Seperti halnya memilih lokasi untuk budidaya ikan lainnya,
memilih lokasi untuk budidaya ikan kakap putih harus disesuaikan dengan sifat hidupnya di alam. Dengan demikian, keberhasilan dalam pembudidayaan kemungkinan besar tercapai.
A. Persyaratan Lokasi
Lokasi untuk kegitan pembenihan merupakan hal yang sangat penting dalam keberhasilan usaha pembenihan. Umumnya, lokasi yang baik untuk membudidayakan kakap putih adalah berupa daerah perairan laut yang menjorok masuk ke daratan.
Adapun syarat-syarat yang diperlukan dalam membudidayakan ikan kakap putih adalah sebagai berikut.
a. Lokasi budidaya tidak jauh dari pantai
b. Dekat dengan daerah pemijahan ikan di alam untuk mendapatkan induk-induk matang telur
c. Perairan/laut tidak tercemar dengan salinitas sekitar 32 %
d. Terdapat sumber air tawar yang cukup
e. Lokasi perairannya terlindung dari ombak dan angin
f. Daerah bebas banjir
g. Tersedianya sumber energi listrik dari PLN atau generator
h. Terjaminnya keamanan
B. Tata Letak
Tata letak dalam proses produksi benih harus dirancang sedemikian rupa sehingga fasilitas dan perlengkapan terletak pada tempat yang tepat. Dengan demikian, kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
Kapasitas produksi benih yang dihasilkan tergantung dari volume baik pembenihan dan bak makanan alami. Berikut ini beberapa hal yang dapat digunakan untuk memperkirakan kapasitas produksi:
a. Manipulasi lingkungan atau pemijahan buatan, misalnya ikan kakap putih memijah secara bulanan untuk jangka waktu 6 bulan
b. Survival rate 1 – 50 hari adalah 15%
c. Tingkat produksi larva umur sampai 50 hari pada bak pemeliharaan larva adalah 5 ekor/liter
d. Satu bak pemeliharaan hanya dipakai 3 kali selama musim pemijahan tunggal. Karena ikan memijah secara bulanan, kita harus memilki 2 unit bak pemeliharaan larva untu melayani produksi larva secara bulanan
e. Kapasitas bak untuk memelihara makanan alami sama seperti bak pemeliharaan. Perbandingan antara bak alga dan rotifera 2 : 1
f. Bak-bak untuk menyimpan induk-induk terpilih, pemijahan, menyimpan makanan alami dan memelihara larva sering terletak di luar (out door)
Gambar Tata letak pembenihan Kakap Putih yang ideal
C. Bahan Pembenihan/pemijahan
1. Bahan/komponen
- Tanah (minimal 5.000M2)
- Bangunan pelindung bak pembenihan
- Bak perkawinan
- Bak filter
- Bak larava
- Bangunan rumah generator dan pompa
- Air laut
- Sumber listrik
- Pompa ir laut
- Blower
- Bangunan penjaga/gudang
- Sumber air tawar
- Instalasi air
- Instalasi aerasi
- Instalasi listrik
Dsb.
2. Air laut
Air laut yang bersih harus tersedia sepanjang waktu dengan jumlah yang cukup.Sehubungan dengan itu, diperlukan bak sedimentasi, bak filter dan bak penampungan air (bak reservoir) laut yang siap pakai.
Air laut dapat diambil langsung dari laut atau dari sumer air laut buatan. Apabila sumber air laut relatif bersih, air laut tersebut dapat dipompakan langsung ke bak filter dan disimpan dalam bak penampungan air.Apabila air keruh dan banyak mengandung bahan suspensi (endapan), air tersebut lebih dahulu harus dipompa dalam bak pengendapan kemudian bahan-bahan suspensi tersebut dibiarkan mengendap. Hanya air bagian atas yang jernih yang dipompakan ke bak filter.
3. Suplai Udara
Hatchery ikan laut paling tidak harus ada 3 unit suplai udara.Satu unit sistem suplai udara yang dipakai dalam proses produksi dan dua unit suplai udara disediakan sebagai cadangan . Cadangan suplai udara tersebut digunakan untuk aerasi di bak-bak pemijahan, pemeliharaan larva, plankton dan sebagainya
4. Drainase
Selama proses produksi ditempat pembenihan hampir selalu dilakukan penggantian air tiap hari. Dengan demikian drainase harus dipasang untuk menyalurkan sisa-sisa air dengan cepat dan lancar.
5. Pengadaan Air Tawar
Penyediaan air tawar selain digunakan untuk menurunkan salinitas air laut sesuai dengan kebutuhan dalam pembenihan digunakan juga sebagai pembersih peralatan. Sistem penyediaan suplai air tawar terdiri dari atas bak sedimentasi dan bak penampungan.
6. Fasilitas Proses Produksi
Prosese produksi benih terdiri atas kegiatan pemijahan alami dalam bak-bak yang dikendalikan keadaan lingkungannya. Kegitaan selanjutnya adalah pemeliharaan larva. Untuk kegiatan tersebut diperlukan:
- bak pemijahan (bak induk)
- bak penetasan telur
- bak pemeliharaan larva, dan
- bak alga/pakan alami
Friday, 9 December 2016
Persebaran Ikan Kakap Putih
PERSEBARAN KAKAP PUTIH
Kakap putih menyebar di daerah tropis dan subtropis daerah pasifik Barat dan Samudera Hindia. Kesemuanya, meliputi: Australia, Papua New Guinea, Indonesia, Fhilipina, Jepang, China, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, Srilangka, Pakistan, Iran, Oman, dan negara-negara disekitar laut Arab. Penyebaran Ikan kakap putih di Indonesia terutama terdapat di pantai utara Jawa, di sepanjang perairan pantai Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Arafuru.
Di samping memiliki penyebaran yang luas, Ikan kakap putih mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap variasi kadar garam (euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun kolam air tawar.
Setelah dewasa ikan ini bermigrasi ke muara sungai dengan keadan kadar garam 25 – 30 per mil. Dalam kondisi air payau, ganada ini berkembang dengan baik. Perkawinannya sangat dipengaruhi oleh peredaran bulan yakni pada permulaan bulan gelap atau bulan penuh bersamaan dengan datangnya air pasang.
Ikan kakap putih betina mulai dewasa setalah mencapai berat 4 – 6 Kg.. Sedangkan yang jantan menjadi dewasa setelah mencapai berat 3 Kg. Jumlah telur bervariasi mengikuti berat badan. Induk ikan seberat 5 – 11 Kg dapat menghasilkan telur sebanyak 2 – 7 juta butir. Ukuran telur antara 0,4 – 0,5 mm. Dalam waktu 18 jam setelah pembuahan telur menetas menjadi larva dengan ukuran rata-rata 1,49 mm. Dalam waktu sekitar 30 hari maka larva akan tumbuh menjadi burayak yang berukuran antara 1,3 – 1,7 cm.
Kakap putih menyebar di daerah tropis dan subtropis daerah pasifik Barat dan Samudera Hindia. Kesemuanya, meliputi: Australia, Papua New Guinea, Indonesia, Fhilipina, Jepang, China, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, Srilangka, Pakistan, Iran, Oman, dan negara-negara disekitar laut Arab. Penyebaran Ikan kakap putih di Indonesia terutama terdapat di pantai utara Jawa, di sepanjang perairan pantai Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Arafuru.
Di samping memiliki penyebaran yang luas, Ikan kakap putih mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap variasi kadar garam (euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun kolam air tawar.
Setelah dewasa ikan ini bermigrasi ke muara sungai dengan keadan kadar garam 25 – 30 per mil. Dalam kondisi air payau, ganada ini berkembang dengan baik. Perkawinannya sangat dipengaruhi oleh peredaran bulan yakni pada permulaan bulan gelap atau bulan penuh bersamaan dengan datangnya air pasang.
