menggunakan pakan basah, Komposisi pakan basah yang dianjurkan saat ini tertera pada tabel 3
Tabel 3. Komposisi pakan basah untuk ikan kakap putih
Jenis bahan Prosentasi (%)
Tepung ikan 35
Dedak halus 20
Tepung kedelai 15
Tepung jagung 10
Tepung daun 3
Minyak ikan 7
Tepung pati/karbohidrat 8
Vitamin 2
Selain di keramba jaring apung, pembesaran ikan kakap putih dapat pula dilakukan di tambak. Lokasi tambak harus dekat dengan laut. Dengan demikian, tambak akan kaya air laut dan air tambak. Dua sumber air ini dicampurkan dalam satu saluran dengan imbangan yang sama sehingga kadar salinitas (tingkat keasinan) airnya menjadi rendah. Salinitas tambak yang ideal, yaitu antara 10-30 permil.
Adapun tanah dasar tambak yang cocok adalah tanah liat bercampur pasir. Tanah ini biasanya terbentuk dari endapan air sungai. Tanah yang berpasir, tidak cocok untuk membudidayakan kakap putih.
Tambak terdapat beberapa model, yaitu:
a. Tambak Model Jawa Barat
Tambak model Jawa Barat, desainnya sangat sederhana. Tambak ini hanya terdiri dari tambak pendederan dan tambak pembesaran. Tambak pendederan hanya berukuran 1 % dari keseluruhan luas tambak. Sisanya, yaitu 99% merupakan tambak pembesaran.
b. Tambak Model Jawa Timur
Tambak Model Jawa Timur desainnya cukup kompleks. Tambak ini terdiri dari petak pendederan dengan ukuran 1 %, petak pembai ari sebesar 2%, dan petak gelondongan sebesar 9%. Sisanya adalah petak pembesaran dengan ukuran 88% dari keseluruhan luas tambak.
c. Tambak Model Taiwan
Tambak Model Taiwan lebih kompleks lagi ketimbang tambak Jawa Timur. Tambak jenis ini terdiri dari beberapa petak, yaitu:
1. Petak yang dipergunakan khusus untuk aklimatisasi benih kakap sebelum ditebar. Adapun luasnya sebesar 0,5% dari keseluruhan luas tambak.
2. Terdapat pula petak pendederan dan penimbunan. Luasnya sebesar 1% dari keseluruhan luas tambak.
3. Tambak jenis ini dilengkapi pula dengan jalan ikan pada saat penggiringan untuk panen.
4. Untuk petak pemindahan ikan disiapkan lahan seluas 5%.
5. Petak pembesaran 82,5%
1. Persyaratan Tambak
Lokasi untuk budidaya ikan kakap putih di tambak harus mempunyai mutu air, tanah, dan pasang surut yang baik. Ukuran tambak 2000 M2 – 2 Ha dengan bentuk segi empat. Kedalaman 1,2 – 1,5 m. Tiap kolam mempunyai pintu pemasukan dan pengeluaran air dengan dasar yang rata.
Gambar Skema Tambak pembesaran ikan kakap putih
C. Sistem Pemeliharaan
Padat penebaran dengan sistem monokultur adalah 10.000 sampai 20.000 ekor/Ha. Sedangkan bila dengan sistem polykultur padat penebaran adalah 3.000 – 5. 000 ekor/Ha. Sistem polykultur ini biasanya dilakukan bersamaan dengan ikan nila atau mujair dengan kepadatan 5.000 – 10.000 ekor/Ha dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 3 . Air dalam tambak harus ada pergantian setiap hari. Masa pemeliharaan dalam tambak biasanya 4 – 8 bulan tergantung ukuran yang dikehendaki.
D. Pemberian Pakan
Salah satu faktor yang sangat menentukan pertumbuhan dan mortalitas ikan yang dipelihara adalah faktor ketersediaan pakan yang cukup. Pakan yang diberikan untuk benih maupun ikan ukuran konsumsi, yaitu ikan rucah segar. Jumlah pakan yang diberikan bergantung ukuran ikan yang dipelihara. Untuk ikan dengan berat kurang dari 100 gram diberikan sebanyak 8 – 10% dari berat ikan. Sedangkan untuk ikan ukuran sampai 300 gram diberikan pakan sebanyak lebih kurang 3 – 4% dari berat badan ikan per hari.
Frekuensi pemberian pakan tergantung pada ukuran, umumnya untuk ukuran larva dan glondongan frekuensi pemberian pakannya adalah 3 – 4 kali perhari. Sedangkan pada pembesaran frekuensi pemberian pakannya 2 kali sehari. Waktu pemberian pakan yang baik bagi ikan kakap putih pada kurungan pembesaran dianjurkan setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Apabila suplai ikan rucah tidak dapat mencukupi kebutuhan dan harganya relatif mahal sehingga penggunaan dibatasi dengan cara dicampur dengan dedak halus atau menir.
Perbandingan komposisi ikan rucah dan dedak halus yaitu 70%:30%
Tabel 3. Perbandingan berat ikan kakap putih dan pakan yang diberikan pada 100 ekor setiap hari
Ukuran ikan Berat badan Berat pakan Prosentase pakan
Ikan (gram) perhari (kg) dari berat badan
Ikan (%)
Kecil 50 0,4 8
100 0,5 5
200 1,0
300 1,5
400 2,0
500 2,5
Sedang 600 2,4 4
700 2,8
800 3,2
900 3,6
Besar 1.000 3,0 3
1.200 3,6
1.300 3,9
1.400 4,2
1.500 4,5
Perkembangan terakhir, peningkatan pemakaian pakan untuk ikan kakap putih dengan mencoba menggunakan pakan basah, Komposisi pakan basah yang dianjurkan saat ini tertera pada tabel 3
Tabel 3. Komposisi pakan basah untuk ikan kakap putih
Jenis bahan Prosentasi (%)
Tepung ikan 35
Dedak halus 20
Tepung kedelai 15
Tepung jagung 10
Tepung daun 3
Minyak ikan 7
Tepung pati/karbohidrat 8
Vitamin 2
Pembesaran Kakap Putih Menggunakan Jaring Keramba Apung
jaring apung
Pembesaran ikan kakap cukup baik dilakukan menggunakan jaring keramba apung. Pembesaran ini dilakukan di laut.
1. Pemilihan Lokasi
Pembesaran kakap putih dengan menggunakan keramba jaring apung memerlukan syarat-syarat tertentu. Salah satunya adalah penentuan lokasi. Hal ini karena tidak semua lokasi pantai baik digunakan untuk membesarkan ikan ini.
Untuk itu, pemilihan lokasi yang tepat akan turut menentukan keberhasilan dalam usaha budidaya ikan kakap. Adapun, lokasi yang terbaik untuk melakukan kegiatan usaha pembesaran ikan kakap di laut adalah daerah perairan pantai yang merupakan teluk, langgoon, dan perairan pantai yang terletak di antara dua buah pulau.
