Friday, 9 December 2016

Memilih bibit dan Cara Pembibitan rumput laut

Bibit
Dalam membudidayakan sesuatu, diperlukan perhatian khusus tentang bibit yang digunakan. Pada dasarnya, pemilihan bibit ini bertujuan agar pertumbuhan rumput laut menjadi baik.

1.     Pemilihan Bibit
Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi usaha budidaya. Hal ini untuk dapat memenuhi keperluan pada saat dibutuhkan dalam jumlah yang cukup sesuai dengan luas area penanaman.
Pengangkutannya pun harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Bibit harus tetap basah ataupun terendam air laut. Itulah sebabnya, pengambilan bibit dilakukan dari pantai terdekat sekitar lokasi usaha budidaya. Hal itu dapat mengurangi tingkat human eror yang dapat mengakibatkan rusaknya bibit.
Selain itu, dengan pengadaan bibit lokal, bibit itu tidak perlu lagi menyesuaikan diri dengan lingkungan karena sangat cocok dengan persyaratannya untuk pertumbuhannya secara alami.
Namun, bila ternyata di lokasi pembudidayaan tidak terdapat  bibit lokal sesuai dengan yang diinginkan, bibit dapat diambil dari lokasi lain. Untuk itu, kita harus berhati-hati saat membawa bibit selama perjalanan. Adapun cara yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1.     Bibit rumput laut harus selalu lembap selama perjalanan.
2.     Diharapkan, bibit tidak terkena sinar matahari langsung.
3.     Bibit tidak terkena air tawar maupun air hujan.
4.     Tidak tertutup rapat sehingga ada sirkulasi udara.

Untuk itu, ada  cara pengepakan bibit rumput laut agar selama perjalanan rumput itu tidak rusak, yaitu sebagai berikut.
1.     Sediakan kantong plastik yang berukuran sesuai dengan besar rumput laut. kemudian, sediakan pula dus yang seukuran dengan plastik.
2.      Lalu, masukkan kantong plastik ke dalam dus sambil dibuka. Kemudian pada dasar kantong plastik diberi spon yang telah diberi air. Jika dasar plastik telah diberi spon yang lembap, mulailah meletakkan bibit rumput laut. Penumpukan rumput laut jangan terlalu tinggi dan jangan pula terlalu padat. Setelah diisi rumput laut, berilah spon yang lembab. Lalu, tumpuk lagi dengan bibit rumput laut. Lakukan berlapis-lapis.








Gambar 3.1 Pengemasan bibit rumput laut

2.     Cara Pembibitan
Bibit rumput laut adalah berupa stek (pemotongan). Pemotongan rumput laut yang digunakan untuk bibit haruslah diambil dari rumput laut yang memiliki cabang yang banyak.
Penyetekan dilakukan dengan pemotongan rumput laut pada ujungnya sepanjang kira-kira 10-15 cm. Dengan demikian, hasil yang diperoleh saat panen akan melimpah. Rumput laut budidaya akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Karena itu, banyak pula hasil yang didapat.
Selain bibit yang akan ditanam bercabang banyak, kondisinya haruslah utuh dan tanpa luka. Disarankan pula, bibit harus segar dan masih muda. Umurnya sekitar 25-35 hari. Berat yang disarankan, yaitu antara 50-100 gram. Ciri-ciri rumput laut yang baik juga perlu diperhatikan, yaitu tidak bercak dan terkelupas, warnanya cerah. Dengan demikian, pertumbuhannya akan maksimal.
Sebelum dilakukan penanaman, bibit dikumpulkan pada tempat tertentu, misalnya keranjang atau jaring dan diusahakan bibit tidak terkena minyak, kehujanan, dan tidak kekeringan.











Gambar 3.2. Cara memotong Rumput Laut

Pemilihan Lokasi untuk Budidaya Rumput Laut


Ada beberapa syarat yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi untuk memulai budidaya rumput laut. Syarat-syarat tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. Kriteria lingkungan untuk jenis Eucheuma, antara lain:
1.     Substratnya harus stabil.
2.     Dasar perairannya terdiri atas campuran karang mati dan karang kasar.
3.     Daerah budidaya harus terlindung dari ombak yang terlalu besar dan umumbnya baik di daerah yang terdapat terumbu karang.
4.     Tempat dan lingkungan perairannya tidak mengalami pencemaran.
5.    Kedalaman airnya pada saat surut terendah adalah 10-30 sentimeter.
6.    Sepanjang tahun, perairannya dilalui arus tetap dari laut lepas.
7.     Kecepatan arusnya berkisar antara 20-40 meter permenit.
8.     Letaknya jauh dari muara sungai.
9.     Perairannya tidak mengandung lumur dan airnya bersih.
10.     Suhu air laut berkisar antara 27-300C
11.     Salinitasnya antara 3- 37 permil.