Ikan kakap putih betina mulai dewasa setalah mencapai berat 4 – 6 Kg.. Sedangkan yang jantan menjadi dewasa setelah mencapai berat 3 Kg. Jumlah telur bervariasi mengikuti berat badan. Induk ikan seberat 5 – 11 Kg dapat menghasilkan telur sebanyak 2 – 7 juta butir. Ukuran telur antara 0,4 – 0,5 mm. Dalam waktu 18 jam setelah pembuahan telur menetas menjadi larva dengan ukuran rata-rata 1,49 mm. Dalam waktu sekitar 30 hari maka larva akan tumbuh menjadi burayak yang berukuran antara 1,3 – 1,7 cm.
Penanganan pascapanen rumput laut
Proses akhir dari pembudidayaan rumput laut adalah pengeringan
rumput laut. Tahap ini sangat mempengaruhi mutu rumput laut.
Di Indonesia, kelompok rumput laut yang biasa dipergunakan untuk produksi agar-agar adalah: Geladium, Gelidiopsis, Gracilaria, dan Hypnea. Kemudan, rumput laut yang dipergunakan untuk produksi karageenan adalah jenis eucheuma.
Proses pengeringan kedua jenis ini terdapat sedikit perbedaan. Namun, pada prinsipnya hampir sama.
A. PENANGANAN RUMPUT LAUT PENGHASIL AGAR-AGAR
Adapun proses pengeringan yang telah ditetapkan untuk memenuhi pembakuan mutu komoditi ekspor rumput laut jenis Gracilaria atau kelompok penghasil agar-agar lainnya, prosesnya meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Bersihkan rumput laut pasca panen dari batu, pasir, dan kerang. Kemudian rumput laut lainnya. Kemudian, seleksilah kembali rumput laut ini dari jenis lainnya agar hasilnya benar-benar murni.
b. Lakukanlah penjemuran. Penjemur rumput laut dilakukan di atas alas dan ditempatkan di tempat terbuka yang banyak terkena sinar matahari. Penjemuran tersebut dilakukan selama 2-3 hari. Biasanya, para petani tidak mengangkat atau memindahkan rumput itu ke dalam gudang selama itu, walaupun menjelang malam. Oleh karena itu, pada malam hari penjemuruan rumput laut disarankan untuk ditutup dengan plastik. Dengan demikian, rumput laut yang telah mengering tidak akan menjadi lembap karena embun. Kemudian, jika hari hujan, rumput laut sebaiknya di simpan di gudang.
Gambar 4.1. Rumput laut yang sedang dijemur
c. Setelah dijemur, ruput laut tersebut dibersihkan kembali dengan cara mencucinya dengan air tawar. Pembersihan ini dilakukan untuk membuang kotoran dan rumput laut jenis lain yang masih tersisa.
d. Jika pencucian telah selesai dan rumput laut telah benar-benar bersih, rumput laut kembali dijemur selama 1-2 hari hingga rumput laut itu benar-benar kering dan warnanya menjadi putih.
e. Setelah rumput laut benar-benar bersih, tahap selanjutnya adalah pengemasan. Pengemasan rumput laut yang telah kering dilakukan dengan menggunakan kantung plastik yang bersih. Setelah itu, rumput laut siap dipasarkan.
B. PENANGANAN RUMPUT LAUT PENGHASIL KARAGEENAN
Pada dasarnya proses pengeringan rumput laut penghasil karageenan sama dengan pengeringan rumput latu penghasil agar-agar. Kemudian, proses pengeringan yang telah ditetapkan untuk memenuhi pembakuan mutu komoditi ekspor rumput laut jenis Eucheuma atau kelompok penghasil karaginan, prosesnya meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Bersihkan rumput laut pascapanen dari batu, pasir, dan kerang. Kemudian rumput laut lainnya. Kemudian, seleksilah kembali rumput laut ini dari jenis lainnya agar hasilnya benar-benar murni.
b. Lakukanlah penjemuran. Penjemur rumput laut dilakukan di atas alas dan ditempatkan di tempat terbuka yang banyak terkena sinar matahari. Penjemuran tersebut dilakukan selama 2-3 hari. Biasanya, para petani tidak mengangkat atau memindahkan rumput itu ke dalam gudang selama itu, walaupun menjelang malam. Oleh karena itu, pada malam hari penjemuruan rumput laut disarankan untuk ditutup dengan plastik. Dengan demikian, rumput laut yang telah mengering tidak akan menjadi lembap karena embun. Kemudian, jika hari hujan, rumput laut sebaiknya di simpan di gudang.
c. Setelah dijemur, ruput laut tersebut dibersihkan kembali dengan cara mencucinya dengan air tawar. Pembersihan ini dilakukan untuk membuang kotoran dan rumput laut jenis lain yang masih tersisa.
d. Jika pencucian telah selesai dan rumput laut telah benar-benar bersih, rumput laut kembali dijemur selama 1-2 hari hingga rumput laut itu benar-benar kering dan warnanya menjadi putih.
e. Setelah rumput laut benar-benar bersih, tahap selanjutnya adalah pengemasan. Pengemasan rumput laut yang telah kering dilakukan dengan menggunakan kantung plastik yang bersih. Setelah itu, rumput laut siap dipasarkan.
C. PENGEPAKAN
Pengepakan dilakukan setelah kita melakukan pengeringan rumput laut. Pengepakan di sini adalah memasukkan rumput laut yang sudah kering ke dalam kantung plastik. Hal ini dilakukan baik oleh petani maupun eksportir. Namun, biasanya pengepakan oleh eksportir lebih baik dan lebih kuat.
Adapun cara pengepakan adalah sebagai berikut. Rumput laut di masukkan ke dalam karung plastik yang bersih. Kemudian, agar dapat berisi banyak, rumput laut itu dipadatkan. Biasanya, satu karung rumput latu dapat mencapai berat 90 kg.
Sebelum rumput laut dikirimkan kepada pedagang pengumpul, para petani biasanya mengumpulkannya terlebih dahulu di gudang. Baru, setelah memperoleh dalam jumlah besar, mereka menjualnya.
Pengumpulan rumput laut dalam waktu yang lama tidak akan menjadi masalah. Hal ini akan baik-baik saja jika kita memperhatikan beberapa hal berikut.
1. Kelembapan udara
Kelembapan udara sangat mempengaruhi kondisi rumput laut kering yang sedang disimpan. Hal ini karena salah satu tujuan pengeringan rumput laut adalah untuk mengawetkan rumput laut sehingga dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Jika rumput laut terpengaruh oleh udara lembap, kemungkinan rumput itu akan menjadi basah kembali. Penyimpanan rumput laut dalam keadaan basah dapat mengakibatkan rumput itu menjadi membusuk.
2. Pemberian alas pada saat penyimpanan
Pemberian alas saat penyimpanan rumput laut di gudang sangat bermanfaat. Salah satunya agar rumput laut itu tidak lembap karena lantai gudang yang dingin. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas rumput laut.
Gambar 4.2. Rumput laut yang disimpan di gudang dengan
diberi alas kayu
3. Atap gudang tidak boleh bocor
Besar ataupun kecil kebocoran yang terjadi pada atap gudang dapat mempengaruhi keadaan rumput laut kering yang disimpan. Apalagi bila hari hujan. Air yang menetas akan jatuh ke atas tumpukan karung-karung rumput laut. Kita tidak akan menyadari kejadian itu karena air yang menetas akan langsung diserap oleh rumput laut.
4. Sirkulasi udara
Walaupun kita harus menjaga kelembapan, sirkulasi udara di dalam gudang harus tetap ada. Hal ini bertujuan agar rumput laut yang kita simpan di dalam gudang tidak bau.
Pemanenan Rumput Laut
PANEN
Pemanenan rumput laut dilakukan 2 atau 3 kali untuk setiap kali penanaman. Panen pertama dilakukan setelah 2 bulan, yaitu pada pertumbuhan rumput laut mencapai 400-600 gram/ikat. Cara panen dengan memotong bagian ujung tumbuh (awal pertumbuhan). Panen selanjutnya dilakukan setiap 2 bulan sekali.
Panen dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Panen dengan memotong sebagian tanaman. Keuntungan cara ini antara lain ialah penghematan tali rafia pengikat bibit. Namun demikian, cara ini memerlukan waktu kerja di laut yang lebih lama. Sisa tanaman di laut terdiri dari thallus yang tua, sehingga pertumbuhannya lambat dan kandungan karangenan hasil panen lebih rendah. Pemotongan rumput laut harus dilakukan dengan alat pemotong yang tajam agar pada bekas potong, sisa tanaman dapat tumbuh cabang baru dengan baik.