Namun, secara teknis persyaratan lokasi pembesaran ikan kakap yang baik adalah sebagai berikut.
a. Kedalaman pantai berkisar antara 7 – 8 m.
b. Terjadinya bergantian massa air dengan kecepatan arus rata-rata tidak lebih dari 1 m per detik dan kecepatan gelombang kurang dari 1 m per detik.
c. Fluktuasi pasang surut air antara 2 – 3 m.
d. Salinitas optimal yang dibutuhkan antara 27 – 30 per mil.
e. Suhu air berkisar antara 28 – 30 °C.
f. pH antara 7,5 – 8,5.
g. Pantai jauh dari sumber pencemaran rumah tangga, industri, dan limbah pertanian.
h. Hindari daerah yang banyak terdapat hewan penempel dan jasad/organisme pengganggu, dan tidak mengganggu alur pelayaran.
i. Mudah dicapai dan mudah pula dalam penjualan hasil.
2. Pembuatan Media Pembesaran (Keramba Jaring Apung)
Pembuatan Keramba jaring apung tidaklah sukar. Bahkan, bahan-bahannyapun mudah di dapat. Adapun cara membuatan Keramba Jaring Apung untuk pembesaran ikan kakap putih adalah sebagai berikut.
a. Kerangka
Kerangka (bingkai) karamba jaring apung dapat dibuat dari bahan balok kayu, bambu, atau besi yang dilapisi bahan anti karat. Pemilihan bahan kerangka sebaiknya disesuaikan dengan tersedianya bahan di lokasi budidaya. Jika kita menggunakan Perhatikan konstruksi kerangka rakit berikut ini!
Gambar Konstruksi kerangka rakit
b. Jaring
Jaring yang digunakan untuk keramba jaring apung adalah jaring yang umum digunakan oleh para nelayan, yaitu terbuat dari bahan polyethilene atau sering juga disebut dengan istilah jaring trawl dengan bentuk empat persegi. Adapun ukuran mata jaring disesuaikan dengan besarnya ikan yang akan dipelihara.
Tabel 1. Penyesuaian ukuran mata jaring berdasarkan besarnya ikan yang dipelihara
Mata Jaring Ukuran ikan
0,5 cm 1 – 2 cm
1 cm 5 – 10 cm
2,5 cm 20 – 30 cm
>2,5 cm >30 cm
c. Pelampung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan dan sekaligus menahan kerangka jaring karamba apung. Biasanya, bahan yang digunakan sebagai pelampung, antara lain: drum yang berkapasitas 200 liter, styrofoam, atau fibreglass.
Namun, penggunaan drum kurang baik. Hal ini karena drum akan berkarat karena air garam.
Menurut penelitian Dari BBIL (Balai Benih Ikan Lampung), penggunaan drum sebagai pelampung hanya tahan 6-8 tahun, styrofoam 36-60 tahun, dan fiberglas bisa tahan hingga 75 tahun.
Tabel 2. Jenis pelampung yang digunakan dan lama pemakaian
Jenis pelampung Lama pemakaian
Drum Kapasitas 200 liter 6 - 8 bulan
Styrofoam 36 - 60
Fibreglass 50 - 75
Untuk membuat satu unit jaring terapung yang berukuran 5 x 5 meter yang dibagi menjadi 4 bagian, masing-masing 8 – buah pelampung. Sedangkan untuk yang berukuran 7 x 7 meter yang dibagi menjadi 4 bagian, masing-masing bagian berukuran 3 x 3 meter atau lebih diperlukan 12 - 16 buah pelampang.
d. Pengikat
Pengikat adalah sesuatu yang menentukan kekuatan keramba jaring apung. Perlu kita ingat bahwa pengikat ini akan terkena air. Dengan demikian, bahan yang digunakan harus kuat, kokoh, dan tidak mudah lapuk. Untuk itu, bahan yang kita gunakan sebagai bahan pengikat adalah kawat.
Karena bahan yang digunakan untuk pengikat cukup berat, ukuran yang digunakan cukup besar. Diameter kawat yang disarankan adalah 0,5 cm. Walaupun kawat mudah berkarat, tali pengikat ini tahan sampai 1 tahun.
Gambar cara mengikat kawat pada kerangka
e. Pemberat
Pemberat berfungsi sebagai penahan jaring karamba apung agar tidak terbawa arus pantai. Pemberat untuk keramba jaring apung dapat terbuat dari beton cor atau dapat pula digunakan jangkar.
Adapun tali yang digunakan untuk mengikat antara jangkar dan keramba jaring apung harus disesuaikan dengan beban yang dipikulnya. Gunakanlah tali yang kuat dan besar. Panjang tali jangkar adalah 3 kali kedalaman air.
Gambar tali pada pemberat
Selain pemberat yang digunakan untuk menahan kerangka keramba jaring apung, ada pemberat lain yang digunakan,yaitu pemberat yang digunakan untuk menahan jaring agar jaring tersebut tetap sesuai bentuknya. Karena pemberat ini hanya untuk menahan bentuk jaring, beratnyapun tidak perlu terlalu berat. Pemberat yang digunakan biasanya terbuat dari batu atau timah yang masing-masing beratnya 2 – 5 kg.
3. Pemeliharaan Keramba Jaring Apung
Karena lokasi cukup berat yaitu di air, pemeriksaan terhadap karamba Jaring Apung harus sering dilakukan. Pemeriksaan perlu dilakukan guna menghidari berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi. Salah satu bagian rusak, kemungkinan akan merusak bagian lainnya.
Kerusakan mungkin terjadi pada putusnya tali pemberat, putusnya tali pengikat kerangka, putusnya tali pengikat pelampung. Atau mungkin pula terjadinya patah pada kerangka keramba jaring apung. Kerusakan ini perlu segera diantisipasi guna menghindari kerugian yang akan ditimbulkan.
4. Pemeliharaan Ikan di Keramba Jaring Apung
Setelah media pembesaran ikan disiapkan, tahap selanjutnya adalah proses pemeliharaan ikan tersebut. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Satu unit keramba jaring apung untuk pembesaran biasanya terdiri dari 4 buah kurungan berukuran masing-masing 5 x 5,3 m. Adapun ukuran mata jaring berkisar antara 2,5 – 5 cm terbuat dari bahan polyethilene.
Gambar Tempat pembersaran Keramba jaring apung
b. Tebarkan benih pada tempat pembesaran itu dengan padat penebaran berkisar 40 – 50 ekor/M3. Selanjutnya, berilah tutup pada bagian atas kantong dengan jaring untuk menghindari ikan meloncat keluar. Dalam usaha kecil, setiap rakit dapat terdiri 32 buah kurungan (8 unit). Setelah ikan mencapai berat 400 gram per ekor, kepadatan harus diatur sekitar 10 – 20 ekor/M3.
Kakap putih dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, bila kondisi perairan memenuhi persyaratan dan mendapatkan makanan yang cukup. Benih-benih ikan kakap yang dibesarkan dalam keramba diberi pakan berupa rucah ikan yang masih segar. Adapun banyaknya pakan bergantung pada ukuran ikan kakap
Banyaknya pakan yang diberikan, bergantung pada ukuran ikan yang dipelihara. Jika ikan dengan berat kurang dari 100 gram diberikan sebanyak 8 – 10% dari berat ikan. Namun, untuk ikan ukuran sampai 300 gram cukup diberikan pakan sebanyak lebih kurang 3 – 4% dari berat badan ikan per hari.