Adapun persyaratan untuk budidaya Gracilaria adalah sebagai berikut.
1.     Substratnya berlumpur atau lumpurnya berpasir.
2.     Perairannya tenang atau berupa tambak dan selalu tergenang air laut pada surut terendah.
3.     Tempat tumbuh dan lingkungannya tidak tercemar.
4.     Kedalaman airnya tidak lebih dari 10 meter.
5.     Salinitasnya berkisar antara 18-32 permil, dengan titik optimum 25 permil.
6.     pH-nya 8-8,5
7.     Suhu airnya 20-280C.
8.     Kandungan oksigen terlarut berkisar antara 3-8 ppm.

Selain hal-hal di atas ada persyaratan umum yang baik untuk dipertimbangkan dalam memilih tempat membudidayakan rumput laut. Persyaratan tersebut adalah bersifat teknis, yaitu: kelancaran transportasi, dan ketersediaan benih alami, atau dekat dengan persediaan bibit.

Manfaat Rumput Laut

MANFAAT RUMPUT LAUT
Rumput laut banyak memiliki manfaat. Adapun manfaat rumput laut adalah sebagai berikut.

1.     Sebagai Bahan Makanan
Sejak tahun 1670, manusia memanfaatkan rumput laut secara ekonomis. Awalnya, manusia memanfaatkan rumput laut untuk kebutuhan konsumsi.
Di Indonesia sendiri, rumput laut juga telah dimanfaatkan oleh penduduk di sekitar pantai. Umumnya, mereka memanfaatkannya untuk kebutuhan konsumsi, yaitu: untuk sayur, lalap, bahan membuat kue, puding, dan manisan.
Pada tahun 1930, Indonesia mulai memanfaatkan rumput laut sebagai bahan pembuat agar-agar. Hal ini ditandai dengan berdirinya suatu pabrik penghasil agar-agar terbesar pertama di Indonesia. Awalnya pabrik tersebut berdiri di Kudus. Kemudian, sesuai kebutuhan, dibangun pabrik agar-agar di beberapa kota lainnya, seperti di Surabaya, Jakarta, dan Ujung Pandang.
Ada beberapa jenis rumput laut yang dapat dijadikan bahan makanan di Indonesia. Jenis-jenis rumput laut yang dapat diusahakan sebagai bahan makanan itu tertera pada tabel sebagai berikut.
Nilai gizi
Sebagai bahan makanan, rumput laut banyak mengandung nutrisi sebagai berikut.
1.     Karbohidrat
2.     Sedikit protein dan lemak
3.     Abu yang sebagian besar terdiri dari natrium dan kalium
4.     air 80-90%
Selain komposisi utama tersebut, sayuran laut sangat kaya akan senyawa kecil yang penting.
Nilai makanan dari rumput laut sebagian besar terletak pada karbohidrat. Kandungan protein dan kadar lemak antara jenis yang satu dengan jenis yang lain tidak selalu sama. Kandungan karbohidrat juga memiliki daya larut yang berbeda dan tidak seluruhnya dapat dicerna.
Di samping itu, rumput laut juga kaya akan vitamin A dan vitamin E. Setiap 100 gram rumput laut dapat memenuhi kebutuhan Natrium, Kalium, dan Magnesium.

2.     Rumput Laut Sebagai Bahan Industri
Beberapa jenis rumput laut terutama kelompok ganggang merah, dapat dimanfaatkan untuk memproduksi berbagai jenis gumi alami atau mucilages atau karagin, dengan berbagai macam kegunaan.
Karena sampai saat ini sebagian besar hasil produksi tersebut belum dapat ditiru dengan bahan-bahan sintetis, rumput laut tetap memegang peran yang cukup penting.
Adapun beberapa kegunaan hasil produksi rumput laut adalah sebagai berikut.
a.     Agar-agar
Agar-agar dapat dibuat dari ganggang jenis Gracilaria Gelidium, Gelidiopsis, dan Hpnea. Di Indonesia agar-agar dibuat dari Gelidiospsis regida, sedangkan di Jepang dibuat dari Gelidium sp yang dikenal sebagai kanten. Di Cina, agar-agar dibuat dari Gracilariaverrucosa.
Penggunaan agar-agar yang penting adalah untuk pupukan bakteri dan mikroba lain, seperti kapang, dan khamir. Karena dengan penambahan beberapa zat ke dalamnya, larutan encer agar-agar dapat menjadi gel dimana mikroba dapat tumbuh. Di samping itu di bidang kosmetika, agar-agar  juga berguna utnuk pembuatan cream, lotion, salep, tapal gigi, dan sebagainya.