2. Panen dengan cara mengangkat seluruh tanaman memerlukan waktu kerja di laut yang lebih singkat. Pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat dengan cara memotong tali rafia. Selain itu, panen dengan cara ini mempunyai keuntungan tersendiri, yaitu menanam kembali bibit rumput laut dengan memilih bagian tanaman yang masih muda dengan laju pertumbuhan yang tinggi dan kandungan karangenan yang tinggi pula.
Hal yang perlu diperhatikan pada saat pemanenan adalah cuaca. Jika pemanenan dilakukan pada saat cuaca mendung, hal ini akan menyulitkan pada saat penjemuran. Jika kita gagal dalam penjemuran, akan terjadi proses fermentasi pada rumput laut yang di panen tersebut. Dengan demikian, kualitas rumput laut akan menurun.
Pemanenan rumput laut dilakukan 2 atau 3 kali untuk setiap kali penanaman. Panen pertama dilakukan setelah 2 bulan, yaitu pada pertumbuhan rumput laut mencapai 400-600 gram/ikat. Cara panen dengan memotong bagian ujung tumbuh (awal pertumbuhan). Panen selanjutnya dilakukan setiap 2 bulan sekali.
Panen dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Panen dengan memotong sebagian tanaman. Keuntungan cara ini antara lain ialah penghematan tali rafia pengikat bibit. Namun demikian, cara ini memerlukan waktu kerja di laut yang lebih lama. Sisa tanaman di laut terdiri dari thallus yang tua, sehingga pertumbuhannya lambat dan kandungan karangenan hasil panen lebih rendah. Pemotongan rumput laut harus dilakukan dengan alat pemotong yang tajam agar pada bekas potong, sisa tanaman dapat tumbuh cabang baru dengan baik.
2. Panen dengan cara mengangkat seluruh tanaman memerlukan waktu kerja di laut yang lebih singkat. Pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat dengan cara memotong tali rafia. Selain itu, panen dengan cara ini mempunyai keuntungan tersendiri, yaitu menanam kembali bibit rumput laut dengan memilih bagian tanaman yang masih muda dengan laju pertumbuhan yang tinggi dan kandungan karangenan yang tinggi pula.
Hal yang perlu diperhatikan pada saat pemanenan adalah cuaca. Jika pemanenan dilakukan pada saat cuaca mendung, hal ini akan menyulitkan pada saat penjemuran. Jika kita gagal dalam penjemuran, akan terjadi proses fermentasi pada rumput laut yang di panen tersebut. Dengan demikian, kualitas rumput laut akan menurun.
HAMA DAN PENYAKIT Rumput laut
Pada tumbuhan, baik tumbuhan di darat maupun di air selalu memiliki hama dan penyakit. Dalam budidaya rumput laut, hama dan penyakit yang sering mengganggu dan menyebabkan kerusakan dan kematian di antaranya:
1. Jenis hama/organisme pengganggu
a. bulu babi
b. ikan-ikan herbivora, dan penyu.
2. Jenis penyakit yang sering timbul terutama pada jenis Euchema sp, dikenal dengan nama penyakit ice-ice (cabang-cabang tanaman tampak memutih) atau diduga penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri.
Pemeliharaan Rumput Laut Pasca Penanaman
Pemeliharaan rumput laut dilakukan setelah penanaman. Pada dasarnya tidak banyak yang dilakukan pada saat pemeliharaan budidaya rumput laut. Berbeda dengan pemeliharaan tanaman di darat, perlu pemupukan, pembasmi hama, dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan pemeliharaan dalam budidaya rumput laut hanyalah merupakan pengawasan secara terus menerus terutama pada waktu air surut untuk mencegah timbulnya hal-hal sebagai berikut.
Selama penanaman, mungkin saja patok penyangga tali atau jaring pada budidaya lepas dasar miring, goyah, atau tercabut dari dasar karena hempasan gelombang dan arus kuat. Peristiwa ini mungkin saja terjadi mengingat lokasi budidaya di daerah pantai. Segeralah perbaiki. Jika tidak, patok akan terhempas ke sana ke mari. Akibatnya, rumput laut akan rusak.
Pengamatan dan pembersihan tanaman secara berkala dengan selang waktu relatif singkat perlu dilakukan untuk memperkecil jumlah biota penempel yang merugikan. Dalam budidaya rumput laut, sampai saat ini belum ada informasi teknologi tentang cara pemupukan atau pemberantasan hama dan penyakit. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang rumput laut eucheuma yang sudah dikenal dengan istilah ice-ice. Penyakit jenis ini belum diketahui penyebabnya.
Apabila ada tali yang putus, segeralah perbaiki. Karena jika tidak, rumput laut akan rusak.
Jika ada bibit rusak atau pertumbuhan yang tidak normal, segeralah diganti yang baru. Apabila tidak segera diganti, hal ini dapat mengurangi hasil panen kelak karena pertumbuhannya lambat.
Memasang jaring keliling pada lokasi budidaya rumput laut agar tidak dimakan oleh ikan atau binatang lainnya.
Selama penanaman, kita perlu memperhatikan pertumbuhan/perkembangan rumput laut yang ditanam. Untuk mengetahui perkembangannya kita dapat saja melakukan pemeriksaan secara acak dari bibit-bibit yang ditanam.
Berbagai Cara Penanaman Bibit Rumput Laut
penanaman
Setelah diperoleh bibit rumput laut, kita tinggal menanam rumput tersebut. Namun,ada berbagai metoda dasar menanam rumput laut. Secara umum dikenal tiga metoda penanaman rumput laut berdasarkan letak bibit terhadap dasar perairan, yaitu:
1. Metoda Dasar
Metoda dasar adalah cara pembudidayaan rumput laut yang paling sederhana. Metoda dasar adalah metoda penanaman dengan cara penanaman dimana bibit ditebarkan di dasar perairan yang datar. Penanaman dengan metoda ini dilakukan 2 (dua) macam:
a. Metode tebar
Metode tebar adalah penebaran bibit secara langsung tanpa menggunakan apa-apa. Prosesnya adalah sebagai berikut.
a. Potonglah bibit dengan ukuran sekitar 20-25 cm dengan berat 75-100 gram,
b. Kemudian, sebarkanlah bibit tersebut pada dasar perairan.
Cara ini sangat sederhana. Kita tidak perlu mengeluarkan modal sedikitpun. Namun, cara ini hanya cocok dilakukan pada perairan dangkal yang airnya relatif diam. Kemudian, motoda ini umumnya dilakukan di daerah yang perbedaan pasang surutnya kecil.
Gambar 3.3. Bibit ditanam di pasir
b. Metode berkebun
Metode berkebun ialah metode yang sama dengan metode tebar, tetapi penebaran bibit dengan menggunakan pemberat. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Ikatlah Bibit setelah dipotong pada batu karang atau balok semen. Penggunaan batu karang dan balok semen adalah sebagai pemberat. Dengan demikian, jika ada arus air, rumput laut tidak terbawa hanyut.
b. Kemudian, bibit rumput laut diatur berbaris di dasar pantai dengan jarak 20-25 cm di dasar perairan.
Gambar 3.4. Bibit rumput laut diikatkan dengan batu dan ditanam
di dasar laut
Biasanya, sistem ini digunakan untuk pembudidayaan rumput laut jenis Gracilaria dalam tambak ikan. Tambak ikan dipilih karena tidak akan ada ombak.
2. Metoda Lepas Dasar
Metoda lepas dasar adalah metoda penanaman dengan cara mengikat sekumpulan bibit (thallus) dengan tali rafia atau jaring. Lalu, ikatan thallus yang digantungkan pada tali rapia atau jaring itu direntangkan di dasar perairan dengan bantuan patok bambu atau kayu. Biasanya metoda ini dilakukan di perairan yang berkedalaman sekitar 30 cm. Kemudian, metoda ini juga cocok untuk diterapkan di daerah perairan pantai atau terumbu karang yang dangkal yang masih terdapat genangan air pada waktu surut terendah kira-kira 0,3-1,0 meter. Cara ini cocok sekali.