Frekuensi pemberian pakan bergantung pada ukuran, umumnya untuk ukuran larva dan gelondongan frekuensi pemberian pakannya adalah 3 – 4 kali perhari. Sedangkan pada pembesaran frekuensi pemberian pakannya 2 kali sehari. Waktu pemberian pakan yang baik bagi ikan kakap putih pada kurungan pembesaran dianjurkan setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Untuk memperoleh ikan kakap yang siap dipasarkan yaitu berukuran 600 –800 gram per ekor diperluan waktu antara 6 – 8 bulan. Hal yang sangat diperlukan selama pemeliharaan adalah menjaga jaring agar tetap bersih atau tidak ditempeli lumut maupun organisme lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan jaring. Oleh karena itu, setiap saat jaring perlu diangkat dan dibersihkan dari kotoran.
Pembesaran ikan kakap cukup baik dilakukan menggunakan jaring keramba apung. Pembesaran ini dilakukan di laut.
1. Pemilihan Lokasi
Pembesaran kakap putih dengan menggunakan keramba jaring apung memerlukan syarat-syarat tertentu. Salah satunya adalah penentuan lokasi. Hal ini karena tidak semua lokasi pantai baik digunakan untuk membesarkan ikan ini.
Untuk itu, pemilihan lokasi yang tepat akan turut menentukan keberhasilan dalam usaha budidaya ikan kakap. Adapun, lokasi yang terbaik untuk melakukan kegiatan usaha pembesaran ikan kakap di laut adalah daerah perairan pantai yang merupakan teluk, langgoon, dan perairan pantai yang terletak di antara dua buah pulau.
Namun, secara teknis persyaratan lokasi pembesaran ikan kakap yang baik adalah sebagai berikut.
a. Kedalaman pantai berkisar antara 7 – 8 m.
b. Terjadinya bergantian massa air dengan kecepatan arus rata-rata tidak lebih dari 1 m per detik dan kecepatan gelombang kurang dari 1 m per detik.
c. Fluktuasi pasang surut air antara 2 – 3 m.
d. Salinitas optimal yang dibutuhkan antara 27 – 30 per mil.
e. Suhu air berkisar antara 28 – 30 °C.
f. pH antara 7,5 – 8,5.
g. Pantai jauh dari sumber pencemaran rumah tangga, industri, dan limbah pertanian.
h. Hindari daerah yang banyak terdapat hewan penempel dan jasad/organisme pengganggu, dan tidak mengganggu alur pelayaran.
i. Mudah dicapai dan mudah pula dalam penjualan hasil.
2. Pembuatan Media Pembesaran (Keramba Jaring Apung)
Pembuatan Keramba jaring apung tidaklah sukar. Bahkan, bahan-bahannyapun mudah di dapat. Adapun cara membuatan Keramba Jaring Apung untuk pembesaran ikan kakap putih adalah sebagai berikut.
a. Kerangka
Kerangka (bingkai) karamba jaring apung dapat dibuat dari bahan balok kayu, bambu, atau besi yang dilapisi bahan anti karat. Pemilihan bahan kerangka sebaiknya disesuaikan dengan tersedianya bahan di lokasi budidaya. Jika kita menggunakan Perhatikan konstruksi kerangka rakit berikut ini!
Gambar Konstruksi kerangka rakit
b. Jaring
Jaring yang digunakan untuk keramba jaring apung adalah jaring yang umum digunakan oleh para nelayan, yaitu terbuat dari bahan polyethilene atau sering juga disebut dengan istilah jaring trawl dengan bentuk empat persegi. Adapun ukuran mata jaring disesuaikan dengan besarnya ikan yang akan dipelihara.
Tabel 1. Penyesuaian ukuran mata jaring berdasarkan besarnya ikan yang dipelihara
Mata Jaring Ukuran ikan
0,5 cm 1 – 2 cm
1 cm 5 – 10 cm
2,5 cm 20 – 30 cm
>2,5 cm >30 cm
c. Pelampung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan dan sekaligus menahan kerangka jaring karamba apung. Biasanya, bahan yang digunakan sebagai pelampung, antara lain: drum yang berkapasitas 200 liter, styrofoam, atau fibreglass.
Namun, penggunaan drum kurang baik. Hal ini karena drum akan berkarat karena air garam.
Menurut penelitian Dari BBIL (Balai Benih Ikan Lampung), penggunaan drum sebagai pelampung hanya tahan 6-8 tahun, styrofoam 36-60 tahun, dan fiberglas bisa tahan hingga 75 tahun.
Tabel 2. Jenis pelampung yang digunakan dan lama pemakaian
Jenis pelampung Lama pemakaian
Drum Kapasitas 200 liter 6 - 8 bulan
Styrofoam 36 - 60
Fibreglass 50 - 75
Untuk membuat satu unit jaring terapung yang berukuran 5 x 5 meter yang dibagi menjadi 4 bagian, masing-masing 8 – buah pelampung. Sedangkan untuk yang berukuran 7 x 7 meter yang dibagi menjadi 4 bagian, masing-masing bagian berukuran 3 x 3 meter atau lebih diperlukan 12 - 16 buah pelampang.
d. Pengikat
Pengikat adalah sesuatu yang menentukan kekuatan keramba jaring apung. Perlu kita ingat bahwa pengikat ini akan terkena air. Dengan demikian, bahan yang digunakan harus kuat, kokoh, dan tidak mudah lapuk. Untuk itu, bahan yang kita gunakan sebagai bahan pengikat adalah kawat.
Karena bahan yang digunakan untuk pengikat cukup berat, ukuran yang digunakan cukup besar. Diameter kawat yang disarankan adalah 0,5 cm. Walaupun kawat mudah berkarat, tali pengikat ini tahan sampai 1 tahun.
Gambar cara mengikat kawat pada kerangka
e. Pemberat
Pemberat berfungsi sebagai penahan jaring karamba apung agar tidak terbawa arus pantai. Pemberat untuk keramba jaring apung dapat terbuat dari beton cor atau dapat pula digunakan jangkar.
Adapun tali yang digunakan untuk mengikat antara jangkar dan keramba jaring apung harus disesuaikan dengan beban yang dipikulnya. Gunakanlah tali yang kuat dan besar. Panjang tali jangkar adalah 3 kali kedalaman air.
Gambar tali pada pemberat
Selain pemberat yang digunakan untuk menahan kerangka keramba jaring apung, ada pemberat lain yang digunakan,yaitu pemberat yang digunakan untuk menahan jaring agar jaring tersebut tetap sesuai bentuknya. Karena pemberat ini hanya untuk menahan bentuk jaring, beratnyapun tidak perlu terlalu berat. Pemberat yang digunakan biasanya terbuat dari batu atau timah yang masing-masing beratnya 2 – 5 kg.