b     Karagin
Jenis utama penghasil karagin  umumnya adalah Eucheuma spinosum, Eucheuma striatum, dan Eucheuma cotonii (Sri Istini, dkk, 1985)
Penggunaan karagin yang utama dalam bidang industri adalah untuk gelasi, pengentalan, stabilisator, emulfisier, dan untuk suspensi, serta pengendalian pertumbuhan kristal.

c.     Furcellaran
Furcellaran dibuat dari ganggang merah jenis Furcellaran fastigata forma aegagrapila (F.G Winarno, 1985). Furcelaran terdiri dari dua komponen yang menyerupai karagin yang memiliki daya gelasi dan pengental.
Secara umum, rumput laut bermanfaat sebagai bahan industri. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.

1).     Bidang farmasi
Dalam bidang farmasi, rumput laut berfungsi sebagai bahan peluntur, bahan suspensi, emulfisier, stabilisator, tablet, salep, kulit kapsul, plester, filter, dan sebagainya.

2)     Bidang industri makanan
Pada bidang industri makanan, rumput laut berfungsi untuk thickener, saus, mentega, sayur.  Selain itu, rumput laut juga digunakan dalam produk-produk susu, minuman, makanan untuk diet, produk daging, ikan kaleng, dan sebagainya.

3)     Bidang kosmetika
Pada industri kosmetik, rumput laut juga memegang peranan yang sangat penting, yaitu dalam pembuatan sabun, cream, lotion, shampoo, pencelup rambut tapal gigi, dan masker.

4)     Bidang industri lain
Pada bidang industri lainnya pun rumput laut banyak berperan contoh dalam pembuatan kertas dan industri tekstil, pengalengan makanan, industri fotografi, insektisida, pestisida, dan sebagainya.

JENIS RUMPUT LAUT YANG BERNILAI EKONOMIS


Dari sekian jenis komoditi laut, rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan yang  akhir-akhir ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarat adalah cottonii. Jenis ini banyak dibudidayakan karena teknologi produksinya relatif murah serta penanganan pasca panen relatif mudah dan sederhana.
Di Indonesia, rumput laut yang memiliki nilai ekonomis penting, umumnya berasal dari kelompok Rhodophyceae (ganggang merah). Ada dua jenis yang  terkenal, yaitu Eucheuma dan Gracilaria. eucheuma dikenal sebagai penghasil karagenan, sedangkan Gracilaria sebagai penghasil agar-agar. Senyawa-senyawa ini sangat dibutuhkan dalam industri makanan, obat-obatan, dan kosmetika.

Skema Klasifikasi Rumput laut dan hasil olahannya

Rumput Laut


    Chlorophyceae    Cyanophyceae    Rhodophceae    Phaephyceae
    (Alga hijau)    (Alga biru-hijau)    (Alga merah)    (Alga coklat)


    Gracilaria    Chondrus    Fulcellaria    Ascophylum
    Gelidium    Eucheuma        Laminaria
        Gigartina
                Macrocystis
                Sargasum

    Fulcellaran    Agar    Karaginan    Alginat

    Sumber: Warta Apbiri, 1996
Tabel. Jenis rumput laut yang dimanfaatkan sebagai kosmetik dan obat tradisional
    Jenis rumput laut    Digunakan untuk






















Kedua jenis rumput laut ini telah banyak dibudidayakan. Budidaya laut adalah suatu usaha untuk memanfaatkan perairan pantai semaksimal mungkin dengan jalan memelihara ikan, kerang-kerangan, rumput laut, dan biota lainnya yang bernilai ekonomis penting, baik sebagai sumber protein ataupun komoditi ekspor. Namun, selama ini usaha yang dilakukan kebanyakan terbatas hanya dengan cara penangkapan atau pengumpulan data alam saja, sehingga lama kelamaan  dapat mengalami penurunan populasi dan dikhawatirkan akan punah. Agar dapat dimanfaatkan secara intensif dan berkesinambungan, perlu dikembangkan usaha budidayanya.
Beberapa jenis Chlorophyta dan Phaerophyta juga mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian yang dilakukan pakar Indonesia maupun pakar asing. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa Sargassum, Hormophysa, dan Turbinaria (ketiganya termasuk Phaeophyta) mengandung bahan kimia algin; sedangkan beberapa jenis Chlorophyta, seperti Ulva, Caulerpa, dan Enteromorpha telah dimanfaatkan masyarakat pesisir sebagai makanan sayuran atau makanan ternak dan ikan.