Supaya tonggak dapat dipancangkan dengan mudah, dasar perairan diharapkan tidak terlalu keras. Pada pemasangan patok di dasar perairan perlu diperhitungkan naik turunnya air untuk menjaga agar tanaman tidak mengalami kekeringan pada saat air surut terendah.
Gambar 3.5. Cara mengikat rumput laut
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam metoda ini di antaranya:
a. Potongan bambu atau kayu dengan ukuran 1-1,5 m dengan salah satu ujungnya runcing digunakan sebagai pancang.
b. Tali plastik/tali dari bahan nilon monofilamen, tali nilon no.2000, sebagai tempat mengikat bibit.
c. Tali rafia untuk mengikat bibit.
d. Apabila menggunakan jaring direntangkan dengan patok, maka ukuran jaring 2,5 x 4 m2 dengan lebar mata 25-30 cm.
Jarak tali atau jaring dengan dasar perairan kira-kira 25 cm. Jarak bibit dengan bibit lainnya kira-kira 25 cm. Bibit yang akan ditanam berukuran antara 100-150 gr, dalam satu petak direntangkan 10 monoline (tali plastik). Satu monoline terdapat 10 ikat , sehingga dalam satu petak terdapat 200 ikat atau kurang lebih 20 kg bibit.
Gambar 3.6. Sistem budidaya lepas dasar
Pada kesempatan ini akan dijabarkan mengenai budidaya rumput laut dengan metode lepas dasar. Hal ini karena metode lepas dasar lebih efektif bila dibandingkan dengan kedua metode lainnya.
Pada metoda lepas dasar ini masih dapat dikembangkan lagi menjadi sistem bertingkat untuk penanaman di lokasi yang agak dalam.
Keterangan:
a = bibit rumput laut
b = tali rentang utama
c = puncak tiang atau patok (sebaiknya setinggipermukaan air laut pada waktu surut)
d = tali rentang cabang tempat mengikat bibit rumput laut
e = dasar perairan
Gambar 3.7. Metode lepas dasar dua susun
Untuk memperlancar pekerjaan, sebaiknya penanaman awal dilakukan pada saat pasang surut yang terendah, agar dapat memperkirakan jarak pemasangan tali rentang dari dasar perairan. Penanaman ruput laut yang baik adalah dilakukan pada sore hari.
Beberapa persiapan dan urutan pekerjaan untuk penanamanan awal rumput laut dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Persiapan bahan
Bahan-bahan yang harus dipersiapkan dalam penanaman awal setelah penentuan lokasi adalah:
1) Patok-patok
2) Tali
a) Tali rentang utama
b) Tali rentang cabang
c) Tali rapia
3) Alat-alat bantu
a) Palu
b) Pisau atau gunting
c) Gergaji
1) Patok-patok
Patok adalah tempat mengikat tali, baik tali rentang utama maupun tali rentang cabang. Tali-tali tersebut nantinya akan dijadikan tempat menggantung rumput laut. Oleh karena itu, pemasangan patok di pantai harus kuat agar saat rumput laut yang dipasang tumbuh pesat, patok tidak akan runtuh karena menanggung beban. Patok-patok yang akan dipergunakan untuk keperluan penanaman awal dapat dibuat dari kayu atau bambu yang banyak tersedia pada lokasi penanaman. Hal ini untuk menghindarkan adanya kenaikan harga bahan akibat biaya pengangkutan. Sebaiknya, patok terbuat dari bambu karena bambu tahan air.
Patok-patok yang akan dipergunakan dipotong-potong sepanjang 120 cm. Pada salah satu ujungnya diruncingi agar mudah ditancapkan di dasar perairan.
Dua pertiga dari patok tersebut (80 cm) akan ditancapkan ke dasar perairan, sedangkan sisanya (40 cm) akan berada di atas dasar perairan sebagai tempat mengikat tali-tali rentang.
2) Tali-temali
Beberapa jenis tali yang harus disediakan adalah:
a) Tali Rentang utama
Yang dimaksud dengan tali rentang utama adalah tali yang menghubungkan patok-patok secara berkeliling dari areal yang akan ditanami. Bahan tali rentang utama ini dibuat dari polyethylene dengan ukuran diameter 12 mm.
Gambar 3.8. Penunjukkan patok, tali rentang utama dan tali rentang tambahan
b) Tali rentang cabang
Tali rentang cabang adalah tali yang menghubungkan tali rentang utama yang dipasang secara sejajar dan dalam jarak yang sama, sebagi tempat mengikat bibit rumput laut yang akan ditanam. Bahan tali rentang cabang ini juga dibuat dari polyethylene dengan ukuran 4-6 mm.
Tali rentang cabang ini dipotong-potong sepanjang lebar areal yang telah ditentukan, dengan diberi kelebihan beberapa cm untuk pengikatan pada tali rentang utama.
3) Tali rapia
Tali rapia digunakan untuk keperluan pengikatan bibit rumput laut yang akan ditanam pada tali tentang cabang.
4) Alat-alat bantu
Untuk keperluan menancapkan patok-patok, memotong tali temali, memotong patok-patok, perlu dipersiapkan peralatan, seperti: palu, pisau/gunting, gergaji, dan sebagainya.
5) Bibit tanaman
Bibit tanaman yang akan ditanam hendaknya disediakan secukupnya saja. Jangan sampai kekurangan atau kelebihan bibit. Karena bila kekurangan bibit, akibatnya penanaman akan kurang sempurna,sedangkan bila kelebihan bibit berarti merupakan pemborosan yang semestinya harus dihindari. bibit yang dianggap unggul adalah bibit yang mempunyai ciri-ciri berwarna coklat kemerah-merahan, duri dan cabang-cabangnya banyak, segar, dan subur.
Bibit yang akan ditanam dipotong-potong kira-kira sepanjang 10-115 cm pada bagian ujung-ujungnya.
Persediaan bibit yang akan ditanam dapat diperhitungkan dengan cara mengalikan jumlah bibit setiap tali rentang cabang dengan banyaknya tali rentang cabang dan berat bibit pada setiap ikatan pada tali rentang cabang, dengan ditambah sedikit kelebihan (kira-kira 10 %) untuk persediaan penggantian bibit yang tidak dapat terpakai karena rusak atau sudah tidak segar lagi.
b. Urutan pekerjaan
Bila misalnya akan ditanam rumput laut seluas 1,5 x 2 meter, urutan pekerjaan dapat dilakukan sebagai berikut.
1) tancapkan tiang-tiang atau patok yang telah dipersiapkan pada dasar perairan sesuai dengan ukuran area yang telah direncanankan. Jarak penacangan antara patok 50 cm. Penancapan patok kira-kira sedalam 80 cm, sehingga sisa patok yang berada di atas dasar perairan tinggal 40 cm.
Gambar 3.9. Cara pemancangan patok
2) Setelah seluruh patok terpancang dengan baik, kemudian ikatkan tali rentang utama pada setiap patok mengelilingi seluruh areal yang akan ditanami.
Gambar 3.10. Memasang tali utama
3) Potonglah tali rentang cabang sepanjang 2 meter. Ikatkan tali rapia sepanjang 15-20 cm pada tali rentang cabang dengan cara menusukkan tali rapia tersebut ke dalam lilitan tali rentang cabang.
Gambar 3.11. Cara mengikat tali rentang utama pada patok
Jarak antara pengikatan tali rapia pada tali rentang cabang 25 cm.
Gambar 3.12. Cara menusukkan tali rapia pada tali rentang cabang.
4) Ambil bibit yang telah tersedia kira-kira seberat 50 gram dan ikat dengan tali rapia yang sudah terpasang pada tali rentang cabang. Pengikatan dilakukan dua kali, yaitu: pertama dengan ikatan setengah simpul mati, kemudian diulang dengan simpul balik.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bila terjadi penggantian bibit pada salah satu ikatan, dapat dikerjakan dengan mudah karena simpul-simpulnya mudah untuk diuraikan kembali.