3. Pemeliharaan Keramba Jaring Apung
Karena lokasi cukup berat yaitu di air, pemeriksaan terhadap karamba Jaring Apung harus sering dilakukan. Pemeriksaan perlu dilakukan guna menghidari berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi. Salah satu bagian rusak, kemungkinan akan merusak bagian lainnya.
Kerusakan mungkin terjadi pada putusnya tali pemberat, putusnya tali pengikat kerangka, putusnya tali pengikat pelampung. Atau mungkin pula terjadinya patah pada kerangka keramba jaring apung. Kerusakan ini perlu segera diantisipasi guna menghindari kerugian yang akan ditimbulkan.
4. Pemeliharaan Ikan di Keramba Jaring Apung
Setelah media pembesaran ikan disiapkan, tahap selanjutnya adalah proses pemeliharaan ikan tersebut. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Satu unit keramba jaring apung untuk pembesaran biasanya terdiri dari 4 buah kurungan berukuran masing-masing 5 x 5,3 m. Adapun ukuran mata jaring berkisar antara 2,5 – 5 cm terbuat dari bahan polyethilene.
Gambar Tempat pembersaran Keramba jaring apung
b. Tebarkan benih pada tempat pembesaran itu dengan padat penebaran berkisar 40 – 50 ekor/M3. Selanjutnya, berilah tutup pada bagian atas kantong dengan jaring untuk menghindari ikan meloncat keluar. Dalam usaha kecil, setiap rakit dapat terdiri 32 buah kurungan (8 unit). Setelah ikan mencapai berat 400 gram per ekor, kepadatan harus diatur sekitar 10 – 20 ekor/M3.
Kakap putih dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, bila kondisi perairan memenuhi persyaratan dan mendapatkan makanan yang cukup. Benih-benih ikan kakap yang dibesarkan dalam keramba diberi pakan berupa rucah ikan yang masih segar. Adapun banyaknya pakan bergantung pada ukuran ikan kakap
Banyaknya pakan yang diberikan, bergantung pada ukuran ikan yang dipelihara. Jika ikan dengan berat kurang dari 100 gram diberikan sebanyak 8 – 10% dari berat ikan. Namun, untuk ikan ukuran sampai 300 gram cukup diberikan pakan sebanyak lebih kurang 3 – 4% dari berat badan ikan per hari.
Frekuensi pemberian pakan bergantung pada ukuran, umumnya untuk ukuran larva dan gelondongan frekuensi pemberian pakannya adalah 3 – 4 kali perhari. Sedangkan pada pembesaran frekuensi pemberian pakannya 2 kali sehari. Waktu pemberian pakan yang baik bagi ikan kakap putih pada kurungan pembesaran dianjurkan setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Untuk memperoleh ikan kakap yang siap dipasarkan yaitu berukuran 600 –800 gram per ekor diperluan waktu antara 6 – 8 bulan. Hal yang sangat diperlukan selama pemeliharaan adalah menjaga jaring agar tetap bersih atau tidak ditempeli lumut maupun organisme lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan jaring. Oleh karena itu, setiap saat jaring perlu diangkat dan dibersihkan dari kotoran.
Pendederan Benih Ikan Kakap Putih
Pendederan
Umumnya benih-benih ikan kakap putih mengalami dua kali masa pendederan, namun demikian dalam beberapa hal cukup sekali saja. Pendederan ikan kakap putih dilakukan dalam kurungan lebih kecil pula.
1. Pendederan Pertama
Benih ikan kakap putih yang dipelihara sebagai pendederan pertama berukuran 1,5 – 2 cm. Adapun ukuran keramba yang digunakan adalah 2 x 1 x 1 m dengan padat penebaran antara 300 – 500 ekor. Kemudian, ukuran mata jaring yang digunakan untuk ikan ukuran ini adalah mata jaring yang berukuran 2 mm. Perhatikan gambar. Kedalaman air pada keramba kurang lebih 50 cm. Lama pemeliharaan dalam pendederan pertama sekitar dua bulan atau hingga ikan mencapai ukuran 5 – 8 cm.
Gambar Keramba pendederan pertama
2. Pendederan Kedua
Pendederan kedua dilakukan untuk melanjutkan pendederan pertama. Adapun ukuran keramba yang disarankan adalah 5 x 2 x 2 m dengan padat penebaran berkisar antara 300 – 400 ekor. Kemudian, ukuran mata jaring yang digunakan pada keramba 15 mm. Ikan dipelihara selama 2 – 3 bulan hingga mencapai panjang lebih dari 15 cm. Kemudian ikan dipindahkan dalam kantong pembesaran agar dapat tumbuh lebih cepat dan lebih baik.
Gambar Keramba pendederan kedua
Umumnya benih-benih ikan kakap putih mengalami dua kali masa pendederan, namun demikian dalam beberapa hal cukup sekali saja. Pendederan ikan kakap putih dilakukan dalam kurungan lebih kecil pula.
1. Pendederan Pertama
Benih ikan kakap putih yang dipelihara sebagai pendederan pertama berukuran 1,5 – 2 cm. Adapun ukuran keramba yang digunakan adalah 2 x 1 x 1 m dengan padat penebaran antara 300 – 500 ekor. Kemudian, ukuran mata jaring yang digunakan untuk ikan ukuran ini adalah mata jaring yang berukuran 2 mm. Perhatikan gambar. Kedalaman air pada keramba kurang lebih 50 cm. Lama pemeliharaan dalam pendederan pertama sekitar dua bulan atau hingga ikan mencapai ukuran 5 – 8 cm.
Gambar Keramba pendederan pertama
2. Pendederan Kedua
Pendederan kedua dilakukan untuk melanjutkan pendederan pertama. Adapun ukuran keramba yang disarankan adalah 5 x 2 x 2 m dengan padat penebaran berkisar antara 300 – 400 ekor. Kemudian, ukuran mata jaring yang digunakan pada keramba 15 mm. Ikan dipelihara selama 2 – 3 bulan hingga mencapai panjang lebih dari 15 cm. Kemudian ikan dipindahkan dalam kantong pembesaran agar dapat tumbuh lebih cepat dan lebih baik.
Gambar Keramba pendederan kedua
Teknik Pemijahan Ikan Kakap Putih
pemijahan
Untuk melaksanakan pemijahan ada dua cara yang dapat dilakukan. Dua cara itu adalah dengan pemijatan maupun dengan cara pemijahan dalam bak.
1. Pemijahan dengan cara pemijatan
Pemijahan dengan cara pemijatan merupakan cara yang terbaik guna memperoleh produksi benih ikan kakap secara kuantitas. Adapun induk yang dipakai untuk memijahkan dengan cara pemijatan jika induk itu telah berukuran antara 2 hingga 10 kg. Adapun kadungan sperma idelanya memiliki sperma berkisar antara 5 hingga 15 ml. Adapun untuk induk kakap betina yang paling idela berbobot 3 kg. Dengan demikian, ikan betina ini akan mampu memproduksi telur sebanya 1-1,5 juta butir.