Jenis-Jenis Rumput Laut

Jenis-jenis Rumput laut (Ganggang)
Ganggang yang sering disebut rumput laut oleh para petani adalah jenis tanaman tingkat rendah. Hal ini dikatakan demikian karena tanaman ini tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Meskipun kita lihat bahwa ganggang sepertinya memiliki batang dan daun, tetapi sebenarnya itu hanyalah thalus belaka.
Manusia mengklasifikasikan ganggang berdasarkan warnanya. Oleh karena itu, ganggang diklasifikasikan sebagai berikut.
1.     Gangang hijau (Chlorophyceae)
2.     Ganggang biru hijau (Cyanophyceae)
3.     Ganggang coklat (Phaeopyceae)
4.     Ganggang merah (Rhodophyceae)

1.     Ganggang hijau (Chlorophyceae)
Ganggang ini disebut ganggang hijau karena memang berwarna hijau. Ganggang ini hanyalah mempunyai sel warna berupa chlorophyl.
Pada umumnya, ganggang hijau hidup sebagai plankton, baik pada air tawar, air payau, maupun air laut. ganggang ini merupakan sumber makanan alami bagi ikan yang hidup di alam.

2.     Ganggang Biru (Cyanophyceae)
Ganggang biru sangat dekat kelasnya dengan bakteria, karena merupakan organisme kecil yang bersel tunggal. Kumpulan ganggang ini berwarna biru atau hijau kebiruan.
Beberapa jenis ganggang biru hijau yang hidup di air payau adalah Oscillatoria dan Phormidium. Mereka hidup membentuk kelompok di tambak, dan merupakan makanan alami utama bagi ikan bandeng di tambak air payau. Ganggang biru hijau sebagai mana ganggang hijau banyak hidup di air tawar.

3.     Ganggang Coklat (Phaeopyceae)
Lain halnya dengan ganggang hijau dan ganggang biru hijau, ganggang coklat dan ganggang merah hampir secara eksklusif merupakan habitat laut. Ganggang inilah yang banyak disebut orang sebagai rumput laut. Ganggang coklat memiliki anggota tubuh seperti batang yang mengeras agar dapat menahan arus gelombang laut. Ada pula ganggang yang memiliki daya tempel yang tinggi terhadap batukarang dan sejenisnya sehingga kokoh pada tempatnya. Contoh ganggang itu adalah Labi-labi (turbinari conoides) dan ribbon kelp (laminaria).
Selain hidup menempel pada benda-benda laut, ganggang coklat ada yang hidup mengambang di permukaan laut. Mereka mampu mengambang karena memiliki semacam pelampung. Contoh ganggang ini adalah Sargassum siliquosum.
























Gambar 2.2. Berbagai jenis ganggang coklat
















Turbinaria dan Sargassum

Gambar 2.3. Berbagai jenis ganggang coklat.

4.     Ganggang Merah (Rhodophyceae)
Ganggang merah juga hidup di laut. Ganggang ini memiliki jenis yang banyak sekali. Bahkan dari jenis inilah agar-agar dan karagin banyak dihasilkan. Adapun jenis-jenisnya adalah sebagai berikut.
a.     Kelompok penghasil agar-agar (agarophyt)
1)     Gracilaria
2)     Gelidium
3)     Ahnfeltia
4)     Pterocladia
5)     Acanthopeltis
b.     Kelompok penghasil karagin (Carrageenophyt)
1)     Chondrus
2)     Eucheuma
3)     Gigantina
4)     Hypnea




















Gambar 2.4. Berbagai jenis ganggang merah (Rhodephyceae)

Habitat dan Sebaran Rumput Laut di Indonesia

Habitat dan Sebaran
1.     Habitat
Di dasar laut, rumput laut hidup menempel pada benda-benda padat, seperti batu dan karang mati. Selain itu, rumput laut dapat menempel pada rumput lainnya. Alat penempelnya pun bervariasi. Ada yang menggunakan cakram pelekat. Contohnya adalah Gracilaria. Ada pula yang yang menggunakan stolon merambat. Contohnya adalah Caulerpa.
Rumput laut hidup di daerah pasang surut hingga kedalaman beberapa meter. Namun, daerah tersebut masih tertembus oleh cahaya matahari. Keberadaannya masing-masing jenis tumbuhan ini sangat bergantung pada berbagai faktor oseanografis, seperti sifat fisika, sifat kimia, dan dinamika perairan.