Pengikatan tidak boleh terlalu ketat untuk memberikan kesempatan pada bibit dalam pertumbuhannya. akan tetapi juga tidak boleh terlalu kendor, karena bibit bisa terlepas dibawa arus atau ombak.
5) Setelah bibit terpasang semua pada tali rentang cabang, ikatkan tali rentang cabang tersebut pada tali rentan utama membujur ke arah lebar areal. Pengikatan biasanya menggunakan simpul timba seperti pada pengikatan patok dengan tali rentang utama. Akan tetapi, untuk menjaga adanya pergeseran ikatan, sebaiknya dilakukan pengikatan dengan cara anyaman atau menusukkan tali rentang cabang tersebut ke dalam lilitan tali rentang utama sebagaimana pengikatan bibit dengan tali rapia. Jarak ikatan antara tali rentang cabang 25 cm.
Gambar 3.13. Cara pengikatan bibit rumput laut pada tali rentang cabang.
Gambar 3.14. Cara pengikatan tali rentang cabang dengan simpul timba
Gambar 3.15. Cara pengikatan tali rentang cabang dengan anyaman.
6) Teruskan pekerjaan tersebut hingga seluruh tali rentang cabang yang direncanakan terpasang pada tali rentang utama.
Gambar 3.16. Seluruh tali telah terpasang.
3. Konstruksi
Konstruksi penanaman rumput laut seperti telah diuraikan di muka, dikenal dengan sebutuan cara penanaman rumput laut dengan sistem monoline. Karena tempat yang dipergunakan untuk mengikatkan bibit rumput laut tersebut adalah sebuah tali (tali rentang cabang).
Tempat untuk mengikatkan bibit rumut laut tersebut kecuali dengan tali sistem monoline juga dapat dipergunakan selembar jaring.
Penggunaan jaring dalam budidaya rumput laut cukup baik dilakuan. Penggunaan jaring memiliki kelebihan tersendiri. Hal ini karena adanya faktor-faktor sampingan yang ikut menunjang pertumbuhan rumput laut tersebut seperti.
a. Rumput laut selama dalam pertumbuhan tertampung di atas jaring. Pada penanaman sistem monolite, bibit rumput laut selama masa pertumbuhannya bergantung pada tali rentang cabang, sehingga cabang-cabangnya menjulur ke bawah yang mudah diombang-ambingkan ombak atau arus yang kuat.
Lain halnya dengan menggunakan jaring. Rumput laut diletakkan di atas jaring. Dengan demikian, akan kuat bila ada arus yang kecil.
b. Selain itu, penyimpanan rumput laut dengan cara menggantung di bawah tali dapat mengalami risiko kerusakan akibat tersenggol oleh gerakan-gerakan ikan atau hewan-hewan laut lainnya yang bergerak di bawah areal tanaman. Hal ini akan mengakibatkan cabang-cabang rumput laut banyak yang rusak atau patah. Hal ini tidak akan dialami jika pembudidayaan menggunakan jaring karena rumput laut aman di atas jaring.
c. Karena rumput laut semasa pertumbuhannya tertampung di atas jaring, sinar matahari dapat masuk lebih merata bila dibandingkan dengan pertumbuhan bibit yang menggantung pada tali rentang cabang. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman dapat lebih sempurna.
Lalu, jika budidaya sistem lepas dasar menggunakan Bila penanaman dilakukan dengan jaring, pengikatan bibit dilakukan pada seitp simpul jaring. Ini berarti bahwa jarak pengikatan bibit akan terbatas pada besarnya mata jaring yang dibuat. Jaring dengan ukuran mata dan bahan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, harus dibuat sendiri, karena tidak ada di pasaran bebas yang memenuhi benar.
Dengan membuat jaring sendiri, ujuran mata jaring dapat diatur sesuai keperluan, demikian juga bahan yang dikehendaki.
Kesulitan yang dialami oleh para nelayan dan petani rumput laut pada umumnya adalah cara membuat jaring tersebut.
Pada umumnya, para nelayan membuat jaring untuk keperluan alat penangkapan ikan, yang konstruksinya berbeda dengan jaring untuk keperluan penanaman rumput laut. Konstruksi jaring yang dipergunakan untuk alat penangkap ikan adalah All Meshes dan All Points dalam tarikan rentang (strachted mesh) sedangkan konstruksi jaring untuk keperluan penanaman rumput laut adalah sebagimana konstruksi jaring yang dipergunakan untuk keperluan olahraga, seperti: net bulutangkis, net volly, net tennis lapangan dan sebagainya. Konstruksi jaring yang demikian biasa disebut dengan istilah All bars.
Lembaran jaring dengan konstruksi all meshes tersebut biladilakukan tarikan pada pinggir-pinggir jaring, seluruh mata jaring akan menutup rapat, baik penarikan ke arau panjang maupun penarikan penarikan ke arah lebar jaring.
Akan tetapi, untuk jaring dengan konstruksi all bars, bila diadakan penarikan pada sisi-sisi pinggirnya mata jaring akan terbuka sepenuhnya dengan bentuk bujur sangkar. Keadaan bukaan mata jaring yang demikian itulah yang diperlukan untuk penanaman rumput laut.
Hal ini bukan berarti bahwa lembaran jaring dengan konstruksi all meshes tidak dapt dipergunakan untuk penanaman rumput laut. Akan tetapi bila terpaksa menggunakan jaring tersebut, akan mengalami beberapa kesulitan terutama pada waktu pengikatan sisi-sisi jaring dengan tali rentang utama, dan bagaimana mengusahakan agar mata jaring berbentuk bujur sangkar.
Gambar 3.17. Lembaran jaring dengan konstruksi all meshes
Gambar 3.18. Perbedaan jaring dengan konstruksi all meshes dan jaring dengan konstruksi all bars pada saat diadakantarikan rentangan (strachted mesh).
3. Metoda Apung
a. Rakit Apung
Metoda rakit apung adalah cara pemeliharaan dari bambu atau bahan lain yang tersedia sebagai kerangka untuk merentangkan tali nilon. metode ini cocok untuk perairan dengan dasar perairan yang terdiri dari karang dan pergerakannya didominasi oleh ombak. Penanaman dilakukan menggunakan rakit-rakit dari bambu, sedangkan ukuran tiap rakit sangan bervariasi bergantung pada tersedianya material. Ukuran rakit dapat disesuaikan pula dengan kondisi perairan, tetapi pada prinsipnya ukuran rakit dibuat jangan terlalu besar, sehingga mudah untuk pengamanan rumput laut yang ditanam.
Untuk menahan agar rakit tidak hanyut terbawa arus, dipergunakan tali penahan (rope line) dengan ukuran 9 mm, untuk menahan di dasar digunakan patok sebagai jangkar.
Untuk menghemat areal dan memudahkan pemeliharaan, beberapa rakit dapat dijadikan satu dan tiap rakit diberi jarak satu meter.
Bahan yang diperlukan dalam metoda ini adalah:
a. Bambu untuk pembuatan rakit dengan ukuran 2,5 x 4 m.
b. Nilon monofilamen (nilon No.2000), tempat mengikat bibit (tali plastik)
c. Tali rafia sebagai pengikat bibit pada tali nilon.
d. Batu/jangkar/besi sebagai pemberat, agar rakit tidak hanyut dibawa arus.
Bibit diikatkan pada tali plastik atau pada masing-masing simpul jaring yang telah direntangkan pada rakit tersebut. Jumlah bibit yang diikatkan antara 100-150 gram. Pertumbuhan tanaman dengan metode apung ini umunya lebih baik daripada metode lepas dasar, karena cukupnya pergerakan ari dan intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman.
Gambar 3.19. Budidaya rumput laut metode rakit apung
Selain menjamin pertumbuhan yang lebih baik, keuntungan lain dari metode ini ialah tanaman aman dari gangguan bulu babi dan pemeliharaan tanaman mudah dilakukan. Namun, kerugian dari penerapan metode ini ialah:
1. Biaya untuk pembuatan sarana budidaya relatif lebih mahal
2. Karena tanaman terlalu dekat dengan permukaan air, pada waktu laut tidak berombak, tanaman sering muncul ke permukaan air. Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan cabang-cabang tanaman menjadi pucat karena kehilangan pigmen dan akhirnya akan mati.