Ada teknik khusus yang perlu kita lakukan dengan pemijahan model ini agar tidak merusak telur dan induknya. Teknik-teknik itu adalah sebagai berikut.
a. Teknik pemijatan terhadap induk kakap
Pemijatan induk kakap betina harus dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang induk kakap betina. Satu orang lagi bagian memijat perut induk kakap betina. Siapkan pula sebuah wadah di bawah ikan tersebut guna menampung telur yang dihasilkan dari pemijatan.
Pemijatan dilakukan secara perlahan-lahan. Adapun arah pemijatan dilakukan dari perut bagian depan hingga ke belakang. Lakukan pemijatan tersebut dengan ibu jari tangan. Atau Anda dapat melakukannya dengan jari telunjuk. Lakukan hal yang sama terhadap induk kakap jantan.
b. Cara Pembuahan
Setelah telur dan sperma dikeluarkan dari induk-induknya, segeralah campurkan pada sebuah wadah. Aduklah sperma dan telur itu dengan bahan yang lembut dan lunak. Saat pengadukan, teteskan air sedikit demi sedikit.
c. Perawatan telur
Jika telur telah terbuahi, simpanlah dalam kantung plastik vinyl yang telah diberi air garam dengan kadar 28-32 permil. Lalu, masukkan telur itu ke dalam bak-bak penetasan.
Penetasan telur akan terjadi pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius. Pada suhu yang lebih rendah, penetasanakan terjadi selama 17 jam. Namun, bila suhu lebih tinggi yaitu 30 derajat celsius penetasan akan lebih cepat. Penetasan akan terjadi dalam 12 jam saja.
d. Pemelihaaraan larva
Larva yang berumur 24 jam mulai mengalami pigmentasi mata. dua jam kemudian, saat larva berumur 26 jam, proses pigmentasi ini berakhir sempurna. Dan, larva akan menentas.
Mulut larva akan terbuka penuh setelah 30 jam dari saat tetas. Kuning telur dan tetasan minyak akan terserap habis masing-masing setelah 42 jam dan kurang lebih 80 jam dari saat tetas.
Sembilan puluh tiga jam msetelah telur menetas merupakan titik kritis bagi kelangsungan hidup larva. Saat itu, semua cadangan bahan makanan habis terserap, sehingga diperlukan pasokan pakan yang ukurannya sesuai dengan perkembangan larva, Kandungan nutriea-nya seimbang serta mudah dicerna.Salah satu jenis pakan yang memenuhi kriteria ini adalah zooplanton.
Zooplankton antara lain kutu air (rotifera), artemia salina (stadia naupli) dan Trigiopus japonicus memang dibutuhkan sebagai pakan awal untuk benih ikan. di antara spesies Rotifera laut, Brachiionus plicatilis-lah yang paling sering dimanfaatkan sebagai pakan larva ikan dan udang.
Jenis akan yang pertama diberikan untuk larva kakap putih adalah rotifera, sebanyak 30 individu/ml. Setelah larva berumur 10 hari, pakan yang diberikan adalah Artemia salina sebanyak 5 individu/ml.
Kepadatan jasad pakan di kontorol sebelu m pemberian pakan. Caranya, ambil 1 ml air meida pemeliharaan. Hitung jasad pakan dengan pipet ukur 1 ml atau dengan mikroskop.
Setiap hari, di bagian dasar tangki, dilakukan peyiponan untuk membuang larva ikan yang mati dan ekskresi dari larva maupun dari jasad pakan. Dengan cara ini, air akan terjaga kualitasnya dan tidak terkontaminasi bakteri penyakit.
2. Pemijahan dalam bak
Biasanya calon induk yang telah siap untuk berpijah pada tahun ketiga. Adapun berat badan induk mencapai 3,5 kg. Induk kakap jantan telah menghasilkan sperma setelah berusia 2-4 tahun. Induk kakap betian akan mengasilkan telur jika telah berusia 3-4 tahun.Akan tetapi, semakin lanjut usia induk tersebut, akan semakin baik pula hasilnya.
Pada saat satu bulan menjelang musim pemijahan, pindahkan induk-induk jantan dan betina dari keramba pemeliharaan ke bak-bak pemijahan. Adapun perbandingan jumlah induk jantan dan betina dalam bak itu adalah 1:1. Dengan demikian, dalam satu bak pemijahan tidak mutlak harus diisi oleh sepasang induk. Kita dapat memasukkan ke dalam bak pemijahan sebanyak lima pasang atau sepuluh pasang.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemijahan dalam bak.
a. Kondisi air
Air laut yang digunakan untuk pemijahan haruslah bermutu baik. Kadar garam yang dianjurkan sekitar 30 permil dengan sistem air mengalir. Kemudian, air ini harus diganti sebanyak 80% setiap hari menggunakan air laut yang baru.
b. Pemberian pakan.
Pakan diberikan sekali dalam sehari. Adapun jenis pakan yang diberikan adalah ikan rucah lemuru dan ikan teri. Ikan-ikan tersebut harus dipotong bagian kepalanya dan telah dibersihkan. Adapun banyaknya pakan yang diberikan yaitu sebanyak 1 % dari berat badan induk-induk ikan.
Sering terjadi ikan yang sudah mencapai ukuran ideal sebagai induk tidak/belum memijah. Ikan yang demikian dapat dipacu pematangan gonadnya dengan menyuntikkan hormon.Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan injeksi hormonyakni; kematangan induk, waktu, cara dan dosis. Induk jantan harus ada sperma bila diastripping dan induk betina harus mempunyai diameter telur 0,8 mm. Jenis hormon yang sering digunakan adalh Maturation Inducting Hormon (MIH) dan Ovulation Inducting Hormon (OIH). MIH biasanya berasal dari ekstrak kelenjar hipophysa. Dosis yang ideal untuk penyuntikan calon induk adalah 8-10 mg hipophysa/kg berat induk atau 800-900 IU per kg berat induk.
Hormon yang selama ini banyak dikenal dipakai untuk merangsang pemijahan, yakni Puberogen dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin).Pemakaian puberogen untuk induk ikan jantan dosisnya 20 – 50 IU/kg ikan, sedangkan untuk ikan betina dosisnya adalah 50 – 200 IU/kg ikan. Pemakai HCG dengan dosis 250 – 1000 IU/kg ikan dicampur dengan kelenjar hipophysa ikan karper yang telah dibuat homogen dengan dosis 2 – 3 mg/kg. Selanjutnya ikan akan memijah 36 jam setelah penyuntikan . Apabila belum memijah dilakukan penyuntikan kedua 48 jam setelah penyuntikan pertama. Waktu penyuntikan sebaiknya pagi hari pukul 08.00 – 09.00 dan dilakukan pada bagian dorsal tutup insang atau di bawah duri punggung keras kedua pada sisik baris ke-6. Arah penyuntikan agar mendatar membentuk sudut 300.
Dalam kolam itu, induk betina yang telah bunting selama musim pemijahan akan berada di permukaan air dan berenang dengan lemah. Diperkirakan 1 hingga 2 minggu sebelum berpijah, intuk kakap betina itu akan memisahkan diri dari kelompoknya. Selain itu, kegiatan makannya pun akan berkurang. Sementara itu, induk jantan melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Waktu pemijahan dalam bak pemijahan sama seperti pemijahan di alam. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemijahan di alam akan berlangsung pada bulan April hingga akhir bulan September. Saat pemijahan akan terjadi pada pukul 19.00 hingga 23.00. pada hari pertama sampai hari ke delapan pada bulan purnama.