2.     Sebaran Rumput Laut di Indonesia
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki perairan pantai yang sangat baik dan juga memiliki posisi strategis sebagai penghasil rumput laut. Kita tahu bahwa rumput laut memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Namun, jika kita hanya mengandalkan produksi dari alam, tentunya rumput laut akan habis juga. Untuk itu, setelah melihat peluang tersebut, diperlukan usaha untuk meningkatkan sumber daya hayati perairan yang masih rendah produktifitasnya. Salah satu caranya yaitu dengan pembudidayaan.












Gambar 2.1. Peta strategis daerah budidaya rumput laut.

Lahan peraian Indnesia yang potensial telah mendorong para petani dan pengusaha untuk membudidayakan rumput laut. Usaha budidaya ini berkembang di beberapa daerah, seperti Bali, NTB, NTT, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Riau Kepulauan, Lampung Selatan, dan Maluku Utara.

Mengenal dan produksi rumput laut

Rumput laut (seaweed) adalah algae (ganggang) makroskopis
    yang hidup di dasar laut. Istilah rumput laut, umumnya digunakan oleh para nelayan dan dunia perdagangan. Sebenarnya, penamaan ini kurang tepat. Hal ini karena dalam  sistem klasifikasi tumbuhan, rumput laut tidak termasuk ke dalam  suku Gramineae (rumput-rumputan), melainkan dalam kelompok Algae (ganggang).

A.     Bentuk Rumput laut
Dilihat dari bentuknya, rumput laut sangat mirip dengna rumput-rumputan yang tumbuh di darat. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih teliti, rumput laut tidak memiliki perbedaan yang jelas antara susunan kerangka, antaralain: akar, batang, dan daun. Berbeda halnya dengan rumput-rumputan yang jelas mana akar, batang, dan daunnya.
Keseluruhan cabang tumbuhan rumput laut disebut thallus. Namun, ada pula rumput laut yang mempunyai bentuk kerangka tubuh menyerupai tumbuhan rumput-rumputan, yaitu berakar, berbatang, dan berdaun, bahkan berbuah. Contoh rumput laut tersebut adalah Sargassum.
Bentuk thalus rumput laut  sangat beragam. Ada yang bulat seperti tabung. Ada yang berbentuk pipih dan gepeng. Ada yang bebentuk bulat seperti kantung. Bahkan, ada pula yang berbentuk seperti rambut.
B.     Produksi
Produksi rumput laut yang utama, terutama ditujukan untuk menghasilkan agar-agar dan karagin (karaginan).
Agar-agar diekstrak dari kelompok Agarophyt, yaitu dari kelas Rhodopyceae, yang antara lain adalah jenis Gracilaria, Gelidium, Ahnfeltia, Pterocladia, dan Acanthopeltis.
Karaginan diekstrak dari kelompok Carrageenophyt yang juga termasuk kelas Rhodophyceae dari jenis Eucheuma, Gracilaria, Gelidium, dan Hypnea.
Dari beberapa jenis agar tersebut di atas, yang terpenting adalah jenis eucheuma sp, karena sekitar 90% dari volume ekspor rumput laut di Indonesia adalah dari jenis tersebut.
Jenis Eucheuma ini sudah lama dibudidayakan orang karena mempunyai nilai ekonomis sebagai bahan ekspor. Carragenaan atau karagin banyak dipergunakan sebagai bahan pengental  dan juga sebagai bahan pengimbang yang antara lain dipergunakan pada produksi berbagai macam makanan dan pasta gigi, industri farmasi, tekstil, industri karet, dan industri kertas.
Untuk memenuhi semua bahan baku industri tersebut, jumlah produksi Eucheuma sp tidak dapat diharapkan hanya dari hasil pemetikan alam saja, melainkan perlu membudidayakannya.
Secara alami Eucheuma spinosum tumbuh di daerah karang, pasang surut dan menempel pada subtrat yang berupa batu karang mati, kulit kerang, dan benda-benda keras lainnya.