Untuk memudahkan pemeliharaan, umumnya satu unit terdiri dari rakit berukuran 5 x 2,5 m2. Satu rakit terdiri dari 25 tali dan jarak antara masing-masing tali 20 cm. Pada setiap tali dapat diikatkan sepuluh rumpun tanaman dan jarak antara rumpun yang satu dengan lainnya adalah 20 cm, sehingga dalam satu rakit terdiri dair 250 rumpun dengan berat rata-rata per rumpun 100 gram atau dibutuhkan sekitar 25 kg bibit.
b. Metode Long line
Sesuai dengan namanya, metode ini dibuat dari tali panjang yang dibentangkan. Umumnya tali yang digunakan adalah tali PE 0,5-0,6 cm dengan panjang tali berkisar antara 50-100 m. Setiap 25 meter diberi pelampung utama (besar). Pelampung ini dapat terbuat dari drum plastik, stereo foarm. setiap 5 meter diberi pelampung pembantu yang berfungsi untuk menggerakan tanaman setiap saat. Pelampung ini dapat terbuat dari potongan stereofoam atau dari botol air mineral. Untuk metode ini penanaman dapat dilakukan secara horizontal maupun secara vertikal. Cara penanaman secara horizontal, yaitu pada tali panjang tersebut diikat rumput laut dengan jarak minimal 40 cm, dan antara jarak tersebut dapat digantung tali PE 0,3-0,4 cm yang telah diikat bibit rumput laut dan digantungkan secara vertikal. Jumlah bibit yang diikat dan digantungkan tersebut sebanyak 3 tingkat (hingga kedalaman 60 cm). Agar tanaman yang digantung tersebut tetap pada posisinya, pada bagian bawah diberi pemberat. Penanaman secara vertikal ini akan lebih baik dilakukan pada perairan yang lebih jernih (lebih cocok di Indonesia bagian tengah dan timur).
c. Metoda jalur (kombinasi)
Metoda ini merupakan kombinasi antara metoda rakit dan metoda long line. Kerangka metode ini terbuat dari bambu yang disusun sejajar. Pada kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali PE 0,6 cm, sehingga membentuk persegi panjang dengan ujuran 5 x 7m berpetak. Satu unit metode ini terdiri dari 7-10 petak dan pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar. Kegiatan penanaman diawali dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur yang telah dilengkapi tali PE 0,1 cm. Setelah bibit diikat pada tali jalur, tali jalur tersebut dipasang pada kerangka yang telah tersedia dengan jarak tanam yang digunakan minimal 25cm x 30 cm.
Setelah diperoleh bibit rumput laut, kita tinggal menanam rumput tersebut. Namun,ada berbagai metoda dasar menanam rumput laut. Secara umum dikenal tiga metoda penanaman rumput laut berdasarkan letak bibit terhadap dasar perairan, yaitu:
1. Metoda Dasar
Metoda dasar adalah cara pembudidayaan rumput laut yang paling sederhana. Metoda dasar adalah metoda penanaman dengan cara penanaman dimana bibit ditebarkan di dasar perairan yang datar. Penanaman dengan metoda ini dilakukan 2 (dua) macam:
a. Metode tebar
Metode tebar adalah penebaran bibit secara langsung tanpa menggunakan apa-apa. Prosesnya adalah sebagai berikut.
a. Potonglah bibit dengan ukuran sekitar 20-25 cm dengan berat 75-100 gram,
b. Kemudian, sebarkanlah bibit tersebut pada dasar perairan.
Cara ini sangat sederhana. Kita tidak perlu mengeluarkan modal sedikitpun. Namun, cara ini hanya cocok dilakukan pada perairan dangkal yang airnya relatif diam. Kemudian, motoda ini umumnya dilakukan di daerah yang perbedaan pasang surutnya kecil.
Gambar 3.3. Bibit ditanam di pasir
b. Metode berkebun
Metode berkebun ialah metode yang sama dengan metode tebar, tetapi penebaran bibit dengan menggunakan pemberat. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
a. Ikatlah Bibit setelah dipotong pada batu karang atau balok semen. Penggunaan batu karang dan balok semen adalah sebagai pemberat. Dengan demikian, jika ada arus air, rumput laut tidak terbawa hanyut.
b. Kemudian, bibit rumput laut diatur berbaris di dasar pantai dengan jarak 20-25 cm di dasar perairan.
Gambar 3.4. Bibit rumput laut diikatkan dengan batu dan ditanam
di dasar laut
Biasanya, sistem ini digunakan untuk pembudidayaan rumput laut jenis Gracilaria dalam tambak ikan. Tambak ikan dipilih karena tidak akan ada ombak.
2. Metoda Lepas Dasar
Metoda lepas dasar adalah metoda penanaman dengan cara mengikat sekumpulan bibit (thallus) dengan tali rafia atau jaring. Lalu, ikatan thallus yang digantungkan pada tali rapia atau jaring itu direntangkan di dasar perairan dengan bantuan patok bambu atau kayu. Biasanya metoda ini dilakukan di perairan yang berkedalaman sekitar 30 cm. Kemudian, metoda ini juga cocok untuk diterapkan di daerah perairan pantai atau terumbu karang yang dangkal yang masih terdapat genangan air pada waktu surut terendah kira-kira 0,3-1,0 meter. Cara ini cocok sekali.
Supaya tonggak dapat dipancangkan dengan mudah, dasar perairan diharapkan tidak terlalu keras. Pada pemasangan patok di dasar perairan perlu diperhitungkan naik turunnya air untuk menjaga agar tanaman tidak mengalami kekeringan pada saat air surut terendah.
Gambar 3.5. Cara mengikat rumput laut
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam metoda ini di antaranya:
a. Potongan bambu atau kayu dengan ukuran 1-1,5 m dengan salah satu ujungnya runcing digunakan sebagai pancang.
b. Tali plastik/tali dari bahan nilon monofilamen, tali nilon no.2000, sebagai tempat mengikat bibit.
c. Tali rafia untuk mengikat bibit.
d. Apabila menggunakan jaring direntangkan dengan patok, maka ukuran jaring 2,5 x 4 m2 dengan lebar mata 25-30 cm.
Jarak tali atau jaring dengan dasar perairan kira-kira 25 cm. Jarak bibit dengan bibit lainnya kira-kira 25 cm. Bibit yang akan ditanam berukuran antara 100-150 gr, dalam satu petak direntangkan 10 monoline (tali plastik). Satu monoline terdapat 10 ikat , sehingga dalam satu petak terdapat 200 ikat atau kurang lebih 20 kg bibit.
Gambar 3.6. Sistem budidaya lepas dasar
Pada kesempatan ini akan dijabarkan mengenai budidaya rumput laut dengan metode lepas dasar. Hal ini karena metode lepas dasar lebih efektif bila dibandingkan dengan kedua metode lainnya.
Pada metoda lepas dasar ini masih dapat dikembangkan lagi menjadi sistem bertingkat untuk penanaman di lokasi yang agak dalam.
Keterangan:
a = bibit rumput laut
b = tali rentang utama
c = puncak tiang atau patok (sebaiknya setinggipermukaan air laut pada waktu surut)
d = tali rentang cabang tempat mengikat bibit rumput laut
e = dasar perairan
Gambar 3.7. Metode lepas dasar dua susun
Untuk memperlancar pekerjaan, sebaiknya penanaman awal dilakukan pada saat pasang surut yang terendah, agar dapat memperkirakan jarak pemasangan tali rentang dari dasar perairan. Penanaman ruput laut yang baik adalah dilakukan pada sore hari.