Pemijahan akan terjadi saat induk kakap jantan dan induk kakap betina berenang bersama-sama saling berdampingan. Saat itulah terjadi pemijahan.
Telur-telur yang dibuahi akan mengapung ke permukaan air. Telur yang tidak terbuahi akan tenggelam di dasar bak.
Pada saat itu, kita harus mengangkat telur-telur itu dan memindahkan ke dalam bak penetasan. Pengangkatan telur dapat dilakukan dengan menggunakan selang penyedotan.
Penanganan khusus telur dalam bak penetasan haruslah benar-benar diperhatikan. Mulai dari kadar garam air laut yang dianjurkan berkisar antara 25-hingga 32 permil. Kemudian, suhu air harus tetap stabil berkisar antara 28 derajat celsius. Bila perlu, gunakan water heater untuk menstabilkan suhu air.
Jika hal-hal di atas tidak terpenuhi, akibatnya akan mengganggu perkembangan telur dan burayak.
Gambar Perkembangan telur ikan kakap yang telah dibuahi sampai menetas dan menadi burayak
Untuk melaksanakan pemijahan ada dua cara yang dapat dilakukan. Dua cara itu adalah dengan pemijatan maupun dengan cara pemijahan dalam bak.
1. Pemijahan dengan cara pemijatan
Pemijahan dengan cara pemijatan merupakan cara yang terbaik guna memperoleh produksi benih ikan kakap secara kuantitas. Adapun induk yang dipakai untuk memijahkan dengan cara pemijatan jika induk itu telah berukuran antara 2 hingga 10 kg. Adapun kadungan sperma idelanya memiliki sperma berkisar antara 5 hingga 15 ml. Adapun untuk induk kakap betina yang paling idela berbobot 3 kg. Dengan demikian, ikan betina ini akan mampu memproduksi telur sebanya 1-1,5 juta butir.
Ada teknik khusus yang perlu kita lakukan dengan pemijahan model ini agar tidak merusak telur dan induknya. Teknik-teknik itu adalah sebagai berikut.
a. Teknik pemijatan terhadap induk kakap
Pemijatan induk kakap betina harus dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang induk kakap betina. Satu orang lagi bagian memijat perut induk kakap betina. Siapkan pula sebuah wadah di bawah ikan tersebut guna menampung telur yang dihasilkan dari pemijatan.
Pemijatan dilakukan secara perlahan-lahan. Adapun arah pemijatan dilakukan dari perut bagian depan hingga ke belakang. Lakukan pemijatan tersebut dengan ibu jari tangan. Atau Anda dapat melakukannya dengan jari telunjuk. Lakukan hal yang sama terhadap induk kakap jantan.
b. Cara Pembuahan
Setelah telur dan sperma dikeluarkan dari induk-induknya, segeralah campurkan pada sebuah wadah. Aduklah sperma dan telur itu dengan bahan yang lembut dan lunak. Saat pengadukan, teteskan air sedikit demi sedikit.
c. Perawatan telur
Jika telur telah terbuahi, simpanlah dalam kantung plastik vinyl yang telah diberi air garam dengan kadar 28-32 permil. Lalu, masukkan telur itu ke dalam bak-bak penetasan.
Penetasan telur akan terjadi pada suhu 28 hingga 29 derajat celsius. Pada suhu yang lebih rendah, penetasanakan terjadi selama 17 jam. Namun, bila suhu lebih tinggi yaitu 30 derajat celsius penetasan akan lebih cepat. Penetasan akan terjadi dalam 12 jam saja.
d. Pemelihaaraan larva
Larva yang berumur 24 jam mulai mengalami pigmentasi mata. dua jam kemudian, saat larva berumur 26 jam, proses pigmentasi ini berakhir sempurna. Dan, larva akan menentas.
Mulut larva akan terbuka penuh setelah 30 jam dari saat tetas. Kuning telur dan tetasan minyak akan terserap habis masing-masing setelah 42 jam dan kurang lebih 80 jam dari saat tetas.
Sembilan puluh tiga jam msetelah telur menetas merupakan titik kritis bagi kelangsungan hidup larva. Saat itu, semua cadangan bahan makanan habis terserap, sehingga diperlukan pasokan pakan yang ukurannya sesuai dengan perkembangan larva, Kandungan nutriea-nya seimbang serta mudah dicerna.Salah satu jenis pakan yang memenuhi kriteria ini adalah zooplanton.
Zooplankton antara lain kutu air (rotifera), artemia salina (stadia naupli) dan Trigiopus japonicus memang dibutuhkan sebagai pakan awal untuk benih ikan. di antara spesies Rotifera laut, Brachiionus plicatilis-lah yang paling sering dimanfaatkan sebagai pakan larva ikan dan udang.
Jenis akan yang pertama diberikan untuk larva kakap putih adalah rotifera, sebanyak 30 individu/ml. Setelah larva berumur 10 hari, pakan yang diberikan adalah Artemia salina sebanyak 5 individu/ml.
Kepadatan jasad pakan di kontorol sebelu m pemberian pakan. Caranya, ambil 1 ml air meida pemeliharaan. Hitung jasad pakan dengan pipet ukur 1 ml atau dengan mikroskop.
Setiap hari, di bagian dasar tangki, dilakukan peyiponan untuk membuang larva ikan yang mati dan ekskresi dari larva maupun dari jasad pakan. Dengan cara ini, air akan terjaga kualitasnya dan tidak terkontaminasi bakteri penyakit.
2. Pemijahan dalam bak
Biasanya calon induk yang telah siap untuk berpijah pada tahun ketiga. Adapun berat badan induk mencapai 3,5 kg. Induk kakap jantan telah menghasilkan sperma setelah berusia 2-4 tahun. Induk kakap betian akan mengasilkan telur jika telah berusia 3-4 tahun.Akan tetapi, semakin lanjut usia induk tersebut, akan semakin baik pula hasilnya.
Pada saat satu bulan menjelang musim pemijahan, pindahkan induk-induk jantan dan betina dari keramba pemeliharaan ke bak-bak pemijahan. Adapun perbandingan jumlah induk jantan dan betina dalam bak itu adalah 1:1. Dengan demikian, dalam satu bak pemijahan tidak mutlak harus diisi oleh sepasang induk. Kita dapat memasukkan ke dalam bak pemijahan sebanyak lima pasang atau sepuluh pasang.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemijahan dalam bak.
a. Kondisi air
Air laut yang digunakan untuk pemijahan haruslah bermutu baik. Kadar garam yang dianjurkan sekitar 30 permil dengan sistem air mengalir. Kemudian, air ini harus diganti sebanyak 80% setiap hari menggunakan air laut yang baru.
b. Pemberian pakan.