Beberapa persiapan dan urutan pekerjaan untuk penanamanan awal rumput laut dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Persiapan bahan
Bahan-bahan yang harus dipersiapkan dalam penanaman awal setelah penentuan lokasi adalah:
1) Patok-patok
2) Tali
a) Tali rentang utama
b) Tali rentang cabang
c) Tali rapia
3) Alat-alat bantu
a) Palu
b) Pisau atau gunting
c) Gergaji
1) Patok-patok
Patok adalah tempat mengikat tali, baik tali rentang utama maupun tali rentang cabang. Tali-tali tersebut nantinya akan dijadikan tempat menggantung rumput laut. Oleh karena itu, pemasangan patok di pantai harus kuat agar saat rumput laut yang dipasang tumbuh pesat, patok tidak akan runtuh karena menanggung beban. Patok-patok yang akan dipergunakan untuk keperluan penanaman awal dapat dibuat dari kayu atau bambu yang banyak tersedia pada lokasi penanaman. Hal ini untuk menghindarkan adanya kenaikan harga bahan akibat biaya pengangkutan. Sebaiknya, patok terbuat dari bambu karena bambu tahan air.
Patok-patok yang akan dipergunakan dipotong-potong sepanjang 120 cm. Pada salah satu ujungnya diruncingi agar mudah ditancapkan di dasar perairan.
Dua pertiga dari patok tersebut (80 cm) akan ditancapkan ke dasar perairan, sedangkan sisanya (40 cm) akan berada di atas dasar perairan sebagai tempat mengikat tali-tali rentang.
2) Tali-temali
Beberapa jenis tali yang harus disediakan adalah:
a) Tali Rentang utama
Yang dimaksud dengan tali rentang utama adalah tali yang menghubungkan patok-patok secara berkeliling dari areal yang akan ditanami. Bahan tali rentang utama ini dibuat dari polyethylene dengan ukuran diameter 12 mm.
Gambar 3.8. Penunjukkan patok, tali rentang utama dan tali rentang tambahan
b) Tali rentang cabang
Tali rentang cabang adalah tali yang menghubungkan tali rentang utama yang dipasang secara sejajar dan dalam jarak yang sama, sebagi tempat mengikat bibit rumput laut yang akan ditanam. Bahan tali rentang cabang ini juga dibuat dari polyethylene dengan ukuran 4-6 mm.
Tali rentang cabang ini dipotong-potong sepanjang lebar areal yang telah ditentukan, dengan diberi kelebihan beberapa cm untuk pengikatan pada tali rentang utama.
3) Tali rapia
Tali rapia digunakan untuk keperluan pengikatan bibit rumput laut yang akan ditanam pada tali tentang cabang.
4) Alat-alat bantu
Untuk keperluan menancapkan patok-patok, memotong tali temali, memotong patok-patok, perlu dipersiapkan peralatan, seperti: palu, pisau/gunting, gergaji, dan sebagainya.
5) Bibit tanaman
Bibit tanaman yang akan ditanam hendaknya disediakan secukupnya saja. Jangan sampai kekurangan atau kelebihan bibit. Karena bila kekurangan bibit, akibatnya penanaman akan kurang sempurna,sedangkan bila kelebihan bibit berarti merupakan pemborosan yang semestinya harus dihindari. bibit yang dianggap unggul adalah bibit yang mempunyai ciri-ciri berwarna coklat kemerah-merahan, duri dan cabang-cabangnya banyak, segar, dan subur.
Bibit yang akan ditanam dipotong-potong kira-kira sepanjang 10-115 cm pada bagian ujung-ujungnya.
Persediaan bibit yang akan ditanam dapat diperhitungkan dengan cara mengalikan jumlah bibit setiap tali rentang cabang dengan banyaknya tali rentang cabang dan berat bibit pada setiap ikatan pada tali rentang cabang, dengan ditambah sedikit kelebihan (kira-kira 10 %) untuk persediaan penggantian bibit yang tidak dapat terpakai karena rusak atau sudah tidak segar lagi.
b. Urutan pekerjaan
Bila misalnya akan ditanam rumput laut seluas 1,5 x 2 meter, urutan pekerjaan dapat dilakukan sebagai berikut.
1) tancapkan tiang-tiang atau patok yang telah dipersiapkan pada dasar perairan sesuai dengan ukuran area yang telah direncanankan. Jarak penacangan antara patok 50 cm. Penancapan patok kira-kira sedalam 80 cm, sehingga sisa patok yang berada di atas dasar perairan tinggal 40 cm.
Gambar 3.9. Cara pemancangan patok
2) Setelah seluruh patok terpancang dengan baik, kemudian ikatkan tali rentang utama pada setiap patok mengelilingi seluruh areal yang akan ditanami.
Gambar 3.10. Memasang tali utama
3) Potonglah tali rentang cabang sepanjang 2 meter. Ikatkan tali rapia sepanjang 15-20 cm pada tali rentang cabang dengan cara menusukkan tali rapia tersebut ke dalam lilitan tali rentang cabang.
Gambar 3.11. Cara mengikat tali rentang utama pada patok
Jarak antara pengikatan tali rapia pada tali rentang cabang 25 cm.
Gambar 3.12. Cara menusukkan tali rapia pada tali rentang cabang.
4) Ambil bibit yang telah tersedia kira-kira seberat 50 gram dan ikat dengan tali rapia yang sudah terpasang pada tali rentang cabang. Pengikatan dilakukan dua kali, yaitu: pertama dengan ikatan setengah simpul mati, kemudian diulang dengan simpul balik.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bila terjadi penggantian bibit pada salah satu ikatan, dapat dikerjakan dengan mudah karena simpul-simpulnya mudah untuk diuraikan kembali.
Pengikatan tidak boleh terlalu ketat untuk memberikan kesempatan pada bibit dalam pertumbuhannya. akan tetapi juga tidak boleh terlalu kendor, karena bibit bisa terlepas dibawa arus atau ombak.
5) Setelah bibit terpasang semua pada tali rentang cabang, ikatkan tali rentang cabang tersebut pada tali rentan utama membujur ke arah lebar areal. Pengikatan biasanya menggunakan simpul timba seperti pada pengikatan patok dengan tali rentang utama. Akan tetapi, untuk menjaga adanya pergeseran ikatan, sebaiknya dilakukan pengikatan dengan cara anyaman atau menusukkan tali rentang cabang tersebut ke dalam lilitan tali rentang utama sebagaimana pengikatan bibit dengan tali rapia. Jarak ikatan antara tali rentang cabang 25 cm.
Gambar 3.13. Cara pengikatan bibit rumput laut pada tali rentang cabang.
Gambar 3.14. Cara pengikatan tali rentang cabang dengan simpul timba
Gambar 3.15. Cara pengikatan tali rentang cabang dengan anyaman.
6) Teruskan pekerjaan tersebut hingga seluruh tali rentang cabang yang direncanakan terpasang pada tali rentang utama.
Gambar 3.16. Seluruh tali telah terpasang.
3. Konstruksi
Konstruksi penanaman rumput laut seperti telah diuraikan di muka, dikenal dengan sebutuan cara penanaman rumput laut dengan sistem monoline. Karena tempat yang dipergunakan untuk mengikatkan bibit rumput laut tersebut adalah sebuah tali (tali rentang cabang).
Tempat untuk mengikatkan bibit rumut laut tersebut kecuali dengan tali sistem monoline juga dapat dipergunakan selembar jaring.
Penggunaan jaring dalam budidaya rumput laut cukup baik dilakuan. Penggunaan jaring memiliki kelebihan tersendiri. Hal ini karena adanya faktor-faktor sampingan yang ikut menunjang pertumbuhan rumput laut tersebut seperti.
a. Rumput laut selama dalam pertumbuhan tertampung di atas jaring. Pada penanaman sistem monolite, bibit rumput laut selama masa pertumbuhannya bergantung pada tali rentang cabang, sehingga cabang-cabangnya menjulur ke bawah yang mudah diombang-ambingkan ombak atau arus yang kuat.