Pakan diberikan sekali dalam sehari. Adapun jenis pakan yang diberikan adalah ikan rucah lemuru dan ikan teri. Ikan-ikan tersebut harus dipotong bagian kepalanya dan telah dibersihkan. Adapun banyaknya pakan yang diberikan yaitu sebanyak 1 % dari berat badan induk-induk ikan.
Sering terjadi ikan yang sudah mencapai ukuran ideal sebagai induk tidak/belum memijah. Ikan yang demikian dapat dipacu pematangan gonadnya dengan menyuntikkan hormon.Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan injeksi hormonyakni; kematangan induk, waktu, cara dan dosis. Induk jantan harus ada sperma bila diastripping dan induk betina harus mempunyai diameter telur 0,8 mm. Jenis hormon yang sering digunakan adalh Maturation Inducting Hormon (MIH) dan Ovulation Inducting Hormon (OIH). MIH biasanya berasal dari ekstrak kelenjar hipophysa. Dosis yang ideal untuk penyuntikan calon induk adalah 8-10 mg hipophysa/kg berat induk atau 800-900 IU per kg berat induk.
Hormon yang selama ini banyak dikenal dipakai untuk merangsang pemijahan, yakni Puberogen dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin).Pemakaian puberogen untuk induk ikan jantan dosisnya 20 – 50 IU/kg ikan, sedangkan untuk ikan betina dosisnya adalah 50 – 200 IU/kg ikan. Pemakai HCG dengan dosis 250 – 1000 IU/kg ikan dicampur dengan kelenjar hipophysa ikan karper yang telah dibuat homogen dengan dosis 2 – 3 mg/kg. Selanjutnya ikan akan memijah 36 jam setelah penyuntikan . Apabila belum memijah dilakukan penyuntikan kedua 48 jam setelah penyuntikan pertama. Waktu penyuntikan sebaiknya pagi hari pukul 08.00 – 09.00 dan dilakukan pada bagian dorsal tutup insang atau di bawah duri punggung keras kedua pada sisik baris ke-6. Arah penyuntikan agar mendatar membentuk sudut 300.
Dalam kolam itu, induk betina yang telah bunting selama musim pemijahan akan berada di permukaan air dan berenang dengan lemah. Diperkirakan 1 hingga 2 minggu sebelum berpijah, intuk kakap betina itu akan memisahkan diri dari kelompoknya. Selain itu, kegiatan makannya pun akan berkurang. Sementara itu, induk jantan melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Waktu pemijahan dalam bak pemijahan sama seperti pemijahan di alam. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemijahan di alam akan berlangsung pada bulan April hingga akhir bulan September. Saat pemijahan akan terjadi pada pukul 19.00 hingga 23.00. pada hari pertama sampai hari ke delapan pada bulan purnama.
Pemijahan akan terjadi saat induk kakap jantan dan induk kakap betina berenang bersama-sama saling berdampingan. Saat itulah terjadi pemijahan.
Telur-telur yang dibuahi akan mengapung ke permukaan air. Telur yang tidak terbuahi akan tenggelam di dasar bak.
Pada saat itu, kita harus mengangkat telur-telur itu dan memindahkan ke dalam bak penetasan. Pengangkatan telur dapat dilakukan dengan menggunakan selang penyedotan.
Penanganan khusus telur dalam bak penetasan haruslah benar-benar diperhatikan. Mulai dari kadar garam air laut yang dianjurkan berkisar antara 25-hingga 32 permil. Kemudian, suhu air harus tetap stabil berkisar antara 28 derajat celsius. Bila perlu, gunakan water heater untuk menstabilkan suhu air.
Jika hal-hal di atas tidak terpenuhi, akibatnya akan mengganggu perkembangan telur dan burayak.
Gambar Perkembangan telur ikan kakap yang telah dibuahi sampai menetas dan menadi burayak
Pemilihan dan Penanganan Induk Kakap Putih untuk Budidaya
Pemilihan dan Penanganan Induk
Penyediaan induk ada 2 cara yakni, induk dari alami dan induk dari kolam atau keramba. Ikan hasil tangkapan segera dimasukkan ke dalam bak pengangkutan dan langsung dibawa ke hatchery atau disimpan dalam sangkar-sangkar apung. Pembiusan tidak perlu dilakukan apabila ikan diangkut dengan bak khusus untuk ikan hidup atau kontainer yang diberi aerasi. Di hatchery, induk diberi perlakuan antibiotik.
1. Membedakan Jenis Kelamin
Untuk dapat mengembangbiakan kakap putih, kita harus dapat membedakan mana yang merupakan induk jantan dan mana yang merupakan induk betina.
a. Pada waktu musim pemijahan membedakan jenis kelamin ikan kakap relatif lebih mudah daripada saat tidak musim memijah.
b. Ikan kakap putih jantan mempunyai moncong sedikit membengkok sedangkan yang betina lurus.
c. Pada ukuran tubuh yang sama, ikan kakap putih betina mempunyai timbangan serta badan yang lebih berat
d Ikan jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih langsing daripada betina
e Sisik-sisik yang berada di dekat lubang pembuangan (Kloaka), pada yang jantan lebih tebal daripada yang betina selama musim pemijahan
f Pada musim pemijahan bagian perut ikan betina relatif lebih besar kembung dari pada ikan jantan.
2. Ukuran Induk
Induk-induk kakap yang diperoleh dari alam harus dilakukan penyeleksian berdasarkan jenis kelamin dan ukurannya terlebih dahulu. Induk yang disediakan baik dari alam maupun dari usaha pembesaran harus memenuhi ukuran tertentu . Induk ikan kakap putih (Lates calcarifer) sebaiknya mempunyai berat badan dari 4 kg (umur 4 tahun) bagi induk jantan dan betina. Namun demikian, kakap putih dapat siap dipijahkan pada saat umur 2 tahun. Ketika mencapai ukuran 50 cm (total length) dengan berat jantan 2,5 kg dan betina 3,5 kg.
3. Pemilihan Induk
Dalam pemilihan induk kita harus mengetahui ciri-ciri induk jantan dan induk betina. Bentuk induk kakap jantan lebih langsing dan beratnya lebih ringan bila dibandingkan dengan induk kakap betina, meskipun badannya sama panjang. Perutnya juga tidak buncit seperti induk kakap betina. Ciri lainnya adalah sisik-sisik di sekitar anus induk jantan lebih tebal daripada induk kakap betina.
Pemilihan induk untuk dipijahkan sebaiknya dilakukan satu bulan sebelum pemijahan alami berlangsung. Hal ini untuk memungkinkan ikan terbiasa dengan lingkungan persiapan pemijahan serta pengaturan makanan yang diberikan.
Induk yang akan dipijahkan dipilih dengan kriteria sbb :
a. Ikan harus aktif bergerak
b. Sirip dan sisik ikan harus lengkap
c. Bebas dari hama dan penyakit
d. Warna tubuh cerah
e. Telah matang gonad
Induk ikan yang telah matang gonad dapat diketahui dengan cara pengurutan. Bila induk ikan jantan mengeluarkan sperma saat dilakukan pengurutan, berarti telah matang gonad. Kemudian induk ikan betina yang sudah matang telur ditandai dengan butir telur mencapai diameter 0,4 – 4,5 mm. Telur yang dapat dari striping diameternya dapat diukur dengan mikrometer pada mikroskop. Pemeriksaan kematangan gonad sebaiknya terlebih dahulu dilakukan pembiusan dengan ethylen monophenil eter atau minyak cengkeh.