Lain halnya dengan menggunakan jaring. Rumput laut diletakkan di atas jaring. Dengan demikian, akan kuat bila ada arus yang kecil.
b. Selain itu, penyimpanan rumput laut dengan cara menggantung di bawah tali dapat mengalami risiko kerusakan akibat tersenggol oleh gerakan-gerakan ikan atau hewan-hewan laut lainnya yang bergerak di bawah areal tanaman. Hal ini akan mengakibatkan cabang-cabang rumput laut banyak yang rusak atau patah. Hal ini tidak akan dialami jika pembudidayaan menggunakan jaring karena rumput laut aman di atas jaring.
c. Karena rumput laut semasa pertumbuhannya tertampung di atas jaring, sinar matahari dapat masuk lebih merata bila dibandingkan dengan pertumbuhan bibit yang menggantung pada tali rentang cabang. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman dapat lebih sempurna.
Lalu, jika budidaya sistem lepas dasar menggunakan Bila penanaman dilakukan dengan jaring, pengikatan bibit dilakukan pada seitp simpul jaring. Ini berarti bahwa jarak pengikatan bibit akan terbatas pada besarnya mata jaring yang dibuat. Jaring dengan ukuran mata dan bahan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, harus dibuat sendiri, karena tidak ada di pasaran bebas yang memenuhi benar.
Dengan membuat jaring sendiri, ujuran mata jaring dapat diatur sesuai keperluan, demikian juga bahan yang dikehendaki.
Kesulitan yang dialami oleh para nelayan dan petani rumput laut pada umumnya adalah cara membuat jaring tersebut.
Pada umumnya, para nelayan membuat jaring untuk keperluan alat penangkapan ikan, yang konstruksinya berbeda dengan jaring untuk keperluan penanaman rumput laut. Konstruksi jaring yang dipergunakan untuk alat penangkap ikan adalah All Meshes dan All Points dalam tarikan rentang (strachted mesh) sedangkan konstruksi jaring untuk keperluan penanaman rumput laut adalah sebagimana konstruksi jaring yang dipergunakan untuk keperluan olahraga, seperti: net bulutangkis, net volly, net tennis lapangan dan sebagainya. Konstruksi jaring yang demikian biasa disebut dengan istilah All bars.
Lembaran jaring dengan konstruksi all meshes tersebut biladilakukan tarikan pada pinggir-pinggir jaring, seluruh mata jaring akan menutup rapat, baik penarikan ke arau panjang maupun penarikan penarikan ke arah lebar jaring.
Akan tetapi, untuk jaring dengan konstruksi all bars, bila diadakan penarikan pada sisi-sisi pinggirnya mata jaring akan terbuka sepenuhnya dengan bentuk bujur sangkar. Keadaan bukaan mata jaring yang demikian itulah yang diperlukan untuk penanaman rumput laut.
Hal ini bukan berarti bahwa lembaran jaring dengan konstruksi all meshes tidak dapt dipergunakan untuk penanaman rumput laut. Akan tetapi bila terpaksa menggunakan jaring tersebut, akan mengalami beberapa kesulitan terutama pada waktu pengikatan sisi-sisi jaring dengan tali rentang utama, dan bagaimana mengusahakan agar mata jaring berbentuk bujur sangkar.
Gambar 3.17. Lembaran jaring dengan konstruksi all meshes
Gambar 3.18. Perbedaan jaring dengan konstruksi all meshes dan jaring dengan konstruksi all bars pada saat diadakantarikan rentangan (strachted mesh).
3. Metoda Apung
a. Rakit Apung
Metoda rakit apung adalah cara pemeliharaan dari bambu atau bahan lain yang tersedia sebagai kerangka untuk merentangkan tali nilon. metode ini cocok untuk perairan dengan dasar perairan yang terdiri dari karang dan pergerakannya didominasi oleh ombak. Penanaman dilakukan menggunakan rakit-rakit dari bambu, sedangkan ukuran tiap rakit sangan bervariasi bergantung pada tersedianya material. Ukuran rakit dapat disesuaikan pula dengan kondisi perairan, tetapi pada prinsipnya ukuran rakit dibuat jangan terlalu besar, sehingga mudah untuk pengamanan rumput laut yang ditanam.
Untuk menahan agar rakit tidak hanyut terbawa arus, dipergunakan tali penahan (rope line) dengan ukuran 9 mm, untuk menahan di dasar digunakan patok sebagai jangkar.
Untuk menghemat areal dan memudahkan pemeliharaan, beberapa rakit dapat dijadikan satu dan tiap rakit diberi jarak satu meter.
Bahan yang diperlukan dalam metoda ini adalah:
a. Bambu untuk pembuatan rakit dengan ukuran 2,5 x 4 m.
b. Nilon monofilamen (nilon No.2000), tempat mengikat bibit (tali plastik)
c. Tali rafia sebagai pengikat bibit pada tali nilon.
d. Batu/jangkar/besi sebagai pemberat, agar rakit tidak hanyut dibawa arus.
Bibit diikatkan pada tali plastik atau pada masing-masing simpul jaring yang telah direntangkan pada rakit tersebut. Jumlah bibit yang diikatkan antara 100-150 gram. Pertumbuhan tanaman dengan metode apung ini umunya lebih baik daripada metode lepas dasar, karena cukupnya pergerakan ari dan intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman.
Gambar 3.19. Budidaya rumput laut metode rakit apung
Selain menjamin pertumbuhan yang lebih baik, keuntungan lain dari metode ini ialah tanaman aman dari gangguan bulu babi dan pemeliharaan tanaman mudah dilakukan. Namun, kerugian dari penerapan metode ini ialah:
1. Biaya untuk pembuatan sarana budidaya relatif lebih mahal
2. Karena tanaman terlalu dekat dengan permukaan air, pada waktu laut tidak berombak, tanaman sering muncul ke permukaan air. Bila hal ini berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan cabang-cabang tanaman menjadi pucat karena kehilangan pigmen dan akhirnya akan mati.
Untuk memudahkan pemeliharaan, umumnya satu unit terdiri dari rakit berukuran 5 x 2,5 m2. Satu rakit terdiri dari 25 tali dan jarak antara masing-masing tali 20 cm. Pada setiap tali dapat diikatkan sepuluh rumpun tanaman dan jarak antara rumpun yang satu dengan lainnya adalah 20 cm, sehingga dalam satu rakit terdiri dair 250 rumpun dengan berat rata-rata per rumpun 100 gram atau dibutuhkan sekitar 25 kg bibit.
b. Metode Long line
Sesuai dengan namanya, metode ini dibuat dari tali panjang yang dibentangkan. Umumnya tali yang digunakan adalah tali PE 0,5-0,6 cm dengan panjang tali berkisar antara 50-100 m. Setiap 25 meter diberi pelampung utama (besar). Pelampung ini dapat terbuat dari drum plastik, stereo foarm. setiap 5 meter diberi pelampung pembantu yang berfungsi untuk menggerakan tanaman setiap saat. Pelampung ini dapat terbuat dari potongan stereofoam atau dari botol air mineral. Untuk metode ini penanaman dapat dilakukan secara horizontal maupun secara vertikal. Cara penanaman secara horizontal, yaitu pada tali panjang tersebut diikat rumput laut dengan jarak minimal 40 cm, dan antara jarak tersebut dapat digantung tali PE 0,3-0,4 cm yang telah diikat bibit rumput laut dan digantungkan secara vertikal. Jumlah bibit yang diikat dan digantungkan tersebut sebanyak 3 tingkat (hingga kedalaman 60 cm). Agar tanaman yang digantung tersebut tetap pada posisinya, pada bagian bawah diberi pemberat. Penanaman secara vertikal ini akan lebih baik dilakukan pada perairan yang lebih jernih (lebih cocok di Indonesia bagian tengah dan timur).
c. Metoda jalur (kombinasi)
Metoda ini merupakan kombinasi antara metoda rakit dan metoda long line. Kerangka metode ini terbuat dari bambu yang disusun sejajar. Pada kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali PE 0,6 cm, sehingga membentuk persegi panjang dengan ujuran 5 x 7m berpetak. Satu unit metode ini terdiri dari 7-10 petak dan pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar. Kegiatan penanaman diawali dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur yang telah dilengkapi tali PE 0,1 cm. Setelah bibit diikat pada tali jalur, tali jalur tersebut dipasang pada kerangka yang telah tersedia dengan jarak tanam yang digunakan minimal 25cm x 30 cm.
Subscribe to:
Posts (Atom)