4. Pematangan Induk
Calon induk/induk ikan hasil tangkapan sebaiknya segera dimasukkan kedalam bak-bak pengangkut selanjutnya dibawa ke hatchery.
Sesampainya di hatchery sebaikya dimasukkan ke dalam bak pengobatan untuk diperlakukan dengan antibiotik, seperti pemberian oxytetracycline dan sebagainya. Pemakai antibiotik dapat dilakukan dengan jalan mencampurkan ke dalam air, sehingga penyerapannya dapat melalui kulit dan insang. Pemberian antibiotik dapat juga diberikan dengan cara suntikn. Dosis pemberian antibiotik bagi ikan kakap sebaiknya tidak lebih dari 2 ppm untuk metoda perendaman selama 24 jaman dan 20 mg per kg berat ikan apabila dengan cara penyuntikan.
Setelah calon induk atau induk dikenakan perlakukan kemudian dimasukkan kedalam sangkar-sangkar apung atau bak bak penyimpanan.
Setelah ikan tersebut sembuh dari kerusakan akibat penangkapan, selanjutnya ikan dilatih untuk makan dalam lingkungan baru tersebut. Makanan yang tidak termakan harus dibuang atau dibersihkan untuk menghindari terjadinya pencemaran.
Pemberian makanan kepada induk yang disimpan dibak persiapan pemijahan sebaiknya dikurangi dari 5% menjadi 3% berat ikan dalam satu hari. Hal ini untuk menghindari agar ikan jangan menjadi semakin gemuk karena akan menyebabkan perkembangan alat kelamin yang tidak baik.
Penyediaan induk ada 2 cara yakni, induk dari alami dan induk dari kolam atau keramba. Ikan hasil tangkapan segera dimasukkan ke dalam bak pengangkutan dan langsung dibawa ke hatchery atau disimpan dalam sangkar-sangkar apung. Pembiusan tidak perlu dilakukan apabila ikan diangkut dengan bak khusus untuk ikan hidup atau kontainer yang diberi aerasi. Di hatchery, induk diberi perlakuan antibiotik.
1. Membedakan Jenis Kelamin
Untuk dapat mengembangbiakan kakap putih, kita harus dapat membedakan mana yang merupakan induk jantan dan mana yang merupakan induk betina.
a. Pada waktu musim pemijahan membedakan jenis kelamin ikan kakap relatif lebih mudah daripada saat tidak musim memijah.
b. Ikan kakap putih jantan mempunyai moncong sedikit membengkok sedangkan yang betina lurus.
c. Pada ukuran tubuh yang sama, ikan kakap putih betina mempunyai timbangan serta badan yang lebih berat
d Ikan jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih langsing daripada betina
e Sisik-sisik yang berada di dekat lubang pembuangan (Kloaka), pada yang jantan lebih tebal daripada yang betina selama musim pemijahan
f Pada musim pemijahan bagian perut ikan betina relatif lebih besar kembung dari pada ikan jantan.
2. Ukuran Induk
Induk-induk kakap yang diperoleh dari alam harus dilakukan penyeleksian berdasarkan jenis kelamin dan ukurannya terlebih dahulu. Induk yang disediakan baik dari alam maupun dari usaha pembesaran harus memenuhi ukuran tertentu . Induk ikan kakap putih (Lates calcarifer) sebaiknya mempunyai berat badan dari 4 kg (umur 4 tahun) bagi induk jantan dan betina. Namun demikian, kakap putih dapat siap dipijahkan pada saat umur 2 tahun. Ketika mencapai ukuran 50 cm (total length) dengan berat jantan 2,5 kg dan betina 3,5 kg.
3. Pemilihan Induk
Dalam pemilihan induk kita harus mengetahui ciri-ciri induk jantan dan induk betina. Bentuk induk kakap jantan lebih langsing dan beratnya lebih ringan bila dibandingkan dengan induk kakap betina, meskipun badannya sama panjang. Perutnya juga tidak buncit seperti induk kakap betina. Ciri lainnya adalah sisik-sisik di sekitar anus induk jantan lebih tebal daripada induk kakap betina.
Pemilihan induk untuk dipijahkan sebaiknya dilakukan satu bulan sebelum pemijahan alami berlangsung. Hal ini untuk memungkinkan ikan terbiasa dengan lingkungan persiapan pemijahan serta pengaturan makanan yang diberikan.
Induk yang akan dipijahkan dipilih dengan kriteria sbb :
a. Ikan harus aktif bergerak
b. Sirip dan sisik ikan harus lengkap
c. Bebas dari hama dan penyakit
d. Warna tubuh cerah
e. Telah matang gonad
Induk ikan yang telah matang gonad dapat diketahui dengan cara pengurutan. Bila induk ikan jantan mengeluarkan sperma saat dilakukan pengurutan, berarti telah matang gonad. Kemudian induk ikan betina yang sudah matang telur ditandai dengan butir telur mencapai diameter 0,4 – 4,5 mm. Telur yang dapat dari striping diameternya dapat diukur dengan mikrometer pada mikroskop. Pemeriksaan kematangan gonad sebaiknya terlebih dahulu dilakukan pembiusan dengan ethylen monophenil eter atau minyak cengkeh.
4. Pematangan Induk
Calon induk/induk ikan hasil tangkapan sebaiknya segera dimasukkan kedalam bak-bak pengangkut selanjutnya dibawa ke hatchery.
Sesampainya di hatchery sebaikya dimasukkan ke dalam bak pengobatan untuk diperlakukan dengan antibiotik, seperti pemberian oxytetracycline dan sebagainya. Pemakai antibiotik dapat dilakukan dengan jalan mencampurkan ke dalam air, sehingga penyerapannya dapat melalui kulit dan insang. Pemberian antibiotik dapat juga diberikan dengan cara suntikn. Dosis pemberian antibiotik bagi ikan kakap sebaiknya tidak lebih dari 2 ppm untuk metoda perendaman selama 24 jaman dan 20 mg per kg berat ikan apabila dengan cara penyuntikan.
Setelah calon induk atau induk dikenakan perlakukan kemudian dimasukkan kedalam sangkar-sangkar apung atau bak bak penyimpanan.
Setelah ikan tersebut sembuh dari kerusakan akibat penangkapan, selanjutnya ikan dilatih untuk makan dalam lingkungan baru tersebut. Makanan yang tidak termakan harus dibuang atau dibersihkan untuk menghindari terjadinya pencemaran.
Pemberian makanan kepada induk yang disimpan dibak persiapan pemijahan sebaiknya dikurangi dari 5% menjadi 3% berat ikan dalam satu hari. Hal ini untuk menghindari agar ikan jangan menjadi semakin gemuk karena akan menyebabkan perkembangan alat kelamin yang tidak baